KABARIKA.ID, MAKASSAR – Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ir. H. Yusran Jusuf, M.Si., IPU, mengingatkan bahwa keberlangsungan kehidupan manusia sangat bergantung pada kualitas tanah dan sumber daya air. Menurutnya, sekitar 95 persen kebutuhan pangan dunia berasal dari tanah, sehingga upaya konservasi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut disampaikan Prof Yusran saat membuka Focus Group Discussion (FGD) dan Musyawarah Pengurus MKTI Sulawesi Selatan bertema “Penguatan Sinergi Multipihak dalam Konservasi Tanah dan Air untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan di Sulawesi Selatan”, yang berlangsung di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Sabtu (27/6/2026).
“Kelangsungan hidup planet kita sangat bergantung pada hubungan manusia dengan tanah. Sebanyak 95 persen makanan yang kita konsumsi berasal dari tanah. Tanah juga menyediakan 15 dari 18 unsur kimia penting yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh,” ujar Prof Yusran.
Ia menegaskan, konservasi tanah dan air tidak lagi dapat dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah semata. Menurutnya, tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan hanya dapat diatasi melalui kolaborasi lintas sektor.
“Karena itu dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi profesi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat agar upaya konservasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang,” katanya.
FGD tersebut merupakan hasil kerja sama MKTI Sulawesi Selatan dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Saddang, serta Dewan Kehutanan Nasional (DKN). Kegiatan dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, praktisi, organisasi profesi, dan pemerhati lingkungan.
Ketua Panitia, Dr. Ir. Hasanuddin Molo, S.Hut., ST., M.P., IPM., C.EIA, menjelaskan bahwa forum tersebut menjadi wadah memperkuat kolaborasi multipihak dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, kegiatan itu bertujuan membangun sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan organisasi profesi dalam konservasi tanah dan air, mengidentifikasi berbagai isu strategis pengelolaan lingkungan, merumuskan rekomendasi kebijakan serta program kerja MKTI, sekaligus mengevaluasi dan menyusun agenda organisasi ke depan.
Selain itu, forum tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam mendukung pelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan.
FGD menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan daerah, di antaranya Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan RI sekaligus Ketua Dewan Kehutanan Nasional, Dr. Ir. Mahfudz, M.P., Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan Ir. Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., Kepala BPDAS Jeneberang Saddang Abdul Aziz, S.Hut.T., M.Sc., Prof. Yusran Jusuf, Prof. Dr. Ir. Hazairin Subair, M.S. selaku pakar konservasi tanah dan air, serta Dr. Abd. Rahman Nur, S.H., M.H. dari Dewan Kehutanan Nasional.
Usai pelaksanaan FGD, kegiatan dilanjutkan dengan Musyawarah Pengurus MKTI Sulawesi Selatan yang membahas penguatan kelembagaan organisasi, pengembangan keanggotaan, penyusunan program kerja periode 2026–2027, serta penetapan berbagai rekomendasi strategis sebagai arah gerak organisasi dalam mendukung konservasi tanah dan air di Sulawesi Selatan.
Prof Yusran berharap hasil diskusi dan musyawarah tersebut tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas, tetapi dapat diwujudkan melalui program nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan di Sulawesi Selatan. (*)
