Oleh: Munawir Kamaluddin

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap empat tahun, miliaran manusia terpaku menyaksikan Piala Dunia. Sebelum sebuah tim mengangkat trofi juara, mereka harus melewati babak penyisihan, babak gugur, perempat final, semifinal, hingga akhirnya berdiri di partai final. Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan, tidak ada juara tanpa pengorbanan, dan tidak ada trofi tanpa air mata.

Bukankah kehidupan manusia juga demikian?. Masa muda adalah babak penyisihan. Pada fase inilah karakter dibentuk, ilmu dituntut, iman diuji, dan masa depan mulai dipertaruhkan. Masa dewasa adalah semifinal. Di sinilah seseorang mulai memikul amanah sebagai suami atau istri, menjadi ayah atau ibu, mencari nafkah, mendidik anak, membangun rumah tangga, serta menghadapi kerasnya ujian kehidupan. Lalu tibalah usia senja, yaitu babak final kehidupan. Pada fase inilah kemenangan sejati dipertaruhkan. Yang menentukan bukan lagi seberapa banyak harta yang dikumpulkan atau jabatan yang pernah diraih, melainkan bagaimana seseorang menutup hidupnya dengan iman, amal saleh, dan husnul khatimah.

Karena itu, bercinta di usia senja bukan lagi sekadar menikmati hari-hari terakhir bersama pasangan. Bercinta di usia senja adalah saling menggenggam tangan agar tidak ada yang tertinggal menuju surga. Jika dahulu saling membangunkan untuk bekerja, kini saatnya saling membangunkan untuk tahajud. Jika dahulu sibuk memikirkan cicilan rumah, kini saatnya memperbanyak bekal menuju rumah di surga. Jika dahulu berlomba membangun masa depan anak-anak, kini saatnya berlomba mempersiapkan masa depan yang kekal di akhirat. Sebab cinta yang paling agung bukanlah cinta yang mampu bertahan sampai maut memisahkan, tetapi cinta yang tetap dipertemukan Allah setelah maut memisahkan.

Allah SWT. berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
“Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mempertemukan mereka dengan keturunannya.” (QS. At-Tur: 21).

Ayat ini menghadirkan harapan yang luar biasa. Rumah tangga yang dibangun di atas iman tidak hanya berpeluang bahagia di dunia, tetapi juga dipertemukan kembali di surga.

Lihatlah Nabi Ibrahim AS. dan istrinya, Sarah. Ketika usia mereka telah renta dan harapan memiliki anak hampir mustahil menurut ukuran manusia, Allah justru menganugerahkan Nabi Ishaq. Seolah Allah ingin mengajarkan bahwa rahmat-Nya tidak pernah dibatasi oleh usia, dan pertolongan-Nya tidak pernah tunduk kepada logika manusia.

Lihat pula Nabi Zakaria AS. dan istrinya. Rambut telah memutih, tulang melemah, tetapi harapan mereka kepada Allah tidak pernah menua. Nabi Zakaria berdoa:
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sedangkan Engkaulah sebaik-baik Pewaris.” (QS. Al-Anbiya’: 89).

Allah pun berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ
“Lalu Kami memperkenankan doanya, Kami menganugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami memperbaiki keadaan istrinya.” (QS. Al-Anbiya’: 90).

Perhatikanlah, sebelum Allah menghadiahkan keturunan, Allah terlebih dahulu memperbaiki pasangan hidupnya. Seakan-akan Al-Qur’an mengajarkan bahwa keberkahan rumah tangga dimulai dari hati suami dan istri yang sama-sama diperbaiki oleh Allah.

Tidak kalah menggetarkan adalah kisah Nabi Ayyub AS.Ketika beliau kehilangan harta, kehilangan anak-anak, dan bertahun-tahun menderita penyakit yang berat, hampir semua orang meninggalkannya. Namun, istrinya tetap setia mendampingi, merawat, dan menguatkan. Kesetiaan itu tidak lahir karena kekayaan, tetapi karena keimanan. Setelah kesabaran mencapai puncaknya, Allah mengembalikan kesehatan, keluarga, dan keberkahan yang jauh lebih besar. Bukankah cinta sejati baru benar-benar terlihat ketika tidak ada lagi yang dapat dibanggakan selain kesetiaan kepada Allah?

Begitu pula rumah tangga Rasulullah SAW. dan Sayyidah Khadijah RA. Ketika Rasulullah pulang dengan tubuh gemetar setelah menerima wahyu pertama, Khadijah tidak menyalahkan, tidak meremehkan, dan tidak meninggalkan beliau. Ia menenangkan, menguatkan, dan menjadi sahabat perjuangan. Itulah cinta yang tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh iman, pengorbanan, dan keyakinan kepada Allah.

Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menjadikannya terus beramal saleh hingga akhir hayatnya.” (HR. Ahmad).

Demikian pula nasihat Al-Hasan Al-Bashri:
إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkurang pula bagian dari umurmu.”

Karena itu, usia senja bukanlah masa untuk menghitung keriput di wajah, tetapi menghitung amal yang akan dibawa menghadap Allah. Bukan lagi saat mengungkit kesalahan pasangan, tetapi memperbanyak kata maaf. Bukan lagi memperbesar ego, tetapi memperbesar kasih sayang. Jangan sampai kita memenangkan banyak pertandingan dunia, tetapi kalah pada pertandingan terakhir yang menentukan.

Lalu bagaimana dengan mereka yang belum memiliki pasangan? Jangan pernah berputus asa. Kisah Nabi Zakaria membuktikan bahwa Allah mampu menghadirkan kebahagiaan ketika manusia mengira semuanya telah terlambat. Teruslah memperbaiki diri, menjaga kehormatan, memperbanyak doa, dan bertawakal. Sebab Allah tidak pernah terlambat memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.

Akhirnya, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Jika hari ini peluit terakhir kehidupan ditiup, sudahkah kita siap berdiri di hadapan Allah sebagai pemenang? Sudahkah pasangan kita menjadi sahabat yang saling menggandeng menuju surga? Sudahkah anak-anak melihat rumah tangga yang dipenuhi cinta, doa, dan keteladanan? Ataukah kita terlalu sibuk mengejar trofi dunia hingga lupa mempersiapkan trofi abadi di akhirat?

Sesungguhnya, final kehidupan jauh lebih penting daripada final Piala Dunia. Juara Piala Dunia hanya dikenang oleh sejarah, tetapi pemenang di sisi Allah akan disambut oleh para malaikat dengan kabar gembira dan memperoleh kenikmatan yang tidak pernah berakhir.

Maka, mari jadikan usia senja sebagai babak paling indah, bukan karena tubuh masih kuat, tetapi karena hati semakin dekat kepada Allah, cinta semakin tulus, dan langkah semakin mantap menuju husnul khatimah.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْمَعْنَا مَعَ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا فِي جَنَّاتِ الْفِرْدَوْسِ، وَارْزُقْ مَنْ لَمْ يَتَزَوَّجْ زَوْجًا صَالِحًا وَزَوْجَةً صَالِحَةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami penutup kehidupan yang terbaik. Jadikanlah amal terbaik kami berada di akhir usia kami. Jadikan rumah tangga kami dipenuhi cinta dan kasih sayang, satukan hati kami dalam ketaatan kepada-Mu, pertemukan kami bersama pasangan dan keturunan kami di Surga Firdaus, serta anugerahkan kepada mereka yang belum menikah pasangan yang saleh dan salehah. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

#Wallahu A’lam Bishawab🙏
SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin