KABARIKA.ID, MAKASSAR – Untuk mengisi tausiah hari ke-14 Ramadan setelah salat Ashar, panitia amaliah Ramadan PP IKA Unhas dan PT Tiran Group mengundang ustad Nurdin Mappa yang merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Makassar untuk memberikan siraman rohani, di musalah AAS Building lantai 1, Makassar, Rabu (5/04/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika memulai ceramahnya, ustad Nurdin mengatakan bahwa hidayah Allah itu diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini sesuai ayat Al-Qur’an yang menyebutkan, “Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) kepada siapa yang Dia kehendaki….” (Q.S. [2]: 272)

Berdasarkan ayat tersebut, boleh jadi bukan orang tua atau bapak kita yang menjadikan kita beriman. Sebab banyak orang yang sama akidah, tetapi anaknya tidak mendapat hidayah.

Jamaah salat Ashar menyimak tausiah dari penceramah.

Hal itu berlaku umum, termasuk di kalangan para nabi. Oleh karena itu, jangan heran kalau anaknya Nabi Nuh tidak sempat beriman.

Ada yang bapaknya kiyai, tapi anaknya teyai (tidak mengikuti perintah agama-red). Itu karena persoalan hidayah, bukan bapaknya yang memberikan hidayah. Sekalipun bapaknya memaksakan, tetapi kalau Allah tidak menghendaki, maka tidak jadi juga.

Kita patut mensyukuri kalau kita mendapat secercah hidayah, semoga Allah semakin menambahkan hidayah-Nya kepada kita, terutama di bulan Ramadan ini. Iman yang ada dalam hati itu naik turun.

Dalam ajaran Islam kita diperintahkan untuk menyebarkan salam kepada sesama, dan menjalin persaudaraan.

Hadits Rasulullah dari Abdullah bin Salam berkata, bahwasanya saya mendengar Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian manusia serbarkanlah salam di antara kamu”.

Memberi salam itu adalah perintah nabi, karena perintah nabi maka itu adalah ibadah. Karena ibadah, maka salam itu tidak boleh dicampur dengan salam-salam yang lain. Prinsip ibadah itu adalah lakum diinukum walyadiin.

Menyebarkan salam di antara kita adalah doa. Semakin banyak orang yang kita ketemu dan memberi salam, berarti semakin banyak orang yang saling mendoakan. Salah satu variabel untuk masuk surga adalah siapa yang paling banyak menyebarkan salam.

Salam juga itu menjadi perekat antara kita dengan yang lain. “Walaupun kita baku marah sedikit dengan orang lain, tapi kalau kita mengucapkan salam (assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) kepadanya, kalau dia paham bahwa menjawab salam itu wajib, maka pasti dia menjawab,” ujar ustad.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman. Dan kamu tidak adakan beriman hingga kamu saling mencintai (menyayangi, menghormati) sesama. Apakah kamu ingin kutunjukkan satu cara yang dengan itu kamu saling mencintai? Sebarkan salam di antara kamu.”

Ini adalah konsep nabi dalam mempertautkan hati dengan yang lain. Menurut riwayat, kalau para sahabat nabi berjalan dan tiba-tiba dipisahkan pohon atau batu, begitu bertemu kembali langsung memberi salam, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jamaah salat Ashar menyimak tausiah dari penceramah.

Bagian akhir surah Az-Sumar (39) ayat 73, menggambarkan ketika para calon penghuni surga berdiri di depan pintu surga dan saling memberi salam. Saat calon penghuni surga mengucapkan salam, maka pintu surga langsung terbuka.

Penjaga surga kemudian berkata, “Keselamatan atas kamu masuklah ke dalam surga dan kamu kekal di dalamnya”.

“Itu berarti salam di dunia ini berlaku juga di akhirat,” kata ustad Nurdin.

Al Qur’an juga mengingatkan kita supaya tidak masuk ke dalam rumah orang lain tanpa mengucapkan salam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (Q.S. an-Nur [24]: 27).

Inilah tuntunan Islam mengenai penggunaan salam yang perlu kita sebarluaskan. Hendaknya tidak dicampuradukkan dengan salam semua agama, karena itu bisa merusak akidah.

Memang kelihatannya hanya ucapan. “Tapi ingat, ucapan dalam Islam itu tida boleh sembarangan. Seseorang sah nikahnya karena ucapan. Jatuhnya talak dan putusnya pernikahan karena ucapan. Jadi jangan anggap enteng itu ucapan,” tandas ustad.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita salam dan salam yang digunakan adalah assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nabi juga menekankan agar kita menjalin silatirahmi dan menyambung persaudaraan. (rus)