Presiden Joko Widodo Mengharapkan Muhammadiyah Terus Menyebarkan Islam Berkemajuan yang Penuh Nilai-nilai Toleransi

Berita923 Dilihat

KABARIKA.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih kepada Muhammadiyah dan Aisyiyah atas perannya dalam penanganan pandemi Covid-19. “Di forum yang sangat terhormat ini, pertama, saya ingin menyampaikan terima kasih atas dukungan keluarga besar Muhammadiyah dan keluarga besar Aisyiyah dalam membantu penanganan pandemi Covid-19 dalam tiga tahun terakhir. Terima kasih,” ujar Presiden Joko Widodo.

Pernyataan Presiden Jokowi itu disampaikan dalam pidatonya saat membuka Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah tahun 2022 di Stadion Manahan Solo, Sabtu (19/11/2022).

“Terima kasih telah menggerakkan lebih dari 120 rumah sakit Muhammadiyah dan 235 klinik kesehatan milik Muhammadiyah yang aktif dalam mengedukasi masyarakat, serta dalam pengobatan dan vaksinasi selama pandemi,” ujar Presiden Jokowi.

Dalam menghadapi kompetisi global yang meningkat, lanjut Presiden Jokowi, kita harus fokus pada peningkatan kualitas SDM dan penguasaan Iptek.

“Terima kasih kepada keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah, yang telah berkontribusi besar meningkatkan kualitas SDM bangsa melalui lebih dari 170 perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah dan juga 1.364 SMA sederajat, 1.826 SMP sederajat, 2.817 SD sederajat dan juga 20.233 TK, PAUD, dan kelompok bermain yang dimiliki oleh Muhammadiyah dan Aisyah, dan juga 440 pesantren, di seluruh Indonesia,” tutur Presiden Jokowi.

Melalui lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah dan Aisyiyah, Presiden Jokowi mengharapkan Muhammadiyah dan Aisyiyah terus menyebarkan Islam yang berkemajuan, Islam yang penuh dengan nilai-nilai toleransi, Islam yang menjaga persatuan, Islam yang menjaga persaudaraan dan perdamaian sesuai dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Ruang syiar Islam di Indonesia itu sangat terbuka lebar, dibandingkan dengan negara-negara muslim di Asia Tenggara maupun di Timur Tengah,” tandas Presiden Jokowi.

Tema Muktamar ke-48 Muhammadiyah adalah “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”.

Agenda Dakwah dan Tajdid Muhammadiyah

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dalam pidato iftitahnya pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah di gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menekankan bahwa Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi Islam terbesar dan tertua yang mampu bertahan hingga hari ini.

Meskipun demikian, Muhammadiyah juga menghadapi berbagai tantangan yang bersifat lokal, nasional, dan global.

Terkait hal itu, Haedar Nashir menyebut sejumlah agenda dakwah dan tajdid yang perlu menjadi perhatian khusus dalam lima tahun ke depan, agar Muhammadiyah dapat menjadi kekuatan strategis yang berpengaruh dalam memimpin masa depan umat dan bangsa.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pidato iftitah pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah di gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Pertama, peneguhan paham keislaman dan paham ideologi Muhammadiyah. “Ideologi itu perlu ditanamkan secara simultan dan menyeluruh,” ujar Haedar.

Muhammadiyah telah memiliki pandangan keislaman dan pemikiran-pemikiran kemuhammadiyahan yang baku dalam berbagai aspek kehidupan, seperti Manhaj Tarjih, Muqaddimah ADM, Kepribadian, MKCH, GJDJ, Khittah, PHIWM, Dakwah Kultural, Pernyataan Abad Kedua, Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah, dan lain-lain.

Pemikiran-pemikiran keislaman dan Kemuhammadiyahan tersebut merupakan landasan ideologis yang menjadi karakter khas dan pembeda Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dibanding dengan gerakan yang lain.

Kedua, perluasan dan penyebarluasan pandangan Risalah Islam Berkemajuan. Risalah Islam Berkemajuan yang disusun oleh tim PP Muhammadiyah ini perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah arus baru kehidupan sehari-hari sebagai reaksi atas era disrupsi, globalisasi, dan modernitas yang dianggap mengancam keberagamaan atau keislaman, Muhammadiyah penting mengisi ruang sosiologis keislaman yang berwawasan pencerahan dan berkemajuan agar umat dan warga bangsa memperoleh bimbingan, panduan, dan arah keislaman yang tetap berada dalam koridor Islam sejalan pandangan Muhammadiyah.

“Muhammadiyah penting hadir secara aktif dalam menyebarluaskan dan menawarkan orientasi religius Islam, yang di satu pihak dapat menjadi obat penawar kehausan beragama dalam tubuh umat yang benar secara akidah dan ibadah, tetapi juga mampu membimbing umat dalam akhlak dan muamalah yang dinamis, mencerahkan, dan berkemajuan,” kata Haedar.

Ketiga, memperkuat dan memperluas basis umat di akar rumput. Muhammadiyah tidak mengandalkan massa yang besar, tetapi kualitas yang hebat.

“Dalam konteks dakwah Islam sebagai strategi kebudayaan, penting bagi Muhammadiyah mereaktualisasikan Dakwah Kultural dan Dakwah Komunitas agar dibangun suatu peta jalan (road map) untuk pengembangan Muhammadiyah dalam struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan tengah menghadapi perubahan besar,” papar Haedar.

Keempat, pengembangan amal usaha unggulan dan kekuatan ekonomi. “Kita sungguh bersyukur berbagai amal usaha Muhammadiyah tumbuh mekar. Tiada hari tanpa peresmian gedung dan peletakan batu pertama. Amal usaha menjadi jalan untuk berdakwah,” tandas Haedar.

Menurutnya, diperlukan peta jalan pengembangan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah yang unggul-berkemajuan. Segenap sumber daya dan usaha mesti difokuskan pada strategi meraih keunggulan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Kelima, berdakwah bagi Milenial, Generasi Z dan Generasi Alpha. Muhammadiyah saat ini berada dalam era menghadapi generasi baru yang dikenal sebagai generasi milenial (generasi Y), generasi Z, dan Post-Z atau generasi Alpha. Jumlah mereka secara sensus, mencapai 60 persen.

“Bagaimana Muhammadiyah hadir ke kelompok milenial ini. Kita punya sekolah, tetapi belum punya pengalaman yang memadai dalam menghadapi generasi baru itu,” tutur Haedar.
.
Keenam, reformasi kaderisasi dan diaspora kader ke berbagai lingkungan dan bidang kehidupan. Muhammadiyah saat ini berfastabiqul-khairat dengan berbagai pihak dalam mengisi ruang struktur dan ekosistem kehidupan dengan menempatkan kader-kadernya yang berintegritas dan berkeahlian dalam berbagai aspek kehidupan.

“Para kader Muhammadiyah dengan integritas iman, kepribadian, dan nilai-nilai utama yang diajarkan Islam dan tradisi Kemuhammadiyahan, harus mampu berdiaspora di berbagai lapangan dan ranah kehidupan,” tegas Haedar.

Ketujuh, digitalisasi dan intensitas internasionalisasi Muhammadiyah. Digitalisasi merupakan proses yang niscaya bagi Muhammadiyah saat ini dan ke depan, sebagai proses pengalihan informasi dalam bentuk analog ke bentuk digital.

“Proses digitalisasi juga menjadi penting, satu paket dengan gerakan literasi Muhammadiyah untuk mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” urai Haedar.

Aisyiyah dan Perempuan Berkemajuan

Ketua umum PP Aisyiyah juga menyampaikan pidato pada pembukaan Muktamar ke-48 Aisyiyah. Siti Noordjannah Djohantini dalam pidatonya menegaskan bahwa Aisyiyah terus mendorong perempuan memajukan kehidupan dan peradaban bangsa.

Tema Muktamar ke-48 Aisyiyah adalah “Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban Bangsa”.

Siti Noordjannah mengatakan, spirit tema itu tidak terlepas dari perjuangan yang telah dilakukan selama satu abad. Organisasi Aisyiyah menjalankan sejumlah agenda strategis untuk menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini menyampaikan pidato pada pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah Solo di Stadion Manahan Solo, Sabtu (19/11/2022).

Ia menyebutkan, Aisyiyah berupaya membangun bangsa melalui pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta pembinaan keagamaan. Meski demikian, Siti Noordjannah mengakui bahwa Aisyiyah menghadapi tantangan dan permasalahan yang semakin kompleks dalam kehidupan setelah satu abad.

“Untuk menghadapi sejumlah tantangan, Aisyiyah menyiapkan pemikiran-pemikiran dan agenda strategis organisasi yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan,” papar Siti Noordjannah.

Salah satu pembahasan pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah ini adalah risalah perempuan berkemajuan. Pandangan Aisyiyah tentang perempuan berkemajuan adalah alam pikiran dan kondisi kehidupan perempuan yang maju dalam segala aspek kehidupan tanpa mengalami hambatan dan diskriminasi, baik secara struktural maupun kultural sejalan dengan ajaran Islam.

“Perempuan berkemajuan dalam pandangan Islam adalah kehidupan perempuan yang memiliki derajat dan perlakuan yang sama mulia dengan laki-laki tanpa diskriminasi. Ukuran kemuliaan terletak pada ketakwaan, iman, ilmu, dan amal saleh,” jelas Siti Noordjannah.

Agenda lain Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah memilih pengurus pusat untuk masa bakti 2022-2027. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *