Citra Wahyuni: Kami Butuh Kapal Tangkap

BINCANG SANTAI BERSAMA KETUM IKA UNHAS ANDI AMRAN SULAIMAN

Berita528 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR—Usaha Mikro Kecil dan menengah, milik Citra Wahyuni menjadi perhatian sekaligus role model yang cocok dibedah pada Temu Bisnis UMKM AAS Foundation dan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin, Sabtu (28/2023).

Pada acara ‘’Ngobrol Santai’’ bareng Ketua Umum IKA Unhas, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P (AAS) terungkap UMKM perlu perhatian khusus yang konkret sehingga pelaku usaha ini bisa naik kelas.

‘’Contohnya Ibu Citra ini. Kita harus menciptakan pelaku UMKM seperti Bu Citra. Jumlahnya seratus, seribu bahkan sejuta,’’ kata Andi Amran, setelah mendengar uraian usaha perikanan yang dilakoni wanita enerjik ini, Jumat (27/1) di AAS Building.

“Ngobrol Santai” bersama Ketum Andi Amran ini dihadiri, RCEO Bank BRI Makassar, Rahman Arif, Pimpinan Cabang Bank BRI Panakukang Bhakti Agung Siswasto, Sekretaris Dinas Perdagangan Indrajaya, Sekjen Prof Yusran Jusuf serta Waketum dan pengurus harian lainnya.

Pada pertemuan yang berlangsung santai ini, AAS menyampaikan berbagai hal berkaitan strategi menciptakan sejuta UMKM dengan membedah persoalan yang selama ini membelit mereka.

Setelah Temu Bisnis UMKM dan Business Matching, AAS Foundation-IKA Unhas akan melakukan Bedah UMKM dan menyiapkan satu lantai di AAS Building sebagai sentra UMKM.

“Bedah UMKM ini kita mulai jadwal pertemuan sekali dalam dua sebulan, lalu seminggu sekali dan akhirnya setiap hari. Waktunya bisa sampai malam dan kalau perlu 24 jam,” ujar AAS.

Owner Tiran Group ini, mengungkapkan bahwa dalam Bedah UMKM ini bisa diselesaikan berbagai persoalan atau penyakit UMKM dari hulu ke hilir. ”Kita libatkan alumni dan para ahli yang sudah berpengalaman. Kita perbaiki UMKM untuk jadi kaya. UMKM naik kelas,” ujar AAS.

Persoalan umum UMKM, sekarang ini berkaitan dengan bahan baku, kualitas produksi, harga, kemasan dan pemasaran, kontinuitas, volume, termasuk cold storage, seperti halnya yang dialami Citra Wahyuni.

‘’Banyak cold storage yang mangkrak, sementara nelayan butuh pendingin supaya ikan tetap segar selama di pelabuhan,” kata Citra, saat pertemuan.

Itu sebabnya, tambahnya salah satu persoalan yang dihadapi adalah ketersediaan ikan segar hasil tangkapan kapal dan nelayan, seperti ikan layang, bannyara, dan cakalang.

Dengan kondisi yang ada sekarang, dalam sebulan, lanjut Citra, perusahaan miliknya PT Lontara Jaya Sejati hanya mampu menangkap ikan 15 ton dua kali dalam sebulan. ‘’Kami juga membeli hasil tangkapan nelayan dan mengirim ikan ke Muara Baru dua kali dalam sebulan dengan kontainer 20 feet yang memuat 17 ton ikan,’’ kata Citra.

Ia berharap dengan kegiatan Temu Bisnis UMKM sebagai pra Business Matching, perusahaannya dapat memperbesar volume ikan yang ditangkap dengan menambah kapal. ‘’Kalau ada tambahan modal saya akan membeli tiga puluh kapal, sehingga setiap hari kami dapat mengirim ikan ke berbagai tempat termasuk ekspor,’’ ujar Citra, saat bertemu dengan Sekjen Yusran Jusuf, Salahuddin Alam dan Ilham Rasyid.

Kapal tangkap bertonase 30 GT, kata Citra harganya Rp1,3 miliyar dibuat di Batulicin, Kalimantan. ‘’Tidak lamaji dibuat. Pendanaannya bisa melalui bank atau kerjasama IKA UNHAS-AAS,’’ kata Citra yang memiliki satu kapal tangkap.

Bila kapal penangkap ikan PT. Lontara Jaya Sakti bertambah, jelas Citra maka jumlah tenaga yang diserap pada ekosistem akan berpuluh kali lipat. Sekarang ini, tenaga yang terlibat dalam ekosistem mencapai 450 hingga 500 orang. Mulai dari awak kapal, buruh angkut, sortir ikan, cold storage, nelayan binaan hingga tenaga administrasi. Mereka yang bekerja di ekosistem ini termasuk ibu rumahtangga.

Dari profile company yang disampaikan ke panitia Temu Bisnis UMKM, PT Lontara Jaya Sakti dari Pelabuhan Untia Makassar mengekspor ikan segar untuk USA, China, Jepang, Arab Saudi, ubai dan beberapa negara lainnya. Untuk pasar domestik ikan segar hasil tangkapannya ddikirim ke Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan, swalayan dan kelompok pemindang dan koperasi.

Pada sesi dialo “Bincang Santai” juga terungkap bahwa perlu dilakukan pembinaan berdasarkan ekosistem, misalnya ekosistem penangkapan ikan.

“Semua yang terkait di dalam klaster ekosistem penangkapan ikan dibedah dan dibenahi dari hulu ke hilir. Akar persoalan di mana. Kita libatkan bank, pemerintah, IKA Unhas, AAS Foundation. Kita keroyok menyelesaikan persoalan sekaligus diberi akses maupun suntikan modal kalau perlu,” urai AAS.

Menteri Pertanian RI Kabinet Kerja periode 2014 – 2019 ini menilai bahwa karakter dan sikap tangguh kewirausahaan pelaku UMKM sangat penting. Makin besar tantangan dan cobaan yang dihadapi, maka mereka akan semakin tangguh.

Jumlah UMKM di Sulawesi Selatan tahun 2022 sebanyak 1.574.44 terdiri atas skala Mikro sebanyak 1.456.143, skala Kecil 114.748. Menengah 565. 3.185.

“Membangun karakter ini yang lebih dahulu diperkuat dibanding modal. Berarti karakter tangguh dan sikap sebagai orang ingin kaya lebih penting dari sekadar permodalan,” ungkapnya.

Bincang Santai yang dihadiri berbagai pihak ini sangat menarik sehingga tak terasa waktu tiga jam berlalu cepat dan harus ditutup karena memasuki waktu sholat Jumat.

Turut hadir dalam pertemuan antara Waketum Bahrianto Bachtiar, Andi Irwan Patawari, Andi Syahrum Makkuradde, Direktur Eksekutif Salahuddin Alam, Ilham Rasyid, Ayu Kartini Parawansa, Marwan Husein, Suwardi Thahir, Sudirman Numba, M. Ruslan, Syawal Arief, Mursalim Thahir, Fitra, dan pengurus harian lainnya. (este)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *