Business Matching IKA Unhas Membuahkan Hasil, Empat UMKM Asal Makassar Diundang Ikuti Supermarket Expo di Mesir

Berita887 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Kegiatan Business Matching yang diinisiasi IKA Unhas pada 28 Januari 2023 untuk mempertemukan pelaku UMKM asal Sulsel dengan pembeli dari luar negeri, serta Temu Bisnis UMKM pada 4 Febrtuari 2023 untuk mendorong UMKM naik kelas dan memasuki pasar ekspor, mulai membuahkan hasil.

Atase perdagangan KBRI Kairo, Mesir, Irman Adi Purwanto Moefthi, mengndang empat pelaku UMKM asal Makassar untuk menghadiri pameran dagang Supermarket Expo di Kairo, Mesir. Tiga di antaranya menjadi peserta Business Matching dan Temu Bisnis UMKM IKA Unhas, bulan lalu.

“Benar, kami adalah UMKM binaan IKA Unhas. Ada empat perusahaan asal Makassar yang diundang oleh atase perdagangan KBRI Kairo untuk mengikuti pameran dagang Supermarket Expo di Kairo,” tutur Asriyhani, direktur CV Coconut International Indonesia (CII) kepada kabarika.id, Selasa malam (28/02/2023).

Dua UMKM lainnya yang menjadi peserta Business Matching dan Temu Bisnis UMKM yang diudang mengikuti pameran dagang Supermarker Expo pada 15-21 Maret 2023 di Kairo, adalah CV Morisama Sejahtera Indonesia 12 dan CV Luhur Abadi.

Menurut Asriyhani, kegiatan business matching IKA Unhas yang diikutinya, sangat berguna dalam mengembangkan usahanya.

“Dengan adanya business matching kemarin, kami mendapatkan ilmu baru dari pemateri-pemateri luar biasa, yang sangat berguna dalam pengembangan usaha kami,” ujar Asriyhani.

Pihak Kantor Bea Cukai Makassar mempertemukan pembeli teh nipah dari Korea Selatan dengan Direktur CV CII, Asriyhani. (Foto: Ist.)

Saat ke Mesir nantinya, Asriyhani akan membawa produk UMKMnya berupa briket tumpurung kelapa dan teh nipa.

Di negara piramida itu, Asriyhani akan memperkenalkan ke dunia luar, utamanya kepada pebisnis di Mesir bahwa Sulsel mempunyai sumber daya alam yang luar biasa.

“Kami akan difasilitasi oleh atase perdagangan kedutaan besar Indonesia di Mesir untuk bertemu dengan buyer-buyer potensial di sana,” ujar Asriyhani.

Ia berharap, jika produknya diminati pembeli di Mesir, maka akan mendatangkan devisa bagi negara.

Keberangkatannya ke Mesir, ujar Asriyhani, diharapkan menjadi sumber motivasi kepada pelaku UMKM lainnya agar tetap semangat, terus berjuang, dan tidak patah semangat.

Pasang Surut Mengembangkan Usaha

Asriyhani memulai usahnya pada tahun 2004, dengan berjualan kelapa dari daerah ke Makassar. Kemudian melebarkan usahanya dengan membeli kopra dari daerah untuk selanjutnya dijual ke Surabaya. Berbarengan dengan itu, ada permintaan hasil bumi yang lain dari Surabaya.

“Awalnya sangat susah. Sampai saya tidur di atas truk dengan kelapanya. Tapi lama kelamaan semakin berkembang. Saya tetap konsisten pada pekerjaan saya, meskipun ada pasang surutnya,” tutur Asriyhani mengenang pengalamannya merintis usaha.

Saat ini ia megembangkan empat jenis produk, kelapa dan turunannya berupa briket arang tempurung kelapa, coco chip (sabuk kelapa olahan), gula dari tuak pohon lontar, dan teh nipah.

Produk teh nipah telah diekspor perdana sebanyak tujuh ton ke Korea Selatan dengan nilai sebesar 49.000 dolar AS atau setara dengan Rp 686 juta.

Direktur CV CII, Asriyhani foto bersama dengan pembeli teh nipah dari Korea Selatan. (Foto: Ist.)

CV CII yang dipimpin Asriyhani memulai produksi teh nipah saat Kementerian Koperasi dan UMKM mendatangkan pembeli untuk mencari tanaman nipah di Sulsel. Sebelumnya mereka mengambil nipah dari Myanmar.

“Setelah itu kami membawa buyer-nya jalan ke beberapa daerah untuk melihat tanaman nipah yang ada di Sulsel. Akhirnya dia tertarik,” ujar Asriyhani.

Mulai saat itu, Asriyhani diajari cara membuat dan mengolah daun nipah menjadi teh.
Setelah dua tahun barangnya sudah jadi dan siap diekspor.

“Tetapi ternyata ada kendala saat itu, musibah datang. Buyer kami itu tiba-tiba sakit dan meninggal di Korea. Saya sempat patah semangat. Sampai akhirnya kami berusaha mencari buyer lain,” jelas Asriyhani.

Pada saat itu keberadaan kantor bea cukai Makassar bagai dewi fortuna bagi Asriyhani. Sebab kantor bea cukai Makassar memberikan pendampingan luar biasa, sejak awal berusaha mencari bahan baku. Kegiatan sosialisasi juga sangat terbatas.

“Awal-awalnya kami sangat kesusahan untuk sosialisasi. Alhamdulillah, tim bea cukai bergerak cepat ke daerah-daerah untuk mencari tahu dimana terdapat banyak pohon nipah dan menghubungkan kami dengan petani-petaninya agar kami bisa segera ekspor,” tutur Asriyhani.

Ekspor perdana teh nipah produksi CV CII ke Korea Selatan sebanyak tujuh ton senilai 49.000 dolar AS atau setara dengan Rp 686 juta. (Foto: Ist.)

Pembeli teh nipah produksi CII dari Korea Selatan yang meninggal dunia, kemudian Asriyhani ceritakan kepada kepala kantor bea cukai Makassar, Andhi Pramono.

Kepala kantor bea cukai Makassar itu pun segera menelusuri orang-orang dekat yang bersangkutan. Akhirnya ketemu, karena ternyata istri orang Korea tersebut adalah orang Indonesia asal Jawa Tengah.

“Ternyata istrinya itu adalah orang Indonesia dari Jawa Tengah. Kami kontak istrinya, dan ternyata istrinya tidak mengetahui rencana bisnis teh nipah suaminya itu. Dari nomor kontak istrinya itu diperoleh nama teman beliau yang bernama Shoo,” ujar Andi.

Ternyata, lanjut Andhi, mereka pun mencari kita (CV CII) dan kita mencari mereka. Akhirnya bisa ketemu kembali. “Bea cukai itu memberikan pendampingan kepada UMKM yang akan naik kelas dengan melakukan ekspor,” tutur Andhi.

Undangan kepada CV CII dan UMKM lainnya dari Makassar untuk menghadiri pameran dagang Supermarket Expo di Kairo, Mesir, merupakan pertanda positif bagi upaya IKA Unhas mendorong UMKM naik kelas.

Langkah selanjutnya adalah mempercepat UMKM tumbuh secara eksponensial, sehingga pertumbuhan ekonomi makin pulih dan para pelaku UMKM lebih sejahtera. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *