Ilmuwan Jepang Ciptakan Tikus dari Dua Sel Jantan

Berita658 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Sebuah studi baru membuktikan bahwa reproduksi sesama jenis pada tikus adalah sesuatu hal yang mungkin. Penelitian tersebut meningkatkan potensi akan penggunaan teknik yang sama untuk manusia.

Ilmuwan Jepang telah berhasil menciptakan telur dari sel tikus jantan dan menghasilkan anak tikus yang sehat.

Hasil studi yang dipimpin oleh profesor Katsuhiko Hayashi dari Universitas Kyushu dan Universitas Osaka itu diterbitkan di jurnal ilmiah Nature pada hari Rabu (15/03/2023).

Dalam sebuah pernyataan bersama yang dilansir situs https://www.dw.com, Diana Laird, seorang ahli sel punca dan reproduksi di University of California dan rekannya Jonathan Bayerl mengatakan, karya tersebut membuka jalan baru dalam penelitian biologi reproduksi dan kesuburan.

“Bahwa di masa depan, ada kemungkinan untuk mereproduksi mamalia yang terancam punah dari satu pejantan,” kata mereka.

Tikus hidup dalam keluarga besar. Anggota saling mengenal lewat bau tubuh mereka.

Penelitian ini mungkin menyediakan template untuk pasangan sejenis laki-laki. “Bahkan mungkin menyediakan template untuk memungkinkan lebih banyak orang (seperti pasangan sesama jenis laki-laki), untuk memiliki anak kandung, sambil menghindari masalah etika dan hukum telur donor,” tulis mereka.

Meski demikian, Hayashi memperingatkan bahwa penelitian itu masih berada pada tahap yang sangat awal.

“Ada perbedaan besar antara tikus dan manusia,” katanya pada pertemuan puncak penyuntingan gen manusia di Institut Crick di London pekan lalu.

Sel Punca dari Ekor Mencit Jantan

Sebuah penelitian di Cina pada 2018 sebelumnya telah melaporkan bahwa tikus dengan dua induk betina berhasil dilahirkan, tetapi ketika mereka mencobanya dengan tikus jantan, anak-anaknya hanya bertahan hidup beberapa hari.

Para ilmuwan Jepang kemudian menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam penelitian mereka, aak-anak tikus yang lahir tampaknya tumbuh secara normal dan mampu menjadi induk dengan cara yang biasa.

Teknik ini pertama-tama melibatkan pengambilan sel kulit dari ekor tikus jantan dan mengubahnya menjadi sel punca.

Kemudian, melalui proses tumbuh kembang dan perawatan dengan obat, mereka mengubah sel punca tikus jantan menjadi sel betina dan menghasilkan sel telur fungsional.

Akhirnya, mereka membuahi sel telur tersebut dan menanamkan embrio ke dalam tikus betina.

Laird menggambarkannya sebagai langkah penting dalam sel induk dan biologi reproduksi.

Kemungkinan Uji Coba pada Manusia

Penelitian ini masih dalam tahap awal dan metodenya masih sangat tidak efisien. Hanya tujuh dari 630 embrio yang dipindahkan ke induk betina pengganti yang menghasilkan anak tikus hidup.

Para peneliti belum bisa menyimpulkan mengapa hanya sebagian kecil dari embrio yang ditempatkan pada tikus pengganti yang selamat. Mereka juga menekankan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui apakah protokol tersebut akan bekerja pada sel punca manusia.

Dalam komentarnya, Laird juga mengatakan bahwa para ilmuwan perlu berhati-hati terhadap mutasi dan kesalahan yang mungkin terjadi dalam cawan kultur sebelum menggunakan sel punca untuk membuat telur.

Citra Tikus dalam Kehidupan Manusia

Ada sekitar 65 jenis tikus, kebanyakan hidup di kawasan hutan. Mamalia ini berasal dari Asia Tenggara dan menyebar lewat India dan China sampai ke Australia. Barulah di zaman pertengahan tikus menyebar ke Eropa.

Tikus banyak digunakan di Angola, Kamboja, Mozambik untuk mendeteksi ranjau darat.

Jenis tikus lucu di Eropa sering dijadikan binatang piaraan yang disenangi anak-anak.Tikus jenis ini memang sengaja dipelihara untuk terbiasa dengan manusia. Walaupun sosoknya sering dicitrakan kotor, tikus adalah binatang yang bersih.

Dalam kebudayaan China, tikus melambangkan kebijakan, vitalitas dan keberuntungan. Sedangkan dalam banyak budaya lain, tikus sering dikaitkan dengan keburukan dan penyakit.

Tikus hidup dalam keluarga besar. Anggota lain sering mengenal dari bau tubuh mereka. Tikus yang sudah lebih dewasa biasanya memberi kesempatan kepada yang lebih muda untuk mendapatkan makanan terlebih dahulu. Tikus termasuk binatang yang cerdas dan sering menghindari bahaya dengan mengambil jalan lain yang lebih jauh untuk mencapai tujuan.

Penciuman tikus sangat tajam, sama seperti anjing. Oleh karena itu, tikus juga bisa digunakan untuk melacak sesuatu bahan. Di Angola, Kamboja, Mozambik dan banyak tempat lain, tikus sering digunakan untuk melacak rajau darat. (dw/rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *