Kasus TBC Meningkat Setelah Pandemi, Namun Ada Harapan Baru untuk Pengobatan Singkat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan jumlah penderita TBC di Indonesia terus meningkat akibat penyebaran yang masif selama pandemi Covid-19. Sampai saat ini penderita TBC masih kerap mengalami diskriminasi.

Setelah Covid-19 mereda, banyak orang melupakan penyakit Tuberkulosis (TBC) atau TB yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan TBC pada peringkat nomor 1 sebagai penyakit menular paling mematikan di seluruh dunia.

Berdasarkan data global, Indonesia menempati peringkat kedua dengan kasus TBC terbanyak setelah India dengan kasus terbanyak 969.000 dan kematian mencapai 144.000 kasus. Sedangkan baru sekitar 74 persen yang berhasil terdeteksi atau sekitar 717.000 kasus.

Beban kasus TBC tertinggi pada 2022 terjadi di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan DKI Jakarta.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan estimasi penderita TBC terus meningkat akibat jumlah penyebaran yang masif saat pandemi Covid-19, sedangkan pada masa itu penemuan kasus sulit dilakukan.

“Penularan terus terjadi di masa pandemi sehingga sekarang angkanya meningkat. Sulit mendeteksi TB karena gejalanya mirip dengan Covid-19. Semua juga terfokus pada Covid-19 saat itu,” ujar Imran Pambudi dalam webminar Kemenkes, Kamis (6/04/2023).

Sekadar perbandingan, penyakit TBC membunuh 1,5 juta orang setiap tahun di Eropa. Sedangkan 100 kasus baru terdeteksi setiap tahun di Eropa.

TBC pada Anak Juga Meningkat

Penemuan kasus TBC pada anak juga meningkat drastis, mencapai 100.726 kasus pada 2022. Jumlah tersebut meningkat hampir 200 persen dibandingkan tahun 2021 yang berjumlah 42.187 kasus TBC pada anak.

“Peningkatan kasus TB pada anak dua kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, karena kontak erat dengan penderita orang dewasa,” kata Imran.

Sementara kasus TBC yang resisten obat (RO) pada 2022 terdeteksi sebanyak 12.794 kasus. Dari jumlah tersebut, hanya 7.800 orang yang memulai pengobatan.

Tuberkulosis resisten obat (TB-RO) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang telah kebal terhadap salah satu atau lebih obat anti-tuberculosis lini pertama.

Panduan pengobatan TB RO saat ini menggunakan short term regimen (STR) dengan waktu 9-12 bulan dan long term regimen (LTR) berdurasi 20-24 bulan.

Hal itu disebabkan karena pasien tidak teratur mengonsumsi obat sesuai panduan atau menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya.

Pasien TBC Masih Kerap Hadapi Stigma

Ani Herna Sari, seorang penyintas TB resisten obat (RO) masih ingat betul ketika dirinya menderita penyakit itu 12 tahun silam. Ia bercerita mulai mengalami batuk berkepanjangan pada awal 2011. Setelah menjalani pengobatan oleh sejumlah dokter di beberapa RS, dia didiagnosis menderita TBC.

Ani dianjurkan meminum obat jangka panjang. Namun setelah meminumnya beberapa minggu, ia mengalami batuk darah. Singkat cerita Ani didiagnosa TB RO sehingga harus disuntik dan meminum obat lebih dari 15 pil tiap harinya dalam jangka waktu 9 bulan hingga 24 bulan.

“Obatnya sangat kejam dan sangat membuat menderita. Dibutuhkan kemampuan untuk melakukan pengobatan panjang. Selain mual, kulit menjadi hitam dan kaki sangat berat, obatnya juga membuat pasiennya berhalusinasi,” kata Ani.

Saat ini Ani merupakan Direktur Eksekutif Yayasan Rekat Peduli Indonesia – Komunitas penderita TBC di Indonesia.

Beberapa bulan setelah meminum obat, ia hamil dan terpaksa melahirkan dua bulan lebih cepat dari hari perkiraan lahir.

“Anak saya terlahir prematur, saya juga mendapatkan stigma dan diskriminasi saat di IGD, dalam status RS sudah tahu saya pasien TB dan dokter pada lari nyari masker, saya dimasukkan ke ruang isolasi dan harus berganti pakaian di ruangan yang terbuka, bayi saya juga diperlakukan berbeda dan tidak diurus,” ujar dia.

Penelitian vaksin TBC di sebuah laboratorium di Eropa untuk target eradikasi TBC pada 2050. (Foto-foto: DW)

Pengobatan dalam Waktu Lebih Singkat

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan, menjelaskan Bedaquiline, Pretomanid dan Linezolid (BPaL) menjadi regimen pengobatan baru untuk TB RO yang ditemukan pada 2018 dan diharapkan menjadi jalan singkat untuk penderita TB RO.

“Sebelumnya, banyak yang menangis, sedih, obat banyak, berbulan-bulan, efek samping banyak dan nggak kuat, ini jawaban untuk semua itu. Ini inovasi untuk pengobatan TB,” menurut Erlina Burhan.

Ia menjelaskan, pengobatan BPaL ini mempersingkat terapi menjadi hanya enam bulan dengan semua regimen oral. Jumlah obatnya hanya empat butir saja dengan efikasi 90 persen. Berbeda dengan STR dan LTR yang obatnya bisa mencapai tujuh hingga 15 butir obat.

“Dengan ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pasien lebih tinggi, tingkat kambuh lebih rendah dan keberhasilan yang tinggi,” tandas Erlina Burhan.

Perang Berkepanjangan Melawan Bakteri TBC

BPaL diluncurkan pada April 2022, dan mulai digunakan pada Juni 2022 pada pasien di RS Persahabatan. Hingga 31 Maret 2023, terdapat 87 pasien telah diikutsertakan dalam operasional riset pengobatan dengan BPaL ini.

Saat ini, sudah ada 15 rumah sakit di empat provinsi yang sudah menerapkan pengobatan dengan regimen BPaL ini. Beberapa di antaranya adalah RSUP Persahabatan, RSPI Sulianti Saroso, RSU Islam Cempaka Putih, dan RSUD Cilincing.

Kriteria pasien yang bisa mendapatkan BPaL, antara lain pasien TB RO yang mengalami intoleransi terhadap pengobatan sebelumnya atau tidak respon terhadap pengobatan, berusia 18 tahun ke atas, dan punya berat badan lebih dari 35 kg.

Ini menjadi harapan baru bagi penderita TBC, karena menurut Menkes RI Budi Gunadi Sadikin, penyakit TBC merupakan pandemi terlama dan programnya sudah berjalan lama dengan biaya yang sangat tinggi. (*/DW/rs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.