Merenungkan Akar Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Hari Pendidikan Nasional

Berita650 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali setiap tantangan yang sudah dihadapi, juga setiap jengkal langkah berani yang sudah diambil.

“Dengan merefleksikan hal-hal yang telah kita lakukan sepanjang tiga tahun terakhir, kita dapat merancang arah perjalanan kita ke depan guna memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan gerakan Merdeka Belajar,” ujar Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim dalam pidatonya memperingati Hardiknas, Selasa, 2 Mei 2023.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Ist.)

Nadiem menambahkan, sebanyak 24 episode Merdeka Belajar yang sudah diluncurkan membawa kita semakin dekat dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan yang menuntun bakat, minat, dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai seorang manusia dan sebagai anggota masyarakat.

“Sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi, seleksi masuk perguruan tinggi negeri pun sekarang fokus pada mengukur kemampuan literasi dan bernalar,” kata Mendikbud Ristek.

Pada jenjang perguruan tinggi, lanjut Nadiem, adik-adik mahasiswa yang dulu hanya belajar teori di dalam kelas sekarang bisa melanglang buana mencari pengetahuan dan pengalaman di luar kampus dengan hadirnya program-program Kampus Merdeka.

Hardiknas tahun ini mengambil tema, “Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar.”

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional dilatarbelakangi pergerakan-pergerakan yang dilakukan Ki Hajar Dewantara dan kawan seperjuangannya.

Ki Hajar Dewantara tampil sebagai sosok yang menentang dan mengkritik pemerintahan kolonial Belanda.

Kritiknya yang ia tulis dengan judul Als Ik een Nederlander was (seandainya aku orang Belanda), membuat dirinya harus menerima pengasingan ke negeri Belanda dalam kurun waktu 1913 hingga 1919.

Logo Hardiknas 2023. (Foto: Ist.)

Selama dalam masa pengasingan itulah, ia mendalami masalah pendidikan dan pengajaran.

Sepulangnya ke Tanah Air pada 1918, Ki Hajar Dewantara banyak mencurahkan perhatiannya pada sektor pendidikan. Pada 3 Juli 1922 ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta.

Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga mendirikan Indische Partij bersama rekannya dr. Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Berdirinya Taman Siswa tak lain untuk mendidik dan menggembleng golongan muda serta menanamkan rasa nasionalisme.

Tiga Semboyan Pendidikan Taman Siswa

Ki Hajar Dewantara selalu menerapkan tiga semboyan dalam sistem pendidikan di Taman Siswa pada khususnya. Secara filosofis semboyan yang berasal dari bahasa Jawa ini, menerangkan tentang peranan seorang pendidik.

1. Ing ngarsa sung tuladha, artinya ketika di depan kita harus memberi contoh atau suri teladan bagi mereka yang berada di tengah dan belakang.

2. Ing madya mangun karsa, artinya ketika di tengah kita harus bisa memberikan semangat untuk kemajuan.

3. Tut wuri handayani, artinya ketika di belakang kita harus mampu memberikan dorongan.

Makna Penting Pendidikan bagi Ki Hajar Dewantara

Pada peringatan Taman Siswa ke-30, Ki Hajar Dewantara mengatakan: “Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu ‘dipelopori’, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri”.

Maksud dari pernyataan Ki Hajar Dewantara tersebut dengan jelas menunjukkan apa yang seharusnya lahir dari proses pendidikan, yakni agar anak-anak mampu berpikir sendiri. Dengan demikian, para siswa menjadi orisinal dalam berpikir dan bertindak.

Ki Hajar Dewantara. (Foto: Ist.)

Bapak Pendidikan Nasional ini beranggapan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan adalah ketika anak mampu mengenali tantangan yang ada di depannya dan tahu bagaimana seharusnya mereka mengatasinya.

Dengan demikian, tujuan dari Hari Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam pembangunan bangsa dan negara.

Pasca memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno memanggil Ki Hajar Dewantara menjadi menteri Pengajaran mulai 2 September 1945.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di usia 70 tahun. Hari ulang tahunnya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional oleh bangsa Indonesia.

Akar pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian serta kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *