Nirwan Ahmad Arsuka yang Saya Kenal

Oleh: Nurhayati Rahman, Guru Besar FIB Unhas

Berita1761 Dilihat

SALAH satu organisasi kampus yang saya ikuti ketika mahasiswa adalah Lembaga Dakwah Mahasiswa Unhas (LDM) di tahun 1980-an. Kehidupan penuh gairah, aktif berdiskusi, dan mengkaji agama. Di samping itu, kami juga aktif melakukan pengajian dan pembinaan remaja masjid Ikhtiar Unhas yang terletak di Jl. Sunu.

Dari situlah kehidupan ini bergulir, dan disitu pulalah saya mengenal seorang remaja masjid yang masih unyuk-unyuk, kumal dan urakan, Nirwan Ahmad Arsuka.

Dia memiliki keunikan dibanding remaja-remaja masjid yang lain, sangat aktif, kritis, usil, liar, tak terkendali dan terkontrol, tetapi pintarnya sangat menonjol. Dia sudah fasih berbahasa Inggris yang ketika itu masih di SMA 1 Makassar.

Meskipun dia bandel tetapi sangat humanis, penyayang dan penuh perhatian. Kadang-kadang kalau waktu senggang menunggu azan magrib, kami duduk di beranda masjid, lalu dia bercerita tentang pengalamannya di sekolah, sehingga langganan guru BK, meski belakangan justru dekat dengan guru BK-nya itu.

Ketika tamat SMAN 1 Nirwan mendaftar di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik. Nirwan lulus keduanya, dan namanya bertengger di bagian atas Fakultas Kedokteran. Sayangnya dalam pemeriksaan kesehatan, dia dinyatakan buta warna, sehingga jatuh di pilihan keduanya, Teknik Arsitektur.

Karena jurusan itu tidak sesuai dengan panggilan jiwanya, maka ia memilih untuk menganggur setahun, tahun berikutnya baru mendaftar di UGM Yogyakarta dan lulus di jurusan Teknik Nuklir.

Sejak di Jogja itulah kami sudah putus komunikasi. Sampai akhirnya di tahun 1990-an tiba-tiba namanya selalu muncul menghiasi Harian Kompas, dengan tulisan yang berkisah seputar ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial.

Dalam hati, Nirwan yang dahulukah yang saya bina di masjid Ikhtiar ini. Setahu saya dia kuliahnya di Teknik Nuklir kok tulisannya tentang budaya dan sosial seperti ini. Dan tulisannya betul-betul sangat tajam analisisnya, memberi gambaran tentang kekuatannya membaca.

Sekali waktu saya bertemu dengan almarhum Pak Ishak Ngeljaratan, beliau dengan muka berapi-api penuh antusias membahas tulisan Nirwan dengan penuh takjub dan keheranan, sambil bergumam dahsyat, otak manusia seperti apa yang melahirkan anak seperti ini? Kalau benar Nirwan yang kukenal di Ikhtiar dahulu, ayahnya sangat sederhana, punya bengkel sendiri di Jalan Mangadel, Makassar Pak, jawabku.

Ternyata ketika tamat S-1 Nirwan hijrah ke Jakarta. Tanpa sengaja saya bertemu di sebuah acara di Jakarta ketika saya ambil S-3 di UI tahun 1990-an, dia langsung menyalami saya dan bertanya kita masih kenal dengan saya kak. Oh kau Nirwan, jawabku. Maka sejak saat itu kami aktif lagi berkomunikasi.

Kadang-kadang bila hari libur dia menjemput saya dengan mobil sedannya yang warna ungu, membawa anakku jalan-jalan. Atau kalau dia dapat honor diberinya anakku uang jajan. Dia pulalah yang mengundang kami pameran buku bersama Darud Dakwah Wal’Irsyad (DDI) Mangkoso di Bentara Budaya Kompas.

Sekali waktu kami ketemu di Taman Ismail Marzuki Jakarta, tiba-tiba dia mendekat dan merogoh sakunya, dan memberi saya uang, sambil berkata buat tambah-tambah biaya kuliah ta kak. Astaga Nirwan, kenapa banyak sekali, kataku, tanpa basa-basi dan berbalik dia meninggalkan saya begitu saja dalam kebingungan.

Nirwan tinggal di sebuah gang yang bersih dekat dengan tol Simatupang, tidak jauh rumah kostku di UI. Ia ditemani seorang pembantu yang disapa si embok. Dinding rumahnya penuh rak buku-buku yang tebal sampai ke dapurnya, dan jarang saya jumpai buku yang berbahasa Indonesia, semuanya berbahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Rusia, dan Belanda.

Sekali waktu kami janjian ketemu Pak Aksa sesudah salat subuh di masjid sekitar rumahnya, kami mau bicarakan tentang nasib penerbitan La Galigo. Habis salat subuh saya menuju rumah Nirwan. Sayangnya, begitu tiba, ada telepon dari sekretaris Pak Aksa bahwa acara ini batal karena mendadak ada acaranya yang lebih penting. Kecewa sekali dia ketika itu, sambil menunduk meski tak berkata apa-apa.

Hubungan kami dengan Nirwan semakin erat, ketika kami aktif melakukan revitalisasi kebudayaan Sulawesi Selatan bersama. Ketika saya sudah doktor dan sudah kembali di Makassar. Di Makassar saya diserahi tugas oleh Rektor untuk memimpin lembaga kecil-kecilan yaitu “Divisi Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian Unhas” yang membawahi “Pusat Studi La Galigo”.

Salah satu program awal kami adalah mengadakan sosialisasi La Galigo dengan mengadakan “Festival dan Seminar Internasional La Galigo” di Desa Pancana. Heboh ketika itu dan banyak berkata sinis: kok event internasional diadakan di desa. Mereka tidak tahu bagaimana kami babak belur mencari dana dan sponsor, tetapi tidak ada yang peduli, jangankan tahu, mendengar kata La Galigo pun banyak kalangan baru kali itu dia tahu.

Tapi kami jalan terus, hanya bupati Barru yang waktu itu dijabat oleh Andi Bau Rum yang bersedia mendanainya. Cukup heboh dan spektakuler, banyak peserta baik Indonesia maupun dunia, dihadiri pemakalah dan peserta 32 negara, juga berbagai media baik nasional maupun internasional .

Saat inilah La Galigo mulai dikenal. Nirwan menjadi pembicara andalan dan termuda. Di forum itu pulalah Nirwan pertama kali mencetuskan La Galigo sebagai kanon sastra dunia. Pada saat usai seminar kami bertekad bertiga dengan Halilintar Latief untuk merevitalisasi La Galigo.

Kami bertiga bersepakat untuk merawat, mengawal, menjaga, dan mendiseminasikan La Galigo menurut cara dan perspektif kami sendiri. Nirwan bertugas untuk menangani isu-isu nasional, saya di Makassar, dan halilintar di desa-desa.

Tiba-tiba usai seminar itu datanglah segerombolan orang asing yang berkolaborasi dengan seniman-seniman lokal Indonesia untuk membuat teater La Galigo. Saya bersama Halilintar Latief tentu saja menyambut gembira dan bersedia mendampingi mereka selama riset dan mengumpulkan data.

Semua ilmu dan dokumen yang kami miliki, kami tumpahkan ke mereka. Hampir 3 tahun lamanya kami dampingi secara sukarela tanpa imbalan, hanya semata-mata euforia bahwa sebentar lagi La Galigo akan mendunia.

Hingga tibalah saatnya untuk memulai teater itu. Setelah mereka presentasi di hadapan Robert Wilson di Amerika, satu dari 3 sutradara terbaik dunia, Wilson langsung tertarik dan bersedia mementaskan La Galigo. Dan nasib kami bertiga ditinggalkan dan tak mau tahu lagi, mereka mengatakan bahwa tugas kami sebagai ilmuwan sudah selesai.

Mau diapakan La Galigo kami tidak punya hak lagi untuk mengetahuinya. Padahal menurut teori, seperti yang dikatakan oleh Mikhail Boden, sebuah karya kebudayaan apalagi sakral, kalau tetap memakai judulnya, maka isi dan alurnya tidak boleh diubah hanya boleh diberi sentuhan modern. Sebaliknya apabila telah dikontemporerkan, maka tidak boleh lagi menggunakan judul ya, hanya boleh menyebut diinspirasi oleh karya La Galigo dari Sulawesi Selatan. Ini semua dilabraknya, dia kontemporerkan tapi terap memakai judul La Galigo, karena target adalah pasar dan komersial. Kapitalisasi La Galigo.

Padahal tugas kami belum selesai, kami harus mengawalnya, karena kamulah yang lebih tahu dan pemilik karya kebudayaan itu. Kami juga berniat mengangkat nama seniman-seniman Makassar untuk berperan aktif, baik pendampingan sutradara, pemain utama, maupun bagaimana mengawal alur cerita. Karena bagaimanapun la Galigo masih punya komunitas dan pengikut yang menyakralkannya yang harus dijaga perasaannya. Saat itulah Nirwan marah sekali, dan tampil berbicara mewakili kami di Sulawesi Selatan, baik secara langsung maupun lewat tulisan.

Tak puas dengan itu, Nirwan tiba-tiba datang ke Makassar dan konferensi pers. Oh dunia kiamat bagi kami bertiga, karena dianggap menghalangi pementasan Robert Wilson, padahal yang kami tuntut cuma sederhana, apa kontribusinya untuk masyarakat Sulawesi Selatan dalam komersialisasi karya kebudayaan yang bersifat sakral milik mereka, yang kedua seniman Makassar harus diberi peran aktif, yang ketiga harus ada kontrak kerja bagi seniman yang sepadan dengan peran yang dimainkannya.

Semua rambu-rambu itu dilabrak oleh mereka, sehingga Nirwan mengeluarkan kata-kata komprador kepada para kolaboratornya di Indonesia dan itulah pertama kali saya mendengar kata itu.

Di Jakarta lebih marah dan semakin menjadi-jadi, darah Bugisnya membuncah, sehingga hampir saja memukul kolaborator lokal Indonesia di Yayasan Lontar indonesia, kalau tidak dilerai, habislah ia.

Sejak saat itu, para kolaborator aktif melakukan sosialisasi sambil merangkul tokoh-tokoh Sulsel yang mau bekerja sama dengannya dan menjadikan mulut mereka sebagai media untuk memfitnah kami.

Kami benar-benar down, terpukul. Untungnya teman-teman di Jakarta dari TIM dan Kompas membackup kami sehingga nasib kami terselamatkan.

Dan ternyata belakangan apa yang kami khawatirkan terbukti, terutama honor yang diterima pemain di bawah standar. Janjinya untuk membangun muzium dan memberi beasiswa anak-anak Sulawesi Selatan di muka presiden Megawati, yang bertugas untuk memberi izin pengambilan karya kebudayaan publik untuk komersialisasi dan kapitalisasi kebudayaan lokal tersebut, hanyalah bohong belaka.

Pada akhir tahun 2019 lalu, bersama Andi Alfian Mallarangeng, pencipta huruf lontaraq digital, Nirwan Ahmad Arsuka kami mendirikan Yayasan Aksara Lontaraq Nusantara dan kami bertiga menjadi pembina.

Hari-hari berlalu, korona pun menyerang Indonesia, kami hanya bisa berkomunikasi lewat zoom, sampai akhirnya Covid-19 itu pun berlalu. Berkali-kali kami janjian untuk bertemu tapi jadwal begitu padat di antara kami bertiga, hingga datanglah berita yang mengagetkan itu, Nirwan telah pergi. Tak terasa pelan-pelan ada air yang menggenang di kelopak mataku, sambil bergumam, pergi betul rupanya kau adekku. Selamat jalan ya, tunggu aku di sana.

Jakarta, 8 Agustus 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *