KABARIKA.ID, SIDRAP — Teknologi pertanian modern semakin diminati di Sulawesi Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Metode tersebut efektif meningkatkan hasil produksi pertani.

Berbeda dengan cara tradisional, metode ini memakai drone sebagai penyemprot, transplanter, dan rotavator.

“Dengan menggunakan drone penyemprot, petani Sulsel dapat dengan mudah menyemprotkan pestisida dan pupuk ke lahan pertanian mereka secara efisien dan merata,” kata Sulaik (Agronomist MTT) saat ditemui di lokasi pendampingan mtt di Sidrap Kamis (4/1/2023).

Sulaik mengatakan, Teknologi pertanian modern ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tanaman.

Tetapi juga mengurangi risiko paparan bahan kimia bagi petani.

Saat ini telah dilakukan penyemprotan menggunakan drone seluas kurang lebih 171 ha luas lahan sawah yang tersebar dibeberapa kabupaten seperti Sidrap, Pinrang, dan Bone.

Sementara itu Koordinator FO MTT Achmad Syaiful mengatakan, penggunaan transplanter secara signifikan mempercepat proses penanaman bibit.

Petani tidak lagi perlu melakukan penanaman secara manual, yang memakan waktu dan tenaga.

Teknologi ini membantu meningkatkan kapasitas tanam dan memastikan distribusi tanaman yang lebih seragam.

Rotavator juga menjadi alat yang semakin diminati oleh petani Sulsel.

“Alat ini membantu dalam persiapan lahan dengan cara yang efisien, memotong dan menggiling tanah untuk persiapan tanam,” kata Showroom Alsintan Maxxi Sidrap Misrul.

Hal ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga meningkatkan kualitas tanah.

Pendampingan MTT (Maxxi Tani Teknologi) yang sedang berlangsung di Sulsel saat ini merupakan bagian dari upaya edukasi petani.

Pendampingan itu ikut serta mendukung program kementan dalam mendorong pertanian modern.

Tujuannya mengajak anak muda milenial untuk ikut terlibat turun ke sawah karena sudah serba full mekanisasi dan sangat menjanjikan untuk menjadi model interpreneurship di sektor pertanian.

Menurut Arfan saat ditemui di kantor MTT Makassar, mengatakan bahwa gerakan MTT ini mampu mendorong terjadinya percepatan tanam dan panen.

Hasilnya dalam setahun lahan sawah yang biasanya panen 1 kali bisa panen 2 sampai 3 kali.

Produksi bisa meningkat signifikan melalui daya dukung alsintan dan saprodi dari awal tanam sampai panen.

Untuk perawatan tanaman padi, di tahun 2024 ini Arfah dkk akan menargetkan 125 ha per bulan untuk drone penyemprotan.

Adopsi teknologi ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pertanian Sulsel.

Petani tidak hanya sebagai pengelola lahan, tetapi juga sebagai pengguna teknologi yang cerdas untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pertanian.

Petani Sulsel yang memilih mengadopsi teknologi modern dengan cepat dan efektif menunjukkan semangat untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dengan kombinasi kearifan lokal dan inovasi teknologi, pertanian Sulsel melangkah menuju masa depan pertanian yang lebih cemerlang dan berkelanjutan.