Pakar Mekanisasi Membantah, Elita: Dwi Andreas Tak Paham Perbedaan Pertanian Tradisional versus Modern

Berita82 Dilihat

KABARIKA.ID, SERPONG– Pakar Mekanisasi Pertanian dan Pertanian Presisi dari Balai Besar Standarisasi Mekanisasi Pertanian (BSIP Mektan) Dr. Elita Rahmarestia membantah pernyataan pengamat pertanian, Dwi Andreas Santoso.

Elita membantah pernyataan Dwi yang disampaikan dalam sebuah program acara di IDX Channel TV yang meragukan manfaat investasi teknologi dan mekanisasi pertanian di Indonesia.

BSIP Mektan yang salah satu tugasnya menggencarkan pemanfaatan teknologi mekanisasi sebagai solusi dalam menurunkan ongkos produksi sekaligus upaya maksimal dalam meningkatkan kesejahteraan petani, meluruskan pernyataan Dwi Andreas tersebut.

Dr. Elita Rahmarestia, menjelaskan kontribusi teknologi Alat Mesin Pertanian menekan waktu kerja, penurunan biaya, meningkatan produksi, dan nenurunkan losses dalam usahatani.

“Penggunaan Alsintan di Indonesia dalam usahatani telah meningkatkan efisiensi waktu kerja hingga 97,4%, dan menurunkan biaya kerja hingga 40%,” kata Elita di Serpong, Selasa (30/1/2024).

Begitupun penggunaan Alsintan pada waktu tanam, efisiensi waktu kerjanya mencapai 98% dan menurunkan biaya kerja hingga 20 %, serta mampu meningkatkan provitas 5% – 10%.

Pada aktivitas panen, petani bisa meningkatkan efisiensi waktu kerja hingga 98,6%, menurunkan biaya kerja hingga 26,9% dan menekan losses 3,5 -5,5%.

Data lapangan tersebut, membuktikan teknologi pertanian telah dimplementasikan dan wajib didukung mengatasi persoalan biaya tenaga kerja dan biaya produksi di pertanian.

Lebih lanjut, Elita menyayangkan jika ada pengamat Professor yang tidak paham dan berstatment tanpa melihat penerapan teknolog di Indonesia.

Di lapangan,.lanjutnya, terbukti mekanisasi berperan dalam penurunan biaya produksi dan penurunan biaya kegiatan usahatani.

“Oleh karena itu, kami sangat sayangkan pengamat pertanian Dwi Andreas Santoso yang bukan ahli mekanisasi pertanian mengatakan investasi teknologi pertanian Indonesia saat ini belum maksimal meningkatkan produksi dan menekan biaya. Dwi Andreas harusnya belajar lagi terkait mekanisasi dan teknologi pertanian agar analisanya tidak dangkal,” tegasnya.

Elita mengungkapkan, berdasarkan fakta lapangan, penggunaan mekanisasi Indonesia terbukti mampu meningkatkan efisiensi pengolahan lahan yang menyempit akibat konversi.

Mekanisasi juga membuat usaha tani lebih menguntungkan karena mampu menurunkan losses hasil panen.

“Sebagai contoh, perbandingan mekanisasi dengan pertanian manual bisa dilihat melalui data lapangan usaha tani padi yang dihimpun melalui petugas lapangan kami. Penggunaan mekanisasi untuk mengolah tanah, mampu mempercepat proses produksi dan hanya dikerjakan 2 orang yang semula 20 orang untuk satu hektarnya,” ungkapnya.

Elita selanjutnya mengatakan dari fakta bahwa Prof Dwi Andreas jelas tak memahami arti mekanisasi dan sejarah perkembangan teknologi pertanian di Indonesia selama 10 tahun terakhir ini, dan tidak paham perbedaan pertanian tradisional versus modern.

Saat ini lanjut Elita, waktu menggarap lahan hanya sekitar 2 jam orang kerja dengan ongkos produksi yang sangat kecil yaitu sebesar Rp 900 ribu per hektare. Sedangkan jika dibandingkan pola manual, jumlah pekerja satu hektarenya mencapai 40 orang atau jika dihitung sekitar 400 jam orang kerja.

Elita juga menjelaskan perlunya melihat sebuah proses produksi secara makro, tidak hanya melihat penggunaan alsintan.

Faktor teknis produksi lainnya tidak dapat diabaikan sebagai cost produksi, yakni prasarana lahan dan irigasi, benih, pupuk, pestisida, mekanisasi hingga faktor pasca panen.

DUKUNGAN PEMERINTAH

“Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah mendistribusikan bantuan mekanisasi sejak 2015 hingga 2021. Untuk bantuan traktor roda empat mencapai 13.878 unit, traktor roda dua 152.779 unit, pompa air 121.574 unit, rice transplanter 20.653 unit dan hand spayer mencapai 167.142 unit,” ungkap Elita.

Bantuan yang diberikan pemerintah tersebut, berdampak positif terhadap peningkatan level mekanisasi Indonesia yang dulunya level mekanisasi hanya 0,5 HP/ha di tahun 2015, menjadi 1,8 HP/ha di tahun 2017, dan terus meningkat hingga mencapai 2,1 HP/ha pada tahun 2021.

“Faktor ini, jika dibandingkan angka di tahun 2015 ke 2021, maka level mekanisasi di Indonesia meningkat signifikan hingga 320%,” bebernya.

Saat ini, lanjut Elita, Indonesia juga telah meningkat sejajar dengan Thailand yang merupakan salah satu negara kuat sektor pertanian di kawasan Asia dengan level mekanisasi di angka 2,1 horsepower per hektare.

Ke depan pemerintah akan terus menggenjot pertanian modern hingga Indonesia mampu setara dengan Jepang yang telah mencapai 6 horsepower per hektar.

Sebagai informasi, potensi industri alat dan mesin pertanian di Indonesia cukuplah besar. Saat ini saja industri mekanisasi pertanian berskala besar mencapai 3 perusahaan dengan kapasitas produksi mencapai 955.550 unit, dan perusahan kapasitas menengah mencapai 30 dengan kapasitas produksi 135.000 unit.

Untuk industri skala kecil atau bengkel alsintan mencapai 1.063 dengan kapasitas produksi 15.000 unit.

Adapun jenis alsintan yang diproduksi meliputi engine, traktor, dryer, combine harvester, pompa air, mesin pengering, threster dan pemipil jagung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.