Rektor Unhas Kukuhkan Tiga Profesor Baru dari Fakultas Kedokteran dan FKM

Berita, Kabar Unhas423 Dilihat

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menyelenggarakan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas dalam rangka upacara Penerimaan Jabatan Profesor baru Bidang Vitreoretina (Fakultas Kedokteran), Bidang Ilmu Gizi Klinik (Fakultas Kedokteran) dan Bidang Manajemen Strategik Rumah Sakit (Fakultas Kesehatan Masyarakat).

Proses pengukuhan berlangsung pada, Selasa (30/01/2024) di Ruang Senat Akademik, Gedung Rektorat lantai 2, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Senat Akademik Unhas.

Rapat pengukuhan dipimpin oleh Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.. Juga hadir Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Profesor, dan tamu undangan, beserta keluarga besar dari profesor yang dikukuhkan.

Tiga profesor baru yang dikukuhkan tersebut, adalah:

1. Prof. dr. Andi Muhammad Ichsan, Ph.D, Sp.M(K) Guru Besar Bidang Vitreoretina, Fakultas Kedokteran, yang dikukuhkan sebagai guru besar ke-504.

2. Prof. dr. Agussalim Bukhari, M.Clin. Med., Ph.D, Sp.GK(K), Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran, yang dikukuhkan sebagai guru besar ke- 505.

3. Prof. Dr. dr. Andi Indahwaty AS, S.Ked, MHSM, CHRM, FISQua., Guru Besar Bidang Prof. Dr. Nurtiti Sunusi, S.Si., M.Si, Guru Besar Bidang Manajemen Strategik Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, yang dikukuhkan sebagai guru besar ke- 506.

Rektor Unhas Prof. JJ dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada professor baru atas pencapaian yang luar biasa. Pengukuhan sebagai Guru Besar bukan semata-mata sebuah penghargaan pribadi, melainkan menjadi cerminan dari dedikasi, keunggulan akademis, dan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pengukuhan merupakan momentum untuk silaturahmi sekaligus memaparkan penelitian yang telah dilakukan.

“Keberhasilan para profesor baru adalah cermin dari komitmen Unhas dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keberhasilan ini juga menjadi bagian integral dari visi dan misi universitas untuk menjadi pusat unggulan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan masyarakat,,” jelas Prof. JJ.

Lebih lanjut, Prof JJ juga memberikan apresiasi atas penelitian yang dilakukan oleh para guru besar yang dikukuhkan. Menurut Prof JJ, pengembangan keilmuan para guru besar dari penelitian yang dilakukan sejalan dengan perkembangan teknologi saat ini.

Sebelumnya, masing-masing guru besar telah menyampaikan pidato penerimaan, yang membahas bidang keilmuannya.

Prof. dr. Andi Muhammad Ichsan, Ph.D, Sp.M(K)

Prof. dr. Andi Muhammad Ichsan menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Terapi Regeneratif Pada Penatalaksanaan Penyakit Retina: Capaian Dan Tantangan”. Dalam pengantarnya dijelaskan bahwa penyakit degenerasi retina adalah salah satu penyebab utama kebutaan permanen. Berbagai terobosan dan upaya telah dilakukan dengan harapan untuk menghasilkan terapi terkini melalui penelitan.

Prof. dr. Andi Muhammad Ichsan, Ph.D, Sp.M(K). (Foto: Humas Unhas)

Pengobatan itab isa ve dirancang untuk memberikan itab untuk penyakit yang hingga saat ini belum ada penanganannya. Terapi penggantian sel adalah salah satu dari beberapa (dan mungkin) yang paling terkenal adalah aplikasi terapi untuk sel induk. Pada AMD, hilangnya sel RPE mengakibatkan kematian fotoreseptor dan kebutaan permanen.

“Berkat kemajuan yang kita rasakan sekarang ini, itab isa memahami bahwa dunia ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus menerus berkembang. Terapi yang dulunya hanya bertumpu pada obat-obatan dan operasi, kini mulai mengarah pada aspek biomolekuler. Pengembangan fasilitas riset dan kemampuan sumber daya manusia sangat penting untuk kemajuan Universitas Hasanuddin yang sama-sama kita banggakan ini,” jelas Prof Ichsan.

Lebih lanjut, Prof Ichsab menambahkan aplikasi klinis penggunaan terapi penggantian sel saat ini telah berkembang pada berbagai struktur retina, beberapa diantaranya seperti Penggantian sel epitel pigmen retina (RPE), Penggantian sel fotoreseptor hingga Penggantian sel ganglion retina. Lebih lanjut, pergantian sel retina yang rusak ini, dapat memberikan manifestasi klinis yang baik terhadap perubahan dan perbaikan penyakit retina. Terapi berbasis sel, telah diaplikasikan pula pada kondisi terkait penyakit, seperti Age related macular degeneration, stargart disease, distrofi macula, dan retinitis pigmentosa.

Prof. dr. Agussalim Bukhari, M.Clin. Med., Ph.D, Sp.GK(K)

Menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Peranan Nutrigenomik Dalam Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Akibat Malnutrisi”. Dirinya menuturkan Ilmu gizi klinik kini semakin berkembang dan sudah menjadi terapi tersendiri yang dikenal dengan Terapi Nutrisi Medik dan mempengaruhi luaran pasien dengan meningkatkan angka kesembuhan, menurunkan komplikasi penyakit dan mortalitas.

Pemberian terapi nutrisi medik meningkatkan asupan kalori dan zat gizi dan mempercepat penyembuhan pasien. Gizi bukan hanya untuk memberikan kalori dan makronutrien berupa protein, karbohidrat dan lemak, serta mikronutrien berupa vitamin dan mineral akan tetapi menjadi lebih spesifik untuk jenis karbohidrat, komposisi asam amino, dan asam lemak.

Prof. dr. Agussalim Bukhari, M.Clin. Med., Ph.D, Sp.GK(K). (Foto: Humas Unhas)

Secara umum, Prof Agus menuturkan aplikasi nutrigenomik dapat diterapkan untuk masalah malnutrisi lainnya seperti stunting pada balita, anemia pada ibu hamil dan remaja putri yang masih merupakan masalah gizi utama di negara kita. Defisiensi vitamin A, zat besi, asam folat, vitamin C, vitamin D telah diidentifikasi berhubungan dengan faktor genetik sehingga pada orang ini membutuhkan dosis zat gizi tersebut lebih banyak dan dapat lebih fokus pada zat gizi yang mereka rentan defisiensi tersebut dengan mengetahui adanya faktor genetik setelah pemeriksaan nutrigenomic.

“Peranan nutrigenomik dalam pencegahan penyakit akibat malnutrisi dan terapi nutrisi medik yang presisi dan spesifik serta individual sudah saatnya mulai diaplikasikan secara selektif untuk gen-gen tertentu yang memiliki bukti yang kuat sedangkan beberapa gen-gen lainnya masih diperlukan penelitian lanjutan yang menilai interaksi antara gen dan antara faktor diet dan faktor lingkungan gaya hidup lainnya,” jelas Prof Agus.

Prof. Dr. dr. Andi Indahwaty AS, S.Ked, MHSM, CHRM, FISQua

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Peranan Perilaku Kewargaorganisasian Staf Rs Terhadap Penyajian Layanan Berkualitas Pada Situasi Bencana/Darurat”. Prof Indah menuturkan kondisi bencana/pandemic yang tidak pasti dan sulit ini, perlu strategi dalam hal penyesuaian perilaku staf dalam organisasi untuk mempertahankan ataupun meningkatkan motivasi, perilaku kerjasama, dan komitmen anggota organisasi.

Prof. Dr. dr. Andi Indahwaty AS, S.Ked, MHSM, CHRM, FISQua. (Foto: Humas Unhas)

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pelayanan yang berkualitas hanya dapat disajikan oleh staf yang puas, motivasi yang tinggi, berkomitmen tinggi, memiliki integritas terhadap pekerjaannya. Munculnya perilaku kewargaorganisasian dipengaruhi berbagai faktor yang sangat kompleks. Faktor antecedents tersebut adalah iklim organisasi, dukungan organisasi, kepemimpinan, dan personality.

“Perilaku kewargaorganisasian yang tinggi bagi staf RS sangat diperlukan khususnya pada saat terjadi kebencanaan seperti pandemi covid maupun kedaruratan lainnya dimana terjadi keterbatasan sumber daya, perubahan-perubahan kebijakan yang selalu terjadi dan lingkungan kerja yang kurang mendukung namun dilain pihak RS dituntut untuk dapat menjamin penyajian pelayanan yang bermutu yaitu efektif, aman dan berfokus pada pasien,” jelas Prof Indah.

Kebencanaan atau pandemik tidak pernah dapat diprediksi sehingga diharapkan para pengelola RS harus mampu menciptakan iklim organisasi yang mendukung terciptanya perilaku kewargaorganisasi yaitu aspek dukungan organisasi, meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan aspek kepribadian dari staf RS termasuk mengelola nilai-nilai budaya yang di anut oleh staff yang mendukung terciptanya perilaku kewargaorganisasian. Sehingga pada saat terjadi bencana para staf sudah terbiasa dengan perilaku tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.