Prof Adi Maulana dan Apa yang Dibayangkan tentang Universitas Hasanuddin

Berita, Opini591 Dilihat

Catatan Kamaruddin Aziz, Alumni 1998, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin


SETELAH melewati Sabtu pagi nan mendung dan sejumlah gerimis di beberapa titik Jakarta, penulis tiba jua di Bandara Cengkareng. Dari Gate 13, bergeser ke musala (ini tulisan benar sesuai KBBI).

Setelah taqdim dhuhur dan ashar, berdiri gegas, jemaah lain padat mengantri. Tak lama, keluar dari musala, di area gate 16, Wakil Rektor 4 Unhas, Prof Adi Maulana tampak di depan mata.

Saya berdiri tegak dan mengangkat tangan kanan: hormat gerak! Dia membalas senyum dan berseru: Denun!

Dia teman nan baik, kenalnya belum terlalu lama. Berinteraksi pada sejumlah kegiatan sosialisasi atau penguatan kapasitas pemangku kepentingan terkait kesiapsiagaan bencana, penyadartahuan publik tentang perlunya sistem deteksi dini potensi bencara, mulai dari bencana alam hingga chaos sosial.

*Tentang Adi Maulana*

Saya mengenal Adi sebagai pakar kebencanaan, dia pernah sebagai sebagai Kapus Studi Kebencanaan Unhas pada 2013 dan banyak dilibatkan sejumlah pihak sebagai narasumber.

Pemkot Makassar pernah memintanya memberi penerangan ke sejumlah kelompok masyarakat kelurahan tentang potensi kebencanaan di Indonesia, region Sulawesi dan Makassar. Kami seforum waktu itu.

Dia juga paling responsif saat Pelakita.ID mewawancarainya terkait isu-isu kebencanaan di Indonesia. Dia sibuk saat terjadi bencana Gempa Tsunami Palu, baik sebagai narasumber maupun sebagai bagian dari tim peneliti kegempaan dan tsunami saat itu.

Pria bernama lengkap Prof Dr Eng Adi Maulana, S.T, M.Phil itu adalah kelahiran Balikpapan pada 1980. SD hingga SMA di sana setelah diterima di Jurusan Geologi Unhas tahun 1997 dan 2003 dia lulus dengan predikat terbaik.

Dia jadi dosen 2004 setahun kemudian. Tahun 2007 dapat beasiswa Australian Development Scholarship dan kuliah di Universitas Canberra.

Tahun 2010 hingga 2013 dia kuliah di Kyusu University berkait beasiswa Monbukagakusho-MEX. Fokusnya pada petrologi dan geokimia menghantarnya jadi doktor.

Yang bisa disimpulkan dari jejak karir seorang Adi Maulana adalah inisiatif dan jejaringnya yang kemudian memudahkan menjadi peserta ‘visiting researcher’ pada sejumlah perguruan tinggi ternama, dari Akita University dan Hokkaido University di Jepang hingga Massachussets Institute of Technology MIT di Negeri Paman Sam.

Tahun 2019 gelarnya paripurna sebagai Guru Besar termuda dalam bidang geologi

Tugas sebagai WR 4

Kami berdua berdiri di koridor bandara dekat musala sembari menanyakan kabar dan saling tanya urusan apa di Jakarta. “Saya lihat ada foto sama Rektor JJ dan Kak Sapri Pamulu. Bahkan sudah dibagikan di Linkedin,” kataku.

Saya berbagi info kalau pagi sebelumnya bersua orang Japan International Cooperation Agency di Kantor Kemenaker, Adi punya pengalaman studi di Jepang. Juga tentang kegiatan kemarin saat tandang ke Kantor ESDM Direktorat Minerba. Adi adalah alumni Geologi Unhas.

Adi cerita kalau baru saja mendampingi Rektor JJ mengkoordinasikan rencana pembangunan perumahan antara Unhas dan Perum Perumnas pada pertemuan perdana pada Jumat 15 Maret 2024.

Siang itu, dia nampak tampan dengan blazer motif garis kotak tipis.

Di kalangan alumni atau jejaring yang mengenalnya sebagai Antek Anak Teknik. Dia memang kerap dikaitkan dengan ‘generasi muda Unhas’ yang progresif.

Dia bisa disebut mewakili guru besar yang rajin menulis, meriset, dan aktif berjejaring proyek-proyek sosial hingga lingkungan.

Adi tipikal Antek yang bisa saja pengecualian di antara mereka pada guru besar yang kesulitan melepas temali kerangkeng keadaan sehingga sulit membuka, mendapat dan memanfaatkan akses jejaring pengetahuan dan opportunity.

Ada juga guru besar yang disebut sulit berinteraksi dengan perkakas digital dan internet of things sehingga terkesan ‘tak hadir di tengah sejumlah peristiwa penting domestik dan global’ pada Unhas adalah the World Class University.

Pembacaan penulis, Adi bisa ditemukan duduk melantai dengan mahasiswa, atau duduk sebarisan dengan aktivis LSM atau kelompok masyarakat peduli kebencanaan, berbagi pengetahuan dan berbagi pandangan dan pengalaman.

Saya kira, dia sosok yang bisa terterima di sejumlah komunitas dan insitutusi profesional.

Pengetahuan akademik mumpuni, jejaring yang kuat dan luas, prinisp inklusi yang dianutnya, kemampuan bahasa Inggris dan Jepang tentu jadi perkakas kompetensi yang membuatnya pantas dan perlu diamini saat Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa mendapuknya sebagai Wakil Rektor IV yang bertugas dalam bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis.

Di sisi gate 16 itu, kami mengobrol tentang banyak hal.

Dia mengaku telah mencoba semaksimal mungkin membangun komunikasi dengan alumni, mencari peluang untuk berkolaborasi dan memulai dari apa yang ada, atau apa yang menjadi potensi eksisting.

“Kadang-kadang saya harus konfiden dan yakin saja menyampaikan ke jejaring internasional kalau alumni atau Unhas punya potensi terkait pengembangan komoditi, seperti kakao,” kata dia terkait komunikasinya dengan stakeholder bisnis kakao di Mesir. “Juga rumput laut,” selaku.

Lantaran itu, Unhas dan alumni terkait usaha kakao diajak untuk ikut konferensi atau eksibisi produk kakao di sana.

Dia menyebut networking alumni dan Unhas adalah keniscayaan. “Hanya saja memang perlu melihat bentuk komunikasi yang pas dan sesuai dengan target masing-masing pada konteks Unhas yang besar.”

Untuk saat ini, sesuai tugasnya pada pengembangan Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis maka yang intens dilakukan adalah menjajaki peluang kerjasama antar perguruan tinggi, private sector, alumni, atau siapa saja yang bisa masuk di dalam.

“Kita juga senang seperti pada isu netzero atau climate resilience, Unhas ini dianggap sudah selangkah lebih jauh dibanding perguruan tinggi lain,” kata dia.

“Mitra luar negeri kita bilang, oh ternyata Unhas sudah jauh ya pada isu-isu net zero atau climate resilience, kita bangga juga.”

Kurang lebih begitu terkait upaya-upaya mengetengahkan isu atau potensi kerjasama dengan jejaring nasional dan internasional.

Pihaknya kini antusias mendorong inovasi riset. Kami berdua sepakat dan mencontohkan betapa ke depan – sebagaimana harapan dia sebagai Wakil Reltor IV Unhas, seperti rumput laut, tidak bisa lagi diilihat sebagai sekadar tanaman budidaya dan diekspor belaka tetapi juga bagian dalam solusi ‘carbon absorb’.

Menurutnya, potensi rumput laut sebagai bagian dari solusi netzero bisa menjadi riset atau obyek pengembangan ke depan sebagaimana Unhas telah fasilitasi skema riset pada PAIR atau The Partnership for Australia-Indonesia Research dengan Pemerintah Australia.

Pesannya adalah apakah bisa dikembangkan budidaya skala luas yang tak lagi pada Euchema atau Gracilaria serta bagaimana civitas akademika Unhas berjibaku untuk memanfaatkan peluang mendorong kerjasama riset dan mendorong inovasi multidispilin keilmuan dan dimensi kealumnian.

Kami sepakat bahwa tenaga riset atau praktisi tak lagi menumpuk pada riset terumbu karang tetapi juga memperluas riset pada seagrass atau lamun dan sejumlah keunikan potensi pesisir dan laut Sulsel.

Juga pada bidang lain seperti pertanian, perkebunan, pertambangan bahkan kepariwisataan berbasis keunikan daerah.

Dia mengapresiasi alumni yang telah memanfaatkan keberadaan Ikatan Keluarga Alumni Unhas yang terus mendorong knowledge sharing, climate resilience facilitation, pengembangan UMKM atau micro finance institution, hingga international business exchange yang selama ini telah berjalan dengan baik.

Dia mengaku tetap membaca timeline sejumlah alumni dan organisasi IKA Unhas.

Begitu sosodara, tidak terasa 30 menit kami mengobrol di Gate 16 bandara itu, sebelum saya menyerah dan memintanya ke musala.

“Salatmaki dulu, saya sudah. Obrolan kita lanjutkan nanti,” kataku sebelum bergeser ke Gate 13.

Denun | Tamarunang. 17/3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *