240 km x 2 Demi Sebuah Momen, Cerita Tentang Dedikasi

Ahmad Musa Said Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) UNHAS

Berita, Opini2255 Dilihat

KABARIKA.ID–Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dedikasi berarti pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia.

Dedikasi juga bisa diartikan sebagai pengabdian untuk melaksanakan cita-cita yang luhur.

Kali ini saya akan menceritakan bagaimana dedikasi dua pemuda yang baru-baru ini ditugaskan oleh atasannya untuk mendampingi Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Kunjungan kerja Mentan AAS kali ini adalah mendampingi Kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke berbagai titik di Kalteng.

Pemuda itu Agung dan Rian, Agung bertugas sebagai videografer dan Rian bertugas sebagai fotografer.

Dua pemuda ini merupakan bagian dari tim khusus yang ingin berkorban dan berpartisipasi dalam jihad pangan ini.

Agung (kanan) dan Rian (kiri) tersenyum di tengah perjalanan pulang pergi Palangkaraya — Sampit, Rabu 26 Juni 2024. Foto: Uca

Tujuan mereka tentu ingin mensupport untuk publikasi dan dokumentasi dari setiap aktifitas Menteri Pertanian di lapangan.

Meskipun telah ada Biro Humas di Kementan yang luar biasa kinerjanya, namun menurut mereka tentu semakin banyak yang terlibat maka semua sisi dari aktivitas panglima pangan dalam kunjungannya dapat lebih tercover jelasnya.

Biaya? Jangan khawatir ucap mereka, sudah ada orang baik yang rela berkorban materi untuk mensupport perjuangan ini.

Orang baik tersebut sangat mendukung cita-cita Ketua Umum IKA Unhas ini yang ingin agar Indonesia dapat swasembada, ekspor dan menjadi lumbung pangan dunia di 2029.

Orang baik tersebut berharap semua anak bangsa di setiap pelosok negeri mendengar jihad pangan ini dan terpanggil untuk mensupport dengan cara dan sesuai kemampuan masing-masing.

Selasa 25 Juni 2024, pesawat mendarat pukul 18.00 di bandara Tjilik Riwut, langit sudah gelap. Info dari protokol istana, heli Kepresidenan sudah full dan tidak memungkinkan ada tambahan lagi untuk tim dokumentasi.

Malam itu kami berembuk, diputuskan berangkat pukul 4.15 menuju titik kunjungan di Jalan Nusantara, Kelurahan Bapeang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur. 18 km dari pusat Sampit tepat 240 km dari Hotel Bahalap tempat kami menginap.

Setelah 4 jam 35 menit, hanya mampir sarapan sejenak di warung pinggir jalan untuk sarapan.

Kami tiba di titik kunjungan pukul 8.50 pagi. Area sudah steril, mobil tak dapat lagi melintasi jalan masuk ke lokasi sawah yang akan diolah dengan pengairan dari pompanisasi air sungai di tepi jalan tersebut. Berjalan kaki 1,2 km dari tempat parkir mobil yang disiapkan tim pengamanan.

Mulailah dua pemuda ini bekerja dengan perangkat kamera dan videonya.

Menunggu sekitar dua jam, rombongan Presiden tiba, setelah memeriksa pompa, kondisi sawah, bahkan mencoba menciumi aroma air yang masuk ke sawah, doorstop dengan wartawan, Jokowi beranjak sambil membagikan baju ke para petani yang sejak pagi telah menantinya di sawah.

Kunjungan selesai, saya ingin beranjak, namun dua pemuda ini memohon izin akan menginap di lokasi malam itu, karena ingin mengambil footage dari berbagai titik dengan menggunakan video drone.

Maklum karena tiba kurang dari dua jam waktu kunjungan Presiden, maka area sudah disterilkan termasuk tidak boleh ada drone yang melintas.

Saya sampaikan bahwa pak Menteri sengaja mengundur keberangkatan karena menunggu anda berdua kembali ke Bandara Tjilik Riwut.

Jam 17.30 rencana takeoff ke Halim, maka kita harus bergegas kembali menyusuri jalan tadi agar dapat tiba sebelum jam keberangkatan.

Meski fleksibel karena waktu penerbangan dapat diubah sesuai arahan Menteri, tentu tak elok jika membuat pemilik paten racun tikus tersebut harus menunggu di Bandara. Dan jika anda tak ikut pulang, sayapun tak akan pulang karena harus kembali bersama anda.

Pak Menteri selalu menekankan pentingnya kesetiakawanan dalam berjuang. “Susah senang bersama, dua tinggal, tinggal semua, satu pulang, pulang semua” ucapku.

Untung Humas Kementan menyampaikan bahwa mereka juga sudah mengambil video drone sebelumnya yang dapat dipakai oleh Agung dan Rian.

“Dimaklumi kondisi, karena ini kunjungan Presiden, ke depan kami harus selalu mendahului Menteri, agar dapat mengambil footage yang bagus” kata Agung.

Dua pemuda ini faham, 11.35 kami berjalan menuju kendaraan, berkejaran waktu, macet di mana-mana karena iring-iringan rombongan RI 1 baru lewat, maka kendaraan berat pengangkut sawit menumpuk yang menghalangi arus lalu lintas di jalan yang cuma dua jalur tersebut.

Pkl 15.08 kami terhenti, macet sekitar 20 menit, ternyata rombongan Presiden yang menggunakan Heli tadi meresmikan RSUD Mas Amsyar di Kasongan Kabupaten Katingan. 94 km lagi ke tujuan, perjalanan siang ini lebih lama dibanding perjalanan subuh tadi. Ramainya kendaraan dan jalan sempit semakin menghambat perjalanan.

Syukur karena Supri, sopir yang membawa kami tahu jalan pintas menuju bandara sebelum masuk ke pusat kota Palangka. Alhamdulillah 17.20 tiba di bandara.

Mentan AAS tiba pas azan maghrib dikumandangkan, shalat jamak Maghrib Isya di mushallah bandara.

Di pesawat, ditanyakannya kedua pemuda tersebut tentang orang tuanya, pesan owner Tiran Group ini kepada protokolnya, jaga baik-baik makannya pemuda ini di lapangan.

Mentan AAS pun berjanji mengupayakan bantuan alat pertanian bagi ayah Agung pensiunan yang saat ini membina pesantren dan ayah Rian yang berstatus buruh.

Tentu perjalanan hari ini belum apa-apa dibanding dedikasi tim humas yang selama ini telah mendampingi Mentan AAS. Dan selalu ada cerita heroik dibalik setiap momen.

Namun dua pemuda ini juga telah menunjukkan dedikasinya yang luar biasa, maka tak salah Ketua Umum IKA Unhas itupun memberikan apresiasi yang menakjubkan. In Ahsantum Ahsantum Lianfusikum, begitu janji Allah dalam Surah Al Isra ayat 7. Kalau anda berbuat baik, sejatinya anda berbuat baik untuk diri anda sendiri.

Tak berlebihan kiranya jika sebelum menaiki kendaraannya di lokasi kunjungan tadi, kami melihat Mentan AAS menoleh sejenak ke belakang, seolah ingin memastikan dua pemuda ini baik-baik saja sebelum ditinggalkan. Felicitation, Salute.

Penulis adalah Peneliti Pusat Riset Perikanan — Badan Riset dan Inovasi Nasional yang juga aktif di Majelis Nasional KAHMI Bidang Maritim, Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar, Korps Muballigh Muhammadiyah Depok, Wasilah MUI Depok, KKSS Depok dan Content Writer di Kabarika.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *