KABARIKA.ID, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan bahwa pasokan bawang merah secara nasional dalam kondisi aman, meskipun sempat terjadi dinamika harga menjelang dan sesudah Lebaran. Tren kenaikan harga bawang merah yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh belum pulihnya aktivitas jual beli di pasar induk dan eceran, serta terbatasnya tenaga kerja akibat libur Lebaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring berakhirnya masa libur, distribusi dari sentra produksi menuju pasar-pasar utama mulai kembali meningkat. Pasokan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), yang menjadi barometer harga nasional, terus menunjukkan tren positif.
Menurut salah satu petugas PIKJ, Suminto, menyebutkan, bahwa sejak Jumat (4/4/2025) pagi, sebanyak 18 mobil atau setara 64 ton bawang merah masuk ke PIKJ. “Perkiraan pekan depan sudah kembali normal. Dibilang normal kalau masuknya bawang merah ke Induk sekitar 25 mobil atau setara 90 – 100 ton sehari,” jelasnya.

Hal ini juga diamini oleh Jhon Munthe, salah satu bandar bawang merah di pasar tersebut, yang menyatakan bahwa aktivitas diperkirakan kembali pulih sepenuhnya pada akhir pekan ini. “Hari Minggu nanti juga mungkin sudah normal lagi. Sudah selesai lebaran soalnya”, ungkapnya.
Harga bawang merah di PIKJ untuk kualitas super di angka Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, sedangkan untuk kualitas medium di angka Rp35.000-Rp38.000 per kilogram. Bawang yang masuk Jakarta saat ini selain dari Brebes, Indramayu, Kendal, juga dipasok dari Solok, Sumatera Barat.
Ujang, petani sekaligus champion bawang merah asal Cimenyan Kabupaten Bandung, mengonfirmasi bahwa pengiriman bawang merah baru sekitar 30% karena lapak di pasar masih banyak yang belum buka. Bahkan beberapa pasar baru 25% dari normalnya. “Harga nya masih di kisaran Rp30.000 hingga Rp Rp40.000 untuk jenis Batuijo. April – Mei ini panen nyambung lagi di Bandung Raya dan sekitarnya,” ujarnya.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Andi Muhammad Idil Fitri, menegaskan bahwa ketersediaan pasokan bawang merah sangat mencukupi. Berdasarkan Early Warning System Bawang Merah Nasional, produksi siap konsumsi bulan April mencapai lebih dari 100.000 ton. “Pasokan April pasca-Lebaran secara umum aman. Banyak panenan dari Indramayu, Pantura, Solok, dan Bandung Raya yang siap mengamankan pasokan nasional”, imbuh Idil.
Sejalan dengan pernyataan Idil, Champion Bawang Merah Kabupaten Solok, Amri Ismail menjelaskan bahwa sebagai runner up sentra bawang merah nasional setelah Brebes, selalu ada pertanaman dan panenan bawang merah sepanjang tahun di Kabupaten Solok.
”Kami sudah mengatur jadwal tanam bersama kelompok tani mitra Champion. Kami atur ketika di Jawa belum panen, kami panen. Demikian sebaliknya saat di Jawa bulan Mei nanti tanam raya, kami mengurangi penanaman. Hasilnya, dari awal Ramadan sampai sekarang, panenan di Solok mampu membantu pengamanan pasokan ke Jawa dengan harga terjaga baik di petani. Kami rutin kirim ke seluruh wilayah Sumatra dan sebagian Jawa”, tandasnya.
Kementerian Pertanian terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan para Champion bawang merah di berbagai sentra produksi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan lancar, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan bawang merah bagi masyarakat. (*)