Oleh: Firmansyah S. S (Alumni Unhas Asal Takalar/Sekretaris BARET ICMI Takalar)
KABARIKA.ID, TAKALAR— Kabupaten Takalar merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang mengalami peralihan kepemimpinan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Takalar kini dipimpin oleh seorang kepala daerah bernama Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye M.M.
Bupati yang akrab disapa Daeng Manye itu, dikenal sebagai sosok pemimpin visioner dengan ciri khas kepemimpinannya yang berbasis digitalisasi. Sejak awal, ia memperlihatkan kapasitasnya melalui pikiran-pikiran yang relevan dengan perkembangan zaman. Terutama yang berkesesuaian pada arus teknologi.
Melalui visi digitalisasi, Takalar hendak dilabuhkannya menjadi daerah yang maju dan berdaya saing di berbagai sektor kehidupan.
Cita-cita yang mulia. Tapi tentu, harus ditopang oleh kemampuan analitik dan pengalaman yang baik dari seorang pemimpin.
Daeng Manye memiliki keduanya. Ia punya kemampuan analisa yang tajam, juga punya pengalaman selama 32 Tahun di Telkom Indonesia. Jadi, soal digitalisasi, ia memang sosok yang tepat.
Dalam kacamata penulis, digitalisasi ini bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tapi juga soal peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pemanfaatan potensi daerah. Melalui digitalisasi, masyarakat tidak hanya dapat mengintip dunia. Tapi juga bisa memproklamirkan dirinya dan segala potensinya kepada dunia.
Seperti yang diungkap oleh Charles Baudelaire dalam tulisannya pada tahun 1864 yang berjudul “The Painter Of Modern Life”, digitalisasi menjadi ciri utama kemodernan yang dapat mendongkrak kesadaran manusia untuk melakukan akselerasi di berbagai sektor sehingga perubahan dan kemajuan tak bersifat kaku.
Apa yang disampaikan oleh Charles, sejalan dengan gerakan-gerakan Daeng Manye dalam realitas pemerintahannya. Ia mencoba mengelaborasi lebih jauh, bahwa prinsip dasar peningkatan kualitas daerah melalui digitalisasi dimulai dari kesadaran individu di berbagai sektor.
*Reformasi Birokrasi*
Di suatu malam yang hangat, penulis berbincang dengan Daeng Manye di Rumah Jabatannya. Pada perbincangan itu, penulis menemukan satu hal menarik, bahwa visi digitalisasi yang ingin dicapai olehnya dimulai dari upaya reformasi birokrasi.
Reformasi birokrasi yang hendak dilakukan Daeng Manye, senada dengan fakta pemerintahan yang terjadi di lapangan.
Baru-baru ini, Daeng Manye dibuat geram oleh para pegawai yang malas-malasan. Di saat ia menjadi inspektur upacara di halaman Kantor Bupati Takalar, Senin (5/5/2025), ia mendapati beberapa pegawai yang telat mengikuti upacara.
Bahkan, ia menemukan fakta di lapangan banyaknya pegawai pemerintahan yang hanya datang mengisi daftar hadir lalu hilang entah kemana.
Menurutnya, itu karakter buruk yang tidak boleh dibiasakan karena akan menghambat kemajuan. Ia belajar pada daerah-daerah di Jepang, kualitas karakter manusianya tidak terbelakang sehingga daerahnya bisa maju.
Jika diulik lebih dalam, birokrasi memang menjadi salah satu faktor utama dalam mewujudkan visi pemerintah. Mengapa demikian? Karena birokrasilah yang menjadi jantung pemerintahan. Pusat digerakkannya segala aktivitas yang bermuara pada visi dan program pemerintah.
Apa yang dilakukan Daeng Manye, dengan mendorong birokrasi yang produktif dan super ketat kedepannya adalah sesuatu yang tepat dan patut diacungi jempol. Itu penting dilakukan, sebagai upaya untuk menjauhkan para birokrat dari perilaku timpang seperti malas masuk kantor dan tidak disiplin waktu.
Kedepan, sistem absensi di lingkup pemerintahan akan diperketat dan diawasinya secara maksimal untuk memastikan kinerja pegawai. Tak main-main, Daeng Manye akan mengevaluasi secara tegas para pegawai yang tak disiplin dalam berbagai hal.
Tak hanya sampai disitu, birokrasi yang hendak dibangun oleh Daeng Manye juga mengarah pada peningkatan mutu pelayanan. Bahwa masyarakat harus lebih mudah mengakses segala bentuk pelayanan.
Salah satu program yang telah diluncurkan olehnya pada Bulan Maret lalu terkait itu ialah Monitoring Centre Digital (Command Centre). Command Centre dimunculkan sebagai pusat kendali canggih yang akan memantau aktivitas strategis di berbagai titik di wilayah Takalar.
Bahkan, di awal pemerintahannya, ia telah meluncurkan program Pojok Internet Desa (Poindes) di Kepulauan Tanakeke. Sebagaimana diketahui, akses internet sangat susah di wilayah itu. Masyarakat juga masih terhambat oleh jarak jika ingin mengurus sesuatu di pusat pemerintahan.
Karena itu, Daeng Manye menghadirkan program Poindes selain untuk memberikan fasilitas internet gratis, juga untuk memudahkan pelayanan berbasis digital bagi masyarakat setempat.
Kedepannya, pelayanan digitalisasi akan diberdayakan di desa-desa secara menyeluruh. Agar masyarakat desa menjadi sekumpulan individu yang memahami pentingnya pemanfaatan teknologi.
*Digitalisasi Lintas Sektor*
Tak dapat dipungkiri, sektor paling sublim dalam kemajuan suatu daerah adalah pendidikan. Bila pendidikannya merata dan akseleratif, maka kualitas sdm juga akan ikut meningkat.
Artinya, pendidikan menjadi ruang ditempahnya segala potensi yang dimiliki oleh seseorang. Karena itu, konsep pendidikan haruslah senantiasa mengimbangi kebutuhan zaman.
Lalu, bagaimana agar pendidikan di Takalar dapat akseleratif dengan perkembangan zaman?
Dari hasil diskusi penulis bersama Daeng Manye, ia telah melakukan gerakan pendidikan berbasis digital bernama “Sekolah Digital”. Program ini di launching pada Bulan Maret lalu.
Sekolah Digital yang dirintisnya itu dalam bentuk platform aplikasi School.id.
Melalui platform itu, pendidikan di Takalar menjadi lebih cekat. Bagaimana tidak, School.id menghubungkan dinas pendidikan, sekolah, guru, siswa, bahkan orang tua siswa untuk melakukan berbagai hal.
Untuk mengetahui program sekolah, orangtua siswa tak perlu lagi ke sekolah seperti pada umumnya. Mereka cukup mengaksesnya melalui aplikasi School.id. Bahkan, platform ini dapat digunakan untuk memantau nilai anaknya dan memastikan keberadaan anaknya di sekolah.
Tak hanya memudahkan orang tua, platform ini juga memudahkan akses para siswa. Mereka dapat mengakses jadwal pembelajaran, dapat mengetahui siapa gurunya, dan bisa digunakan untuk belajar online.
Para tenaga pendidik pun bisa melihat profil dan perkembangan anak didiknya sebagai bahan evaluasi.
Canggih bukan?
Oleh karena itu, menurut hemat penulis, langkah Daeng Manye mencetuskan Sekolah Digital benar-benar visioner. Karena program tersebut akan membuka khazanah pemikiran baru dalam sektor pendidikan. Bahwa pendidikan tidak hanya soal belajar tatap muka, tetapi juga soal kesadaran memanfaatkan teknologi yang lebih efektif.
Pada prinsipnya, Daeng Manye tidak hanya menekankan kemudahan urusan-urusan teknis, lebih dari itu secara substansial ia mencoba mendekatkan dan membiasakan insan akademis dengan kemajuan dunia.
Bagaimana di sektor lain? Apakah pemanfaatan kecanggihan teknologi hanya di terapkan pada sektor pendidikan?
Tentu saja tidak!
Di sektor pertanian, misalnya, Daeng Manye akan melakukan transformasi pertanian. Salah satunya melalui program demonstrasi penggunaan drone spraying. Seminggu setelah resmi menjabat, ia meluncurkan program tersebut.
Selama ini masyarakat kita menyemprot hama dengan alat pada umumnya yang memakan waktu lama. Sekarang, melalui drone spraying, penyemprotan hama hanya membutuhkan waktu rata-rata kurang lebih lima menit untuk 1 hektar sawah.
Menurut Steve Li, seorang Profesor madya Departemen Ilmu Tanaman, Tanah, dan Lingkungan di Fakultas Pertanian Universitas Auburn juga peneliti di Alabama Agricultural Experiment Station, ia mengatakan bahwa drone spraying adalah metode yang sangat tepat digunakan di sektor pertanian untuk meningkatkan mutu pertanian.
Kata Li, penggunaan drone di sektor pertanian sudah digunakan di belahan dunia lain seperti di Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat.
Coba bayangkan, alat-alat canggih yang digunakan oleh negara-negara maju itu, kini sudah dapat digunakan jugaoleh masyarakat Takalar. Ini merupakan satu langkah maju dari sebelumnya.
Terdapat begitu banyak ide dan program-program Daeng Manye untuk menjadikan Takalar sebagai daerah yang maju dan berdaya saing.
Tapi pada prinsipnya, semua visi digital Daeng Manye untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam di sektor agro dan maritim, memperkuat pertumbuhan ekonomi kreatif dan inovatif di sektor sosial, peningkatan kompetensi di sektor pariwisata dan seni budaya.
Semua visi digitalisasi dan pemanfaatan teknologi yang dicanangkan oleh Daeng Manye adalah ide yang mengglobal. Sehingga bagi penulis, visi tersebut adalah konsep ampuh mewujudkan Takalar yang maju dan berdaya saing. (*)

