Site icon KABARIKA

Zulfajri Basri Hasanuddin, Putra Mantan Rektor yang Ingin Membuktikan Identitas Diri

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Dinasti politik kampus kembali mewarnai Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Hasanuddin periode 2026-2030.

Dr. Eng. Ir. Zulfajri Basri Hasanuddin, M.Eng, yang tak lain adalah putra dari mantan Rektor Unhas, Prof. Basri Hasanuddin, resmi mendaftar sebagai bakal calon rektor.

Namun, berbeda dari asumsi banyak orang, Zulfajri menegaskan bahwa langkahnya maju dalam Pilrek murni adalah keinginannya sendiri, bukan atas dorongan atau warisan politik sang ayah. Bahkan saat pendaftaran, ia juga datang seorang diri.

“Ini adalah panggilan hati saya sendiri untuk berkontribusi lebih besar bagi almamater. Saya ingin membuktikan kemampuan dan komitmen saya atas nama diri sendiri, bukan sebagai bayang-bayang siapapun,” ujar Zulfajri yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan & Kerjasama di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).

Sebagai kandidat dengan latar belakang teknik dan pengalaman di bidang akademik serta kerjasama, Zulfajri datang dengan visi yang komprehensif. Visinya terdiri dari 10 pilar utama:
1. Peningkatan Kualitas Akademik
2. Digitalisasi dan Teknologi Modern
3. Penguatan Komunitas dan Keterlibatan Stakeholder
4. Fokus pada Kesejahteraan Mahasiswa
5. Riset dan Inovasi yang Berkelanjutan
6. Inklusi dan Diversitas
7. Kewirausahaan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif
8. Pelayanan Publik dan Pengabdian Masyarakat
9. Jaringan dan Kolaborasi Internasional
10. Sustainability dan Kesadaran Lingkungan.

Visi ini menunjukkan concern-nya pada modernisasi kampus, penguatan ekosistem akademik, dan kesejahteraan mahasiswa, yang mungkin menjadi pembeda dengan kandidat lainnya.

Langkah Zulfajri tak lepas dari bayang-bayang legasi sang ayah, Prof. Basri Hasanuddin, yang merupakan figur penting dalam sejarah Unhas. Namun, Zulfajri berusaha memisahkan antara warisan nama baik keluarga dengan tanggung jawab pribadinya sebagai seorang akademisi dan pemimpin.

“Saya menghormati dan bangga dengan jejak ayah di Unhas. Tapi saya di sini dengan kapasitas, rekam jejak, dan visi saya sendiri. Saya berharap masyarakat kampus dapat menilai setiap kandidat secara objektif,” tambahnya.

Di tengah persaingan ketat yang melibatkan rektor petahana Prof. Jamaluddin Jompa dan sejumlah profesor senior lainnya, Zulfajri harus bekerja keras untuk meyakinkan Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat (MWA) bahwa ia layak menjadi alternatif pemimpin baru.

Faktor kemudaan, latar belakang teknokratis, dan visi digitalisasinya mungkin menjadi poin plus yang dapat ditawarkan.

Pilrek Unhas 2026-2030 semakin menarik dengan keikutsertaan Zulfajri. Ia tidak hanya membawa visi transformasi, tetapi juga narasi pribadi tentang ingin diakui atas kemampuannya sendiri, melampaui legasi keluarga yang telah mapan. (*)

Exit mobile version