Site icon KABARIKA

Antisipasi Kehamilan Tak Terdeteksi di Tanah Suci, PPIH Sulsel Perketat Skrining Urin WUS hingga 2 Kali

KABARIKA.ID, MAKASSAR – Demi menekan angka risiko kesehatan dan komplikasi serius akibat kehamilan yang tidak terencana selama puncak ibadah haji, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar (Sulawesi Selatan) mengambil langkah tegas dengan memperketat prosedur pemeriksaan urin bagi seluruh Wanita Usia Subur (WUS).

Tidak lagi sekadar uji saring (screening) tunggal di asrama haji, petugas kini menerapkan kebijakan pemeriksaan berlapis dua kali terhadap sampel urin guna memastikan nol toleransi bagi jemaah yang berpotensi hamil sebelum lepas landas ke Arab Saudi.

Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya kewaspadaan PPIH terhadap fenomena unplanned pregnancy di tengah ritual haji yang sarat dengan aktivitas fisik ekstrem dan tekanan suhu tinggi.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, menegaskan bahwa pemeriksaan satu kali dianggap kurang efektif karena potensi human error atau kondisi hormon kehamilan (human chorionic gonadotropin/hCG) yang belum terbaca pada fase sangat dini atau pada kasus cryptic pregnancy (kehamilan samar).

“Kami tidak ingin ada jemaah perempuan yang harus mengalami perdarahan, kelelahan akut, atau bahkan keguguran di Arafah atau Mina hanya karena kehamilan yang tidak terdeteksi saat keberangkatan. Maka dari itu, kami lakukan pemeriksaan berlapis. Jika hasil meragukan pada tes pertama, akan langsung diulang dengan strip tes berbeda dan diverifikasi oleh petugas medis wanita,” ujar Ikbal di Posko Kesehatan Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026).

Selain pemeriksaan ganda, PPIH Sulsel juga mewajibkan para WUS untuk mengisi surat pernyataan siklus menstruasi terakhir di hadapan petugas. Data ini digunakan sebagai cross-check untuk mendeteksi ketidakwajaran siklus yang seringkali menjadi indikator awal kehamilan.

Langkah preventif ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan evaluasi penyelenggaraan haji tahun sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kasus keguguran dan pendarahan pada jemaah hamil muda menjadi salah satu penyumbang terbesar evakuasi darurat non-infeksi di sektor Mina dan Arafah.

“Di iklim Mekkah yang suhunya bisa mencapai 48 derajat Celsius, seorang wanita hamil muda sangat rentan mengalami dehidrasi berat dan heat exhaustion. Risiko terburuknya adalah syok hipovolemik akibat pendarahan yang membutuhkan penanganan intensif di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS),” lanjut Ikbal menambahkan.

Jika dalam pemeriksaan ketat ini ditemukan jemaah yang positif hamil, PPIH akan mengeluarkan rekomendasi medis untuk menunda keberangkatan (tunda terbang) demi keselamatan ibu dan janin. (*)

 

Exit mobile version