KABARIKA.ID, JAKARTA — Langkah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di perairan ibu kota mencuri perhatian.
Ikan sapu-sapu ini bukan sekadar persoalan jenis ikan, tetapi simbol terganggunya keseimbangan ekosistem. Ketika spesies invasif mendominasi hingga lebih dari 60 persen, menandakan kondisi alam yang tidak sehat.
Ikan sapu-sapu sebagai alternatif konsumsi murah, bahkan disebut-sebut memiliki khasiat kesehatan. Namun, di balik popularitasnya, ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan sebelum Anda memutuskan untuk mengonsumsinya.
Ikan sapu-sapu, atau dikenal secara ilmiah sebagai Hypostomus plecostomus, merupakan jenis ikan air tawar yang biasa hidup di dasar sungai. Ikan ini sering dijuluki “ikan pembersih” karena memakan lumut, kotoran, hingga sisa-sisa bahan organik di perairan.
1. Risiko Kandungan Logam Berat
Karena habitatnya berada di dasar sungai yang cenderung kotor, ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, zat ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan, terutama pada ginjal dan sistem saraf.
2. Paparan Bakteri dan Parasit
Lingkungan hidup ikan ini sering tercemar limbah, baik limbah rumah tangga maupun industri. Hal ini meningkatkan risiko ikan membawa bakteri atau parasit berbahaya. Jika tidak dimasak dengan benar, konsumsi ikan ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi.
3. Tekstur Daging yang Keras dan Tidak Lazim
Daging ikan sapu-sapu terkenal keras dan memiliki lapisan kulit tebal seperti perisai. Selain sulit diolah, bagian tubuhnya juga berpotensi menyimpan zat berbahaya lebih banyak dibanding ikan konsumsi biasa.
4. Minim Standar Keamanan Konsumsi
Berbeda dengan ikan konsumsi populer seperti nila atau lele, ikan sapu-sapu belum memiliki standar keamanan pangan yang jelas. Tidak ada jaminan bahwa ikan ini aman dikonsumsi, terutama jika berasal dari perairan tercemar.
5. Mitos Khasiat yang Belum Terbukti
Banyak klaim beredar bahwa ikan sapu-sapu bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim tersebut. Mengandalkan informasi yang tidak jelas justru bisa membahayakan kesehatan.
Meskipun terlihat sebagai sumber protein alternatif, konsumsi ikan sapu-sapu sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Risiko paparan logam berat, bakteri, dan lingkungan hidupnya yang tidak higienis membuat ikan ini kurang direkomendasikan untuk dikonsumsi secara rutin.
Lebih aman memilih ikan yang sudah jelas kualitas dan keamanannya. Jangan sampai niat hemat malah berujung masalah kesehatan. (*)

