KABARIKA.ID, MAKASSAR –– Di tengah tekanan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok dunia, penyaluran pupuk bersubsidi di Indonesia Timur justru menunjukkan tren positif.
Hingga pertengahan April 2026, serapan pupuk melonjak signifikan, menandakan distribusi tetap terjaga dan kebutuhan petani terpenuhi di tengah situasi global yang tidak menentu.
Kinerja distribusi pupuk di kawasan Indonesia Timur mencatat lonjakan tajam. Penebusan pupuk bersubsidi meningkat hingga 125 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Regional CEO 4 PT Pupuk Indonesia (Persero), Wisnu Ramadhani, mengungkapkan hingga 14 April 2026, total pupuk bersubsidi yang telah diserap petani di wilayah Indonesia Timur mencapai 332.255 ton.
Capaian ini meningkat drastis dibandingkan realisasi pada April 2025, yang menunjukkan adanya percepatan distribusi sekaligus tingginya kebutuhan pupuk di lapangan.
“Pupuk Indonesia terus berupaya untuk memastikan penyaluran pupuk bersubsidi tetap stabil, di tengah tatangan geopolitik dunia,” ujar Wisnu kepada wartawan Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, stabilnya distribusi pupuk tidak lepas dari kemampuan produksi dalam negeri, khususnya untuk pupuk urea yang didukung oleh ketersediaan bahan baku gas alam domestik.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan strategi diversifikasi sumber bahan baku lainnya dengan menggandeng pemasok dari negara di luar kawasan konflik global.
Langkah ini menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan produksi di tengah ketidakpastian internasional.
Wisnu menambahkan, peningkatan serapan pupuk di Indonesia Timur juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menyederhanakan tata kelola distribusi pupuk melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025.
Kebijakan tersebut dinilai mampu mempercepat akses petani terhadap pupuk bersubsidi, sekaligus memperbaiki sistem penyaluran yang sebelumnya dinilai cukup kompleks.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025.
Kebijakan ini membuat pupuk semakin terjangkau bagi petani.
Tak hanya itu, pada tahun 2026 pemerintah juga mulai mengalokasikan pupuk bersubsidi untuk sektor perikanan, sehingga memperluas cakupan penerima manfaat.
Wisnu memastikan, kondisi stok pupuk di wilayah Indonesia Timur saat ini berada dalam posisi aman dan siap disalurkan sesuai kebutuhan petani yang terdaftar.
Distribusi pupuk melalui Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) atau kios resmi juga dipastikan berjalan sesuai ketentuan, dengan harga yang tetap mengacu pada HET yang telah ditetapkan pemerintah.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pupuk Indonesia optimistis dapat terus menjaga stabilitas pasokan pupuk, sekaligus mendukung produktivitas sektor pertanian di tengah tantangan global yang masih berlangsung. (*)

