Oleh @iqbaldjawad#
Biasanya, setiap kali setiap saya diundang ke suatu kegiatan kuliah umum atau menjadi narasumber di luar Sulawesi Selatan, penjemputan di bandara selalu ditangani oleh pihak universitas setempat atau panitia penyelenggara.
Semua terasa formal, papan nama, dan sambutan singkat, lalu perjalanan menuju hotel atau lokasi acara. Rapi, sopan, tapi sering kali terasa berjarak dan serasa menjalankan protokol.
Namun, sejak lima hari lalu saya difasilitasi oleh Direktur Eksekutif, Salahuddin Alam dan Sekretrais Jenderal, Yusran Jusuf Ikatan AIumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) untuk berkomunikasi dengan Pengurus Wilayah IKA Unhas di Kalimantan Barat, suasana itu berubah.
Walaupun akan memberikan Kuliah Umum di hadapan civitas akademika Universitas Tanjung Pura Pontianak, saya dijemput di Bandara Supadio Pontianak oleh Tim IKA Unhas Kalimantan Barat yang mendapat tugas dari Ketua Pengurus Wilayah Kalimantan Barat, Bapak mantan Direktur Politeknik Negeri Pontianak dua periode (2015-2023), Dr. Ir. Muhammad Toashin Asha, M.Si.
Saat tiba di bandara, tidak ada papan nama resmi atau seragam panitia yang terlihat. Sebaliknya, beberapa wajah yang akrab, mantan mahasiswa saya meski lama tak berjumpa, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Mereka datang bukan karena kewajiban, melainkan karena rasa memiliki.
Sapaan mereka hangat dan spontan, jauh dari kesan formal. Obrolan langsung mengalir, bukan tentang agenda acara, melainkan tentang kenangan masa kuliah, kabar teman-teman lama, dan cerita kehidupan di perantauan. Perjalanan dari bandara pun terasa berbeda, lebih seperti pulang daripada sekadar tiba di tempat baru.
Selama perjalanan menuju rumah seorang alumni Unhasyang dituakan, untuk makan siang, terasa jelas bahwa penjemputan ini bukan hanya soal logistik. Ini adalah bentuk nyata dari ikatan yang terus dirawat. Para pengurus IKA Unhas Kalbar rela meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka, hanya untuk memastikan sesama alumni merasa diterima dan dihargai. Hal sederhana, namun penuh makna.
Momen itu menyadarkan saya, bahwa peran IKA Unhas tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka bukan hanya pelengkap, tetapi jembatan emosional yang menghubungkan sesama alumni dengan rasa kekeluargaan yang tulus. Bahkan, dalam banyak hal, kehadiran mereka justru menghadirkan kehangatan yang tidak selalu bisa diberikan oleh sistem formal.
Saya sadar bahwa, penjemputan di bandara bukan lagi sekadar bagian dari perjalanan, tetapi menjadi awal dari pertemuan yang penuh arti. Dari sana, terbangun kembali rasa kebersamaan, bahwa di mana pun berada, alumni Unhas selalu punya rumah, dan selalu ada tangan yang siap menyambut dengan hangat.
Cerita ini menjadi contoh bahwa merawat IKA Unhas, bukan sekadar menjaga hubungan lama, tetapi juga menciptakan nilai baru. Dengan komitmen, kebersamaan, dan visi yang jelas, IKA Unhas telah menjadi kekuatan sosial yang memberi manfaat nyata. Dari Kalimantan Barat, semangat itu terus hidup, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ikatan yang kokoh.
Ikatan yang kokoh ini, diyakini oleh teman-teman alumni IKA Unhas Kalbar merupakan buah dari kerja-kerja dari Pengurus IKA Unhas yang dikomandoi oleh Bapak Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP (AAS) yang juga sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Saya yakin jika hal ini yang membuat Bapak AAS disenangi dan disepakati kembali melanjutkan kepengurusan IKA Unhas 5 tahun kedepan.

