KABARIKA.ID, JAKARTA — Di tengah tekanan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok pangan dan energi dunia, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kian solid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menilai kecukupan pasokan pupuk menjadi faktor kunci yang mendorong percepatan swasembada beras nasional, bahkan melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam forum Economic Briefing 2026, Hashim mengungkapkan bahwa posisi Indonesia saat ini relatif lebih kuat dibanding banyak negara lain, termasuk di kawasan regional.

Ketika sejumlah negara menghadapi kelangkaan pupuk akibat gejolak global, Indonesia justru berada dalam kondisi aman, bahkan menjadi rujukan bagi negara lain.

Ia menyebut sejumlah negara seperti Australia dan India telah mengajukan permintaan pasokan urea dari Indonesia dalam jumlah besar.

Fenomena ini, menurutnya, menjadi indikator bahwa kapasitas produksi pupuk nasional berada pada level yang kompetitif dan terpercaya.

Hashim menilai capaian tersebut tidak lepas dari peran PT Pupuk Indonesia (Persero) yang dinilai mampu menjaga ketersediaan pupuk di dalam negeri.

Stabilitas pasokan ini kemudian berdampak langsung pada sektor pertanian, khususnya dalam menjaga produktivitas pangan.

“Ketahanan pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan pupuk. Ketika pupuk terjamin, maka produksi pertanian juga bisa stabil bahkan meningkat,” kata Hashim kepada wartawan Rabu (6/5/2026).

Ia juga menyoroti kinerja sektor pertanian yang dinilai berhasil mencatatkan kemajuan signifikan.

Produksi beras nasional disebut telah mencapai titik yang kuat, ditandai dengan cadangan beras pemerintah yang kini telah melampaui 4 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam waktu dekat.

Menurut Hashim, capaian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan swasembada beras Indonesia.

Bahkan, ia menyebut perkembangan tersebut melampaui ekspektasi awal pemerintah yang sebelumnya menargetkan swasembada beras pada 2029.

“Ini lompatan besar. Kita melihat percepatan yang luar biasa dalam penguatan ketahanan pangan nasional,” katanya.

Ia juga mengaitkan capaian tersebut dengan sejarah swasembada beras Indonesia pada era 1980-an di bawah kepemimpinan Soeharto, ketika Indonesia sempat mendapatkan pengakuan internasional dan bahkan melakukan ekspor beras.

Meski demikian, Hashim mengingatkan bahwa tantangan pangan belum sepenuhnya selesai. Beberapa komoditas seperti gandum dan kedelai masih bergantung pada impor. Namun, ia optimistis potensi pengembangan varietas lokal dapat menjadi solusi jangka panjang.

Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa Indonesia kini memainkan peran strategis sebagai penyeimbang pasokan pupuk di kawasan.

Menurutnya, keberhasilan ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang memastikan industri pupuk tetap berjalan optimal.

Ia menekankan bahwa pupuk merupakan komponen krusial dalam sistem pertanian. Tanpa ketersediaan pupuk yang memadai dan terjangkau, produktivitas pangan akan sulit dicapai.

“Pupuk adalah faktor penentu. Karena itu, negara harus menjamin dua hal utama: ketersediaan dan keterjangkauan bagi petani,” ujarnya.

Rahmad menambahkan, upaya menjaga distribusi pupuk juga terus diperkuat agar tepat sasaran, sehingga dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh petani di seluruh Indonesia.

Dengan fondasi pasokan pupuk yang kuat dan dukungan kebijakan yang terarah, Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada beras secara berkelanjutan. (*)