KABARIKA.ID, GOWA– Memasuki tahun 2026, peta geopolitik global berubah drastis. Asia Tenggara yang selama ini dianggap stabil, kini justru menjadi panggung persaingan kekuatan dunia (Great Power Rivalry). Lalu, di mana posisi Indonesia?
Pertanyaan krusial inilah yang mengemuka dalam Dialog Kebangsaan yang akan digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin (Unhas) Kabupaten Gowa, Sabtu, 9 Mei 2026.
Bertempat di Kedai Dewi Sungguminasa Gowa, mulai pukul 13.00 Wita, diskusi bertajuk “Gejolak Geopolitik Global dan Dampaknya terhadap Kedaulatan dan Pertahanan Negara” diprediksi berjalan hangat dan kritis
Bukan Sekadar Sengketa Batas
Ketua IKA Unhas Gowa, Irwansyah Sukarana menegaskan bahwa ancaman terhadap kedaulatan saat ini tidak lagi hanya berupa sengketa batas darat atau laut.
“Sekarang ancamannya sudah merambah ke ruang udara, bahkan intervensi asing dalam bentuk kerja sama yang tidak berimbang. Keterbukaan terhadap dunia jangan sampai dibayar dengan gadai kedaulatan,” tegasnya.
Dalam dialog yang akan digelar besak itu, akan menghadirkan Anggota DPR dan Pakar Politik
Dialog ini menghadirkan dua pembicara kunci:
1. Dr. Syamsu Rizal, M.I. – Anggota Komisi I DPR RI
Beliau menekankan bahwa Komisi I memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan setiap MoU pertahanan tetap berpijak pada prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif.
“Indonesia tidak boleh menjadi pion bagi kepentingan negara mana pun,” ujarnya.
2. Dr. H. Adi Suryadi Culla – Pakar Politik
Beliau mengingatkan bahwa ancaman asing saat ini bisa melumpuhkan sendi-sendi kedaulatan tanpa perlu invasi fisik.
“Perang asimetris, disinformasi, hingga tekanan ekonomi adalah senjata baru. Jika tidak paham, generasi muda bisa jadi korban tanpa sadar,” jelasnya.
Semangat Sultan Hasanuddin: Siri’ na Pacce
Yang membuat diskusi nantinya terasa istimewa adalah napas lokal yang kuat. Para pembicara dan peserta sama-sama menggaungkan semangat Sultan Hasanuddin – figur perlawanan terhadap hegemoni asing dari Gowa.
“Semangat ‘Siri’ na Pacce’ bukan sekadar romantisme masa lalu. Itu kompas moral yang harus hidup dalam sanubari setiap generasi Gowa. Harga diri bangsa tidak bisa dinegosiasikan atas nama diplomasi apa pun,” ujar salah satu peserta diskusi.
Pemuda: Bukan Penonton, Tapi Pengawal Narasi
Pesan utama dari dialog ini jelas: generasi muda, khususnya di Kabupaten Gowa, harus bangkit dari posisi penonton.
Mereka ditantang untuk memahami bahwa ancaman terhadap Indonesia saat ini bersifat multidimensi. Tidak perlu tank atau kapal perang asing masuk ke wilayah RI; cukup dengan guncangan informasi, perpecahan digital, atau ketergantungan ekonomi, kedaulatan bisa tergerus perlahan.
“Diskusi ini nantinya adalah jembatan antara kebijakan di DPR RI dengan aspirasi pemuda daerah. Ibu pertiwi milik rakyat. Dan menjaga kedaulatan adalah tanggung jawab semesta,” pungkas Irwansyah Sukarana.
Penutup yang Menggetarkan
Acara nantinya ditutup dengan deklarasi sikap: Tolak intervensi asing dalam bentuk apa pun. Para peserta dialog seperti ini harus terus digalakkan, tidak hanya di Gowa, tapi di seluruh Sulawesi Selatan.
Karena sejarah telah membuktikan: dari tanah Gowa-lah perlawanan terhadap ketidakadilan sering kali pertama kali bergema. Kini saatnya generasi penerus mengambil alih estafet itu – bukan dengan pedang, tapi dengan kesadaran kritis dan keberanian menyuarakan kebenaran. (*)

