KABARIKA.ID, SIDRAP — Tingginya penebusan pupuk bersubsidi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sepanjang 2026 menjadi sinyal meningkatnya aktivitas dan semangat tanam petani.
Di tengah lonjakan permintaan tersebut, PT Pupuk Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Sidrap mulai mematangkan strategi distribusi sekaligus mendorong transformasi pertanian modern untuk mendongkrak produktivitas pangan daerah.
Hal itu mengemuka dalam rapat koordinasi mitigasi penyaluran pupuk bersubsidi yang dipimpin Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif di Ruang Rapat Bupati Sidrap.
Rakor tersebut dihadiri jajaran pemerintah daerah, distributor pupuk, penyuluh pertanian, hingga perwakilan PT Pupuk Indonesia, Aidil.
Dalam forum itu, Pemkab Sidrap menekankan pentingnya pengawasan distribusi pupuk agar penyalurannya tepat sasaran, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan petani di lapangan.
Bupati Syaharuddin mengapresiasi capaian distribusi pupuk di Sidrap yang dinilai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dipaparkan, volume penjualan pupuk di Sidrap pada 2025 mencapai sekitar 58 ribu ton dengan nilai transaksi berkisar Rp90 miliar.
Jika dihitung dari total perputaran pembelian masyarakat untuk pupuk urea dan Phonska, nilainya diperkirakan menembus Rp180 miliar hingga Rp200 miliar per tahun.
Menurut Syaharuddin, sektor pertanian Sidrap memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila didukung pola budidaya yang lebih modern dan efisien.
“Dengan total produksi pertanian mencapai Rp4,9 triliun, kebutuhan pupuk menjadi salah satu komponen penting. Karena itu kita dorong pola pertanian modern agar produktivitas meningkat,” kata Syahar kepada wartawan Minggu (24/5/2026).
Pemkab Sidrap saat ini mulai menguji pola pemupukan baru di wilayah Kelurahan Majelling dan Kecamatan Watang Sidenreng.
Dalam skema tersebut, penggunaan pupuk urea dan Phonska ditingkatkan dari 500 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare. Sementara pupuk organik Petrokimia dinaikkan dari 500 kilogram menjadi 3 ton per hektare. Penggunaan benih juga ditingkatkan dari 30 kilogram menjadi 80 kilogram per hektare.
Syaharuddin optimistis metode baru itu mampu meningkatkan hasil produksi petani.
“Kalau jumlah tanaman lebih banyak, maka kebutuhan nutrisinya juga harus bertambah. Kita ingin hasil panen yang selama ini rata-rata 9 ton per hektare bisa meningkat lagi,” katanya.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Sidrap meminta PT Pupuk Indonesia bersama Penyuluh Pertanian Lapangan aktif melakukan pendampingan dan transfer pengetahuan kepada petani.
Menurut Syaharuddin, distribusi pupuk tidak cukup hanya memastikan stok tersedia, tetapi juga harus dibarengi edukasi terkait pola tanam dan pemupukan yang efektif.
“PPL harus hadir mendampingi petani sejak awal. Jangan hanya distribusi pupuk berjalan, tetapi transformasi ilmunya tidak sampai ke petani,” tegasnya.
Sementara itu, Aidil dari Pupuk Indonesia mengungkapkan realisasi penebusan pupuk bersubsidi di Sidrap hingga pertengahan Mei 2026 telah mencapai 27 persen dari total alokasi.
Dari tiga jenis pupuk utama, yakni urea, Phonska, dan pupuk organik Petro, pupuk Phonska menjadi yang paling banyak ditebus dengan tingkat serapan mencapai 38 persen.
Menurut Aidil, angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir untuk periode April hingga September.
“Kami bersyukur tahun ini menjadi periode dengan penebusan tertinggi. Ini menunjukkan semangat petani Sidrap untuk bercocok tanam semakin tinggi,” ujarnya.
Lonjakan signifikan juga terlihat pada pupuk urea. Pada Januari 2026, penebusan pupuk urea mencapai 1.970 ton atau naik tajam dibanding Januari tahun sebelumnya yang berada di angka 1.282 ton.
Tren kenaikan juga terjadi pada April. Jika pada April 2024 penebusan hanya sekitar 380 ton, maka pada April 2026 melonjak hingga 1.900 ton.
Menurut Aidil, tingginya serapan pupuk berkaitan erat dengan peningkatan indeks pertanaman di sejumlah wilayah Sidrap.
Secara kumulatif, dari total alokasi pupuk subsidi Sidrap sebesar 58.780 ton, hingga Mei 2026 sudah tersalurkan sekitar 15.713 ton.
Permintaan tertinggi tercatat di Kecamatan Watang Pulu, Panca Lautang, dan Pitu Riase yang saat ini mulai memasuki musim tanam baru.
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan, Pupuk Indonesia terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Bagian Ekonomi Pemkab Sidrap guna memetakan prioritas distribusi berdasarkan luas tanam riil.
“Stok pupuk di gudang penyangga Makassar aman. Tinggal bagaimana distribusi di tingkat kabupaten bisa berjalan proporsional sesuai kebutuhan petani,” jelas Aidil.
Selain fokus pada distribusi pupuk, Pemkab Sidrap juga menyiapkan dukungan infrastruktur pertanian melalui pembangunan irigasi sekunder senilai Rp24 miliar yang dijadwalkan mulai dikerjakan Juli mendatang.
Normalisasi Sungai Saddang juga direncanakan dimulai Oktober untuk mendukung target Indeks Pertanaman (IP) 300 di wilayah Sidrap. (*)

