KABARIKA.ID — PT Pupuk Indonesia (Persero) mulai mempercepat transformasi bisnis menuju industri energi hijau dengan menyiapkan pembangunan pabrik metanol dan pengembangan amonia rendah karbon. Langkah tersebut diproyeksikan menjadi bagian penting dalam mendukung program B50 pemerintah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Di saat rantai pasok pupuk dunia menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, Pupuk Indonesia justru memastikan ketahanan produksi nasional tetap aman. Perusahaan pelat merah itu kini tidak hanya fokus menjaga pasokan pupuk domestik, tetapi juga mulai memosisikan diri sebagai pemain strategis dalam ekonomi rendah karbon.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, mengatakan transformasi menuju industri hijau menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.
Menurut dia, sektor industri harus mampu menjaga produktivitas sekaligus memenuhi target penurunan emisi karbon.
“Transformasi menuju ekonomi rendah karbon bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Industri harus tetap melaju kencang, namun target-target langit biru juga wajib tercapai,” ujarnya dalam IDE Katadata Future Forum 2026, Jumat (29/5/2026).
Pupuk Indonesia saat ini tengah menyiapkan strategi dekarbonisasi melalui pengembangan green ammonia dan blue ammonia.
Green ammonia diproduksi menggunakan energi terbarukan, sementara blue ammonia memanfaatkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk menekan emisi karbon dari proses produksi.
Selain itu, perusahaan juga mematangkan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur.
Proyek tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama implementasi program B50 pemerintah yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Pupuk Indonesia menilai Indonesia memiliki posisi yang cukup aman dalam sektor pupuk.
Yehezkiel menyoroti ancaman gangguan distribusi global di Selat Hormuz yang berpotensi memengaruhi sekitar 30 persen pasokan urea dunia.
Namun, menurut dia, Indonesia tidak terlalu terdampak karena memiliki pasokan gas alam domestik yang relatif stabil sebagai bahan baku utama produksi pupuk.
Pada tahun 2026, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan berada di angka 6,3 juta ton.
Kondisi surplus tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan stok pupuk nasional sekaligus membuka peluang Indonesia ikut menjaga stabilitas pasar global.
Selain fokus pada teknologi hijau, Pupuk Indonesia juga mengembangkan pendekatan Nature-Based Solutions (NBS) dengan melibatkan masyarakat dan kelompok tani.
Program tersebut dilakukan melalui pemanfaatan lahan tidur untuk menyerap emisi karbon sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
Pupuk Indonesia optimistis kombinasi antara inovasi teknologi, ketahanan operasional, dan penguatan sektor pertanian dapat memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain utama industri pupuk sekaligus energi hijau di masa depan.(*)

