Site icon KABARIKA

Pemerintah akan Kawal Rendemen untuk Program BR dan Perluasan

KABARIKA.ID, JAKARTA– Dalam rangka mewujudkan swasembada gula konsumsi maka pemerintah melakukan kegiatan bongkar ratoon dan perluasan yang sudah berlangsung sejak tahun 2025. Tahun ini sejumlah areal pertanaman yang menerima bantuan akan segera memasuki masa giling. Pencapaian peningkatan produksi dan rendemen tentu menjadi indikator suksesnya program.

Kaitan itu pemerintah akan melakukan investigasi lapang bekerjasama dengan lembaga berkompeten dan melakukan pengawalan tebang di wilayah Jawa, Lampung dan Sulsel.
Haris Bahrun, tenaga ahli menteri pertanian menyebutkan Kementan akan menurunkan tim yg berkompeten utk melihat capaian produksi dan rendemen di tingkat petani.

“Angka yang harusnya dicapai adalah peningkatan produksi 40 sampai dengan 50 % dari produktivitas sebelum mengikuti program. Dengan rendemen meningkat 2 %. Untuk wilayah Jawa harapan kami produksi di atas 1000 kuintal/ha dengan rendemen berkisar 8 – 10 %. Meskipun bisa jadi terkoreksi di tingkat pabrik gula namun tidak mungkin sama dengan rendemen sebelum mengikuti program”, jelas  Haris Bahrun.

Tindak lanjut dari hasil kajian tersebut akan dilaksanakan pengawalan rendemen di tingkat pabrik khususnya di PG milik pemerintah yang menjadi pendukung program ini. Prof Haris menyakini seharusnya akan ada kenaikan rendemen tebu yang signifikan yang berdampak pada kenaikan produksi gula.

Maryono, petani tebu asal Rembang sekaligus pengurus APTRI Provinsi Jawa Tengah. Ada gap yg nyata antara PG swasta dengan PG milik pemerintah. Hasil rendemen di musim giling lalu di PG swasta mencapai rata-rata 7% sd 7,5 %, sementara PG milik pemerintah 5 % sd 6 %, dengan produksi 300 sd 500 kuintal per ha.

“Untuk kegiatan BR dan Perluasan di Rembang seluas 1500 ha saya perkirakan produksi mencapai di atas 700 kuintal/ha dengan rendemen seharusnya di angka 7 sd 9 %. Mengingat petani telah menanam varietas baru yg unggul”, jelas Maryono.

Sementara itu Budi Susilo, Ketua KUD Sumber Bahagia, menyebutkan bahwa tahun 2025 yang lalu ada sekitar 6000 ha kebun anggota yang mengikuti program BR dan Perluasan. Ia perkirakan produksi meningkat di atas 1.200 kuintal/ha dengan rendemen 8 sd 9,5 %”.

” Keberhasilan bongkar ratoon tidak hanya ditentukan penyediaan benih bermutu, sarana produksi dan luasan yang diremajakan. Disinilah rendemen menjadi faktor menentukan Namun juga ditentukan kepastian pendapatan setelah panen. Kaitan dengan itu kami mengusulkan kepada Bapak Menteri Pertanian adanya pengawalan khusus terhadap penetapan rendemen tebu petani peserta bongkar ratoon khususnya 2025. Kami juga mengusulkan adanya jaminan Rendemen Minimal (JRM) bagi peserta bongkar ratoon. Jika ini diterapkan akan memberikan insentif bagi petani mengikuti program pemerintah pada tahun berikutnya”, kata Budi.

Sri Haryono, petani peserta bongkar ratoon yang berlokasi di Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Jawa Tengah mengaku sebelum ikut program produktivitas hanya 600 kuintal/ha, dengan rendemen hanya
5-6,5 %. Ia berharap dengan adanya bongkar ratoon produktivitas bisa meningkat menjadi 900 kuintal/ha dengan rendemen 7,5 %. Apalagi sudah mengembangkan
varietas unggul seperti NXI 4T, panjalu, dan PS 862. Sementara Agus, petani peserta BR asal Sulang, Rembang, Jateng, mengaku hanya mendapatkan produksi 400 kuintal/ha dengan rendemen hanya 6 %. Ia berharap bisa ada kenaikan protas hingga 800 kuintal dan rendemen 8 %.

Pada kesempatan lainnya Prof. Dr. Yunus Muza Pakar Budidaya Tebu dari Universitas Hasanuddin bersama pakar tebu lainnya siap membantu dan mendukung Kementerian Pertanian meningkatkan produktivitas tebu dan Peningkatan rendemen tebu dalam rangka mewujudkan swasembada gula di tahun 2028.

Sementara itu Learning Centre Indonesia sebagai pusat kajian telah melakukan insiatif melakukan kajian & mapping potensi peningkatan produktivitas di berbagai daerah penghasil tebu.

“Kami sudah melakukan collecting data pendahuluan prihal potensi peningkatan protas dan rendemen yang akan dilaporkan kepada Bapak Menteri Pertanian”, kata Ichi Indrawa Direktur Eksekutif Learning Centre Indonesia. (*)

Exit mobile version