Site icon KABARIKA

Hadapi Potensi El Nino 2026, Pupuk Indonesia Pastikan Stok Pupuk Bersubsidi Aman untuk Petani

KABARIKA.ID, JAKARTA – PT Pupuk Indonesia memastikan pasokan pupuk bersubsidi tetap aman dan tersedia bagi petani di seluruh Indonesia di tengah potensi fenomena El Nino yang diperkirakan memperkuat musim kemarau pada tahun 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional saat curah hujan berpotensi menurun dalam beberapa bulan ke depan.

Hingga 8 Juni 2026, total stok pupuk yang disiapkan Pupuk Indonesia mencapai 1,17 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas 836.672 ton pupuk bersubsidi dan 338.072 ton pupuk non-subsidi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Pupuk Indonesia siap mendukung ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi El Nino dengan memastikan ketersediaan pupuk bagi petani di seluruh Indonesia,” ujar Vice President (VP) Manajemen Stakeholder Pupuk Indonesia, Susatyo Jati Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, ketersediaan stok pupuk bersubsidi saat ini mencakup berbagai jenis pupuk yang dibutuhkan petani. Per 8 Juni 2026, stok Urea tercatat sebanyak 507.853 ton, NPK 256.781 ton, NPK Kakao 11.200 ton, SP-36 sebanyak 17.912 ton, ZA 3.303 ton, serta pupuk organik 39.623 ton.

Menurut Jati, ketersediaan stok tersebut ditopang oleh operasional pabrik yang berjalan normal dan terus dijaga keandalannya. Dengan demikian, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pupuk sesuai alokasi yang telah ditetapkan pemerintah untuk mendukung sektor pertanian nasional.

Pada tahun 2026, pemerintah menetapkan alokasi pupuk bersubsidi sebesar 9,55 juta ton. Alokasi tersebut terdiri atas 4,5 juta ton pupuk Urea, 4,5 juta ton pupuk NPK, serta sekitar 550 ribu ton pupuk lainnya yang mencakup pupuk organik dan ZA.

Selain memastikan ketersediaan stok, Pupuk Indonesia juga mencatat peningkatan realisasi penyaluran pupuk bersubsidi. Hal ini didorong oleh berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah dalam proses penebusan pupuk oleh petani.

Hingga 31 Mei 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi secara nasional telah mencapai sekitar 4 juta ton atau 41,1 persen dari total alokasi tahun ini. Capaian tersebut menunjukkan distribusi pupuk terus berjalan dan dimanfaatkan petani untuk mendukung aktivitas budidaya di berbagai daerah.

Sementara itu, Pakar Klimatologi BMKG, Indra Gustari, mengingatkan bahwa potensi El Nino tahun ini perlu diwaspadai karena dapat memperkuat musim kemarau dan menyebabkan curah hujan menjadi lebih rendah dari biasanya.

Menurutnya, dampak fenomena tersebut berpotensi dirasakan oleh berbagai sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan air, termasuk sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.

Indra menjelaskan, periode Juli hingga September diperkirakan menjadi fase dengan curah hujan rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama daerah-daerah yang berada di selatan garis ekuator. Kondisi tersebut bahkan diprediksi masih berlanjut hingga Oktober mendatang.

Ia menambahkan, curah hujan selama periode Juli hingga Oktober diperkirakan berada di bawah kondisi normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

Karena itu, kesiapan ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah potensi tekanan iklim. Dengan stok yang mencukupi serta distribusi yang terus berjalan, Pupuk Indonesia optimistis kebutuhan petani tetap dapat terpenuhi sehingga target produksi pangan nasional dapat terus terjaga sepanjang musim kemarau tahun ini.(*)

Exit mobile version