Site icon KABARIKA

Di Hadapan 100 Ribu Petani dan Nelayan, Mentan Amran Paparkan Lompatan Besar Pangan di Era Presiden Prabowo

KABARIKA.ID, GORONTALO – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan berbagai capaian sektor pertanian dan pangan nasional di hadapan sekitar 100 ribu peserta Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026). Menurutnya, berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang berpihak kepada petani telah mendorong peningkatan produksi, kesejahteraan petani, hingga memperkuat fondasi swasembada pangan nasional.

Di hadapan Presiden Prabowo dan puluhan ribu petani serta nelayan dari seluruh Indonesia, Mentan Amran menyampaikan apresiasi atas kebijakan pemerintah yang dinilai memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian.

Salah satu kebijakan yang paling dirasakan petani adalah penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Menurut Mentan Amran, kebijakan tersebut merupakan sejarah baru karena selama puluhan tahun harga pupuk cenderung terus meningkat.

“Bapak Presiden, kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, harga pupuk selalu naik, tetapi pada masa kepemimpinan Bapak justru turun 20 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mentan Amran.

Selain menurunkan harga pupuk, pemerintah juga melakukan deregulasi dan penyederhanaan distribusi pupuk sehingga akses petani terhadap sarana produksi menjadi lebih cepat dan mudah.

Mentan Amran kemudian memaparkan capaian produksi pangan nasional yang terus meningkat. Berdasarkan laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.

“Dua hari lalu FAO mengumumkan bahwa produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton dan menjadi yang tertinggi keempat di dunia. Ini diumumkan oleh FAO, bukan oleh kita,” katanya.

Peningkatan produksi tersebut turut berdampak pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sementara pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir berdasarkan data BPS.

“Ini adalah hasil kerja keras petani dan nelayan Indonesia yang terus menjaga produksi pangan nasional,” ujar Mentan Amran.

Dari sisi perdagangan, kinerja sektor pertanian juga menunjukkan tren positif. Ekspor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor menurun sekitar Rp41 triliun seiring berhentinya impor beras medium.

“Artinya ada tambahan nilai ekonomi yang sangat besar yang kembali ke sektor pertanian dan dinikmati petani Indonesia,” katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor pertanian, pemerintah juga menjalankan program hilirisasi komoditas strategis seperti kakao, jambu mete, dan tebu dengan total luasan mencapai 870 ribu hektare. Program tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja baru di pedesaan.

“Targetnya, hilirisasi ini dapat menciptakan hingga tiga juta lapangan kerja sampai tahun 2029. Seluruh bantuan mulai dari bibit, penanaman hingga pengolahan diberikan secara gratis kepada petani,” jelasnya.

Mentan Amran juga menyoroti keberhasilan pemerintah menjaga harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit agar kembali membaik setelah sempat mengalami penurunan. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan melalui sinergi pemerintah bersama aparat penegak hukum untuk memastikan petani sawit mendapatkan harga yang lebih adil.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat tata kelola sektor pertanian melalui penegakan hukum terhadap berbagai praktik yang merugikan petani. Bersama aparat penegak hukum, Kementerian Pertanian telah menindak berbagai pelanggaran serta melakukan pembenahan internal guna memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran.

Menutup laporannya, Mentan Amran menegaskan bahwa berbagai capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara petani, nelayan, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

“Terima kasih Bapak Presiden atas seluruh kebijakan yang berpihak kepada petani. Hari ini petani Indonesia merasakan manfaatnya secara langsung. Semoga swasembada pangan yang kita cita-citakan dapat terus berlanjut dan semakin kuat ke depan,” tutup Mentan Amran.

PENAS XVII menjadi momentum konsolidasi nasional bagi petani dan nelayan Indonesia sekaligus menunjukkan optimisme besar menuju swasembada pangan berkelanjutan. Di hadapan sekitar 100 ribu peserta yang hadir, capaian-capaian yang dipaparkan Mentan Amran memperlihatkan bahwa transformasi sektor pertanian nasional tengah bergerak dalam jalur yang semakin kuat dan menjanjikan. (*)

Exit mobile version