Site icon KABARIKA

Pelajaran Berharga dari PENAS XVII Petani Nelayan di Kabupaten Gorontalo

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani Nelayan di Kabupaten Gorontalo telah usai. Tenda-tenda dibongkar, panggung diturunkan, dan puluhan ribu peserta kembali ke daerah masing-masing. Namun, yang sesungguhnya tertinggal bukanlah jejak sebuah perhelatan, melainkan pelajaran besar tentang bagaimana Indonesia seharusnya membangun sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan, penggerak ekonomi rakyat, dan penyangga peradaban bangsa.

PENAS XVII mempertemukan petani, nelayan, insan kehutanan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam satu ruang dialog nasional. Perhelatan ini membuktikan bahwa pertanian tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan produksi, tetapi sebagai ekosistem yang menghubungkan inovasi, teknologi, pasar, dan kesejahteraan masyarakat.
Pelajaran pertama adalah bahwa pertanian memiliki daya ungkit ekonomi yang luar biasa. Kehadiran puluhan ribu peserta menggerakkan UMKM, sektor transportasi, penginapan, kuliner, hingga perdagangan lokal. Artinya, investasi di sektor pertanian bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

Pelajaran kedua, masa depan pertanian bergantung pada kemampuan mengadopsi teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal. Berbagai inovasi yang ditampilkan, mulai dari mekanisasi, hilirisasi produk, pengembangan peternakan, hingga sistem pertanian terpadu, menunjukkan bahwa modernisasi harus menjadi instrumen untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah, bukan menggantikan peran petani.

Pelajaran ketiga, kesejahteraan petani harus menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan pertanian. Produksi yang meningkat tidak akan memiliki makna apabila petani masih menghadapi persoalan biaya produksi, akses pasar, dan ketidakpastian harga. Karena itu, keberpihakan kepada petani harus diwujudkan melalui kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Dalam konteks inilah terlihat kesungguhan Kementerian Pertanian Republik Indonesia⁠� di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman.

PENAS XVII menjadi refleksi bahwa agenda modernisasi pertanian, penguatan produksi, hilirisasi, peningkatan kapasitas petani, dan penguatan ketahanan pangan terus didorong sebagai prioritas nasional. Tantangan memang masih besar, tetapi arah kebijakan yang berpihak kepada petani perlu terus dijaga melalui kerja nyata yang berkesinambungan.

PENAS XVII juga menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ia membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan: pemerintah pusat dan daerah, penyuluh, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas petani, hingga masyarakat luas. Sebab pangan adalah urusan strategis yang menentukan kedaulatan sebuah bangsa.

Bagi Sulawesi Selatan, PENAS XVII menghadirkan kebanggaan tersendiri. Kontingen Sulawesi Selatan berhasil meraih Juara I Stand Terbaik Kategori Pemerintah Provinsi, Juara I Lomba Asah Terampil, dan Juara I Lomba Yel-Yel. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan inovasi, memperluas promosi, dan membangun sumber daya manusia yang unggul.

Dengan dukungan Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi, Kontingen Sulawesi Selatan menampilkan beragam komoditas unggulan, seperti beras organik, hortikultura, kopi Toraja, dan cokelat Luwu, sekaligus memperkenalkan inovasi Program Mandiri Benih. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pertanian modern tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing daerah.

Prestasi Sulawesi Selatan di Gorontalo sesungguhnya bukan sekadar deretan piala. Ia menjadi simbol bahwa kolaborasi antara pemerintah, petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha mampu melahirkan kepercayaan diri daerah untuk tampil sebagai bagian penting dari pembangunan pangan nasional.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari PENAS XVII adalah bahwa bangsa yang kuat selalu bertumpu pada pertanian yang kuat. Dari sawah lahir pangan, dari pangan lahir kesehatan, dari kesehatan lahir produktivitas, dan dari produktivitas tumbuh kesejahteraan. Karena itu, memuliakan petani dan nelayan sesungguhnya adalah memuliakan masa depan Indonesia.
Semoga semangat yang lahir dari Gorontalo tidak berhenti sebagai kenangan sebuah perhelatan, tetapi menjelma menjadi kebijakan, inovasi, dan gerakan bersama untuk membangun pertanian Indonesia yang semakin modern, tangguh, berdaya saing, dan menyejahterakan.(*)

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban

Exit mobile version