KABARIKA.ID, JAKARTA– Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) mendorong penguatan sektor hulu dan hilirisasi komoditas perkebunan sebagai langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkebunan bertajuk “Kondisi Sosial-Ekonomi Perkebunan dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat” yang diselenggarakan oleh DPN HKTI bekerja sama dengan Pengurus Pusat Pemuda Tani Indonesia di Sekretariat DPN HKTI, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
Ketua Harian III DPN HKTI, Prof. Dr. Ir. H. Andi Muhammad Syakir, M.S., menegaskan bahwa penguatan sektor perkebunan harus dilakukan secara bertahap dengan fokus pada pengembangan komoditas unggulan agar menghasilkan dampak yang optimal.
“Untuk membangun kemandirian pangan, kita perlu berfokus pada komoditas satu per satu secara bertahap. Kita bisa melihat contoh di negara tetangga, Malaysia, yang berfokus pada kelapa sawit sebagai komoditas unggulan, dan hasilnya dapat kita lihat saat ini. Karena itu, kita juga perlu mengembangkan setiap komoditas secara fokus agar proses hulu hingga hilirnya berjalan maksimal,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Ali Jamil, M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa sektor perkebunan merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional melalui kontribusinya terhadap ekspor, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah pedesaan.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya Pemuda Tani Indonesia, untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan sektor perkebunan.
“Saya mengundang seluruh Pemuda Tani serta HKTI untuk mengambil peran, tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku usaha dalam hal ini eksportir yang mampu membawa produk perkebunan Indonesia berdaya saing di pasar global,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, subsektor perkebunan merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian dengan rata-rata kontribusi sekitar 3,65 persen terhadap total PDB nasional.
Potensi tersebut dinilai perlu dioptimalkan melalui peningkatan produktivitas, penguatan industri pengolahan, serta perluasan akses pasar bagi hasil perkebunan rakyat.
FGD yang diselenggarakan secara luring dan daring tersebut dihadiri oleh perwakilan asosiasi petani dari berbagai komoditas perkebunan, di antaranya kelapa sawit, lada, pala, tembakau, kelapa, dan kakao.
Forum ini menjadi ruang dialog untuk menghimpun masukan dari para pelaku perkebunan mengenai kondisi riil yang dihadapi petani, mulai dari produktivitas, akses pembiayaan, pemasaran, hingga tantangan dalam pengembangan industri perkebunan.
Pengembangan komoditas harus dimulai dari pembenahan sektor hulu melalui penyediaan benih unggul, pendampingan teknologi, akses pembiayaan, dan penguatan kelembagaan petani, kemudian dilanjutkan dengan percepatan hilirisasi agar nilai tambah produk dapat dinikmati oleh petani dan pelaku usaha di dalam negeri. (*)

