Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Pelantikan ini menjadi penegasan atas kepercayaan yang telah diuji oleh waktu. Pelantikan kedua Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp. Ortognat.D., sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin termasuk dalam kategori yang kedua. Ia bukan sekadar kembali menduduki kursi yang sama, melainkan kembali memikul amanah yang lebih besar.
Kepercayaan yang datang untuk kedua kalinya hampir selalu lahir dari rekam jejak. Ia bukan hadiah, melainkan pengakuan atas konsistensi, integritas, dan kemampuan menghadirkan perubahan.
Di dunia akademik, Prof. Ruslin dikenal sebagai ilmuwan yang meniti jalan panjang ilmu. Pendidikan doktoralnya di Belanda, produktivitas publikasi bereputasi internasional, kepemimpinannya dalam dunia bedah mulut dan maksilofasial, hingga berbagai hak kekayaan intelektual menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan baginya bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi sarana menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Namun ukuran seorang akademisi besar sesungguhnya tidak berhenti pada banyaknya artikel ilmiah yang diterbitkan. Ia diukur dari sejauh mana ilmunya mampu mengubah kehidupan manusia.
Di titik itulah sosok Prof. Ruslin menemukan maknanya.
Melalui Celebes Cleft Center yang dirintisnya sejak 2005, ribuan anak penderita bibir sumbing memperoleh kesempatan tersenyum kembali. Lebih dari 1.700 operasi gratis bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap tindakan medis, ada keluarga yang kembali memiliki harapan, ada anak yang memperoleh kepercayaan diri, dan ada masa depan yang dipulihkan.
Ilmu akhirnya menemukan kemuliaannya ketika bertemu dengan belas kasih.
Sebagai Wakil Rektor, kepemimpinannya juga memperlihatkan arah yang jelas. Ia mendorong organisasi kemahasiswaan menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar aktivitas tambahan. Rekognisi kegiatan mahasiswa ke dalam SKS menunjukkan bahwa pengalaman memimpin, mengabdi, dan berkompetisi merupakan bagian utuh dari proses pendidikan.
Lebih dari itu, langkah turun langsung melakukan verifikasi penerima KIP Kuliah dari rumah ke rumah memperlihatkan satu pesan penting: kebijakan pendidikan tidak cukup dirancang dari balik meja. Ia harus menyentuh realitas kehidupan masyarakat.
Inilah wajah kepemimpinan akademik yang humanis. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki empati.
Pelantikan kedua ini sesungguhnya membawa pesan bagi seluruh sivitas akademika. Kepemimpinan bukan tentang mempertahankan jabatan, melainkan mempertahankan kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bertahan apabila terus dipelihara dengan kerja nyata, integritas, inovasi, serta keberanian melayani.
Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin kampus yang mampu menjembatani laboratorium dengan masyarakat, riset dengan kemanusiaan, prestasi akademik dengan pengabdian sosial. Sebab universitas besar tidak hanya diukur dari peringkat globalnya, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat.
Kiranya pelantikan kedua Prof. Muhammad Ruslin menjadi penanda bahwa perjalanan belum selesai. Justru amanah yang berulang adalah panggilan untuk melangkah lebih jauh, memperluas manfaat, dan meninggalkan warisan yang melampaui usia jabatan. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mengingat berapa kali seseorang dilantik. Sejarah akan mengingat berapa banyak kehidupan yang disentuh oleh ilmu, kepemimpinan, dan ketulusannya. (*)
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

