KABARIKA.ID, PANGKEP – Jauh di lepas pantai Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, berdiri Pulau Kalukalukuang, salah satu wilayah yang masuk kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Di balik keterbatasan akses transportasi dan tantangan geografis yang berat, masyarakat di pulau ini menyimpan harapan yang sama dengan jutaan anak Indonesia lainnya, yakni dapat menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi warga Kalukalukuang, program tersebut bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan kebutuhan nyata untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda. Selama ini, pemenuhan gizi seimbang masih menjadi tantangan karena letak pulau yang terpencil dengan waktu tempuh mencapai sekitar 24 jam dari daratan utama Kabupaten Pangkep.
Masyarakat berharap negara benar-benar hadir memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh hak yang sama atas asupan gizi yang layak, tanpa memandang lokasi tempat tinggal.
Harapan itu kini mulai terlihat. Melalui inisiatif Yayasan Formasita yang dibina Wakil Ketua DPD RI periode 2024–2029, Tamsil Linrung, pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis mulai berdiri di tengah permukiman warga.
Pembangunan yang dimulai pada Januari 2026 tersebut kini telah mencapai sekitar 90 persen. Kehadiran fasilitas ini menjadi secercah harapan bagi masyarakat yang selama ini menantikan pelayanan gizi yang lebih mudah dijangkau.
Dukungan warga pun mengalir tanpa pamrih. Salah satunya datang dari tokoh masyarakat setempat, Amin, yang menghibahkan tanah miliknya demi terwujudnya pembangunan dapur gizi tersebut.
“Kami siap mendukung sepenuhnya. Harapan kami sederhana, anak-anak di pulau ini bisa merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis seperti anak-anak di kota maupun daerah lain. Mereka juga anak-anak Indonesia yang berhak mendapatkan gizi yang layak,” ujarnya.
Semangat serupa disampaikan Furqon, warga yang turut mengawal pembangunan SPPG di lapangan. Menurutnya, berbagai kendala, mulai dari cuaca hingga distribusi material ke pulau, tidak menyurutkan tekad masyarakat untuk menghadirkan program tersebut.
“Tantangan menuju pulau ini memang tidak mudah. Namun kami terus berjuang agar program ini segera berjalan. Kami tidak ingin anak-anak di sini tertinggal. Mereka membutuhkan asupan gizi yang cukup agar dapat tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” katanya.
Bagi masyarakat Kalukalukuang, bangunan SPPG bukan sekadar konstruksi fisik. Lebih dari itu, fasilitas tersebut menjadi simbol kehadiran negara di wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.
Mereka berharap, ketika dapur gizi itu mulai beroperasi, seluruh anak di Pulau Kalukalukuang dapat merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis sebagaimana anak-anak di berbagai daerah lain di Indonesia.
Di tengah hamparan laut yang memisahkan mereka dari daratan utama, warga Kalukalukuang percaya bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat, kuat, dan meraih masa depan yang lebih baik. Kehadiran SPPG menjadi langkah nyata agar harapan tersebut perlahan berubah menjadi kenyataan. (*)
