KABARIKA.ID, PADANG – Upaya memperkuat rantai pasok industri petrokimia nasional terus dilakukan PT Pupuk Indonesia (Persero).
Melalui dua anak usahanya, PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang dan PT Petrokimia Gresik, perusahaan menjajaki perluasan kerja sama strategis dengan PT Semen Padang untuk mengembangkan pemanfaatan material nonsemen sebagai bahan baku dan bahan penolong dalam produksi pupuk.
Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi industri sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan kunjungan tim dari Pusri Palembang dan Petrokimia Gresik menjadi momentum memperkuat sinergi antarbadan usaha nasional yang bergerak di sektor strategis.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya membuka peluang bisnis baru, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masing-masing perusahaan melalui pemanfaatan potensi yang dimiliki.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu strategi penting untuk membangun ekosistem industri yang tangguh, adaptif, dan mampu bersaing di tengah dinamika dunia usaha yang terus berkembang,” ujar Win kepada wartawan Jumat (24/7/2026).
Sementara itu, Kepala Departemen Bisnis Non Semen dan Produk Turunan PT Semen Padang, Ridwan Muchtar, mengungkapkan kerja sama penyediaan binder clay sebagai bahan baku pupuk NPK bersama PT Pusri Palembang kini telah memasuki tahun kedua.
Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa produk turunan yang dikembangkan PT Semen Padang memiliki prospek besar untuk mendukung kebutuhan industri pupuk nasional.
Ke depan, perusahaan berupaya memperluas ruang kerja sama dengan menyediakan material lain, termasuk filler yang dapat dimanfaatkan dalam proses produksi pupuk NPK.
“Kerja sama yang telah berjalan selama dua tahun ini menunjukkan bahwa bisnis nonsemen memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Harapan kami, sinergi ini tidak hanya berlanjut, tetapi juga diperluas ke produk-produk lainnya,” kata Ridwan.
Selain dengan Pusri Palembang, PT Semen Padang juga mulai menjajaki peluang kolaborasi dengan PT Petrokimia Gresik.
Meski belum memasuki tahap kerja sama resmi, perusahaan melihat adanya potensi penggunaan binder clay maupun filler sebagai alternatif material yang dapat menunjang proses produksi pupuk.
Untuk mendukung rencana tersebut, unit bisnis nonsemen dan produk turunan PT Semen Padang telah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari pemaparan spesifikasi teknis produk, penyediaan data kualitas dan konsistensi pasokan, hingga pelaksanaan uji coba material sesuai kebutuhan operasional industri pupuk.
Di saat yang sama, koordinasi dengan Semen Indonesia Group (SIG) juga terus diperkuat agar solusi yang ditawarkan semakin kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan.
Ridwan berharap penjajakan tersebut menjadi fondasi terbentuknya kemitraan jangka panjang yang mampu meningkatkan pertumbuhan bisnis sekaligus memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan.
Dari pihak PT Pusri Palembang, Senior Engineer Pelaporan dan Pengendalian Material, Yuliana, menjelaskan kunjungan ke PT Semen Padang difokuskan untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja sama penyediaan binder clay yang telah berlangsung, sekaligus mengidentifikasi peluang pemanfaatan material lainnya.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan pupuk nasional mendorong perusahaan untuk mencari alternatif bahan baku yang memiliki kualitas baik, efisien, serta mampu mendukung peningkatan kapasitas produksi.
“Kami ingin memastikan kerja sama yang sudah berjalan dapat terus ditingkatkan. Selain itu, kami juga melihat peluang penggunaan material lain sebagai filler untuk kebutuhan produksi pupuk,” ujarnya.
Hal senada disampaikan AVP Operasi Pabrik 2B PT Petrokimia Gresik, Prima Arinugroho. Ia menilai kebutuhan pupuk yang terus meningkat membuat industri harus terus berinovasi dalam mencari bahan baku maupun bahan penolong yang lebih efektif.
Menurutnya, sinergi antara industri semen dan industri pupuk merupakan langkah strategis yang tidak hanya memperkuat daya saing industri nasional, tetapi juga mendukung agenda pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan melalui ketersediaan pupuk yang berkelanjutan. (*)

