Site icon KABARIKA

Lima Tahun Bapanas: Menguatkan Kedaulatan, Menumbuhkan Harapan

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Setiap peradaban besar selalu lahir dari kemampuan sebuah bangsa menjaga pangannya. Sebelum manusia membangun istana, ia lebih dahulu membangun lumbung. Sebelum negara berbicara tentang kemajuan teknologi, ia memastikan rakyatnya tidak tidur dalam keadaan lapar. Karena itu, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi kehidupan, martabat bangsa, sekaligus penyangga peradaban.

Pada 29 Juli 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memasuki usia lima tahun. Usia yang relatif muda bagi sebuah lembaga negara, tetapi telah mengemban amanah yang sangat besar: menjaga ketersediaan pangan, menstabilkan pasokan dan harga, mengelola cadangan pangan pemerintah, memperkuat keamanan pangan, hingga memastikan setiap warga negara memperoleh akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau.

Di tengah dunia yang terus dibayangi perubahan iklim, konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, dan gejolak harga pangan global, kehadiran Bapanas menjadi semakin strategis. Ketahanan pangan kini bukan lagi sekadar isu sektor pertanian, melainkan bagian dari ketahanan nasional. Bangsa yang mampu menjaga pangannya akan lebih siap menghadapi berbagai krisis. Sebaliknya, bangsa yang kehilangan kendali atas pangannya akan mudah kehilangan kedaulatannya.
Selama lima tahun terakhir, Bapanas menunjukkan peran yang semakin nyata. Melalui penguatan Cadangan Pangan Pemerintah, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah, stabilisasi harga melalui kebijakan Harga Acuan dan Harga Eceran Tertinggi, serta penyaluran bantuan pangan beras kepada jutaan keluarga penerima manfaat, negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga pelindung masyarakat. Di balik setiap kilogram beras yang tersalurkan, tersimpan harapan agar tidak ada keluarga Indonesia yang kehilangan haknya untuk hidup layak.

Sesungguhnya, membangun ketahanan pangan tidak berhenti pada menjaga stok beras. Ketahanan pangan adalah membangun sebuah ekosistem kehidupan. Ketika pekarangan rumah ditanami sayuran, ketika irigasi diperbaiki, ketika petani memperoleh benih unggul, ketika peternak dan nelayan diberdayakan, ketika pangan lokal diberi ruang untuk berkembang, sesungguhnya Indonesia sedang membangun benteng kedaulatan dari akar rumput.

Kita patut mengapresiasi bahwa Bapanas tidak hanya bekerja pada aspek hilir melalui stabilisasi harga, tetapi juga terus mendorong budaya konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Diversifikasi pangan lokal menjadi langkah penting agar Indonesia tidak bergantung pada satu komoditas saja. Singkong, sagu, sorgum, jagung, talas, pisang, hingga aneka umbi Nusantara adalah kekayaan yang harus kembali dimuliakan sebagai bagian dari identitas pangan bangsa.

Pada momentum lima tahun ini, penghargaan juga layak diberikan kepada Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., Kepala Badan Pangan Nasional. Dengan pengalaman panjang di sektor pertanian serta kepemimpinannya yang kuat, beliau menghadirkan semangat kerja cepat, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil. Di bawah kepemimpinannya, Bapanas semakin menegaskan dirinya sebagai institusi yang tidak hanya mengelola pangan, tetapi juga menjaga optimisme bangsa. Kepemimpinan yang berpihak kepada petani, melindungi konsumen, serta memperkuat sinergi lintas sektor merupakan modal penting dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Dalam perspektif sufistik, pangan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Allah SWT berfirman, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa setiap butir makanan mengandung amanah. Di dalamnya ada doa petani, kerja keras nelayan, kesabaran alam, keberkahan hujan, dan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya.

Para arif mengingatkan bahwa rezeki tidak hanya diukur dari banyaknya makanan, tetapi dari keberkahannya. Sebab makanan yang diperoleh dengan cara yang baik akan melahirkan hati yang baik, pikiran yang jernih, dan masyarakat yang beradab. Karena itu, menjaga pangan sejatinya adalah menjaga akhlak, menjaga kemanusiaan, dan menjaga hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Perjalanan Bapanas tentu masih panjang. Tantangan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan, hingga transformasi digital menuntut inovasi yang semakin adaptif. Namun, lima tahun pertama telah menjadi fondasi yang kokoh. Kini saatnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, petani, nelayan, komunitas, dan masyarakat agar kedaulatan pangan benar-benar menjadi gerakan nasional.

Selamat ulang tahun ke-5 Badan Pangan Nasional. Teruslah menjadi penjaga lumbung harapan Indonesia, penguat kedaulatan bangsa, dan penenun masa depan yang lebih adil dan makmur. Sebab bangsa yang mampu menghormati pangannya adalah bangsa yang sedang membangun peradabannya. (*)

Muliadi Saleh:  Menulis Makna, Membangun Peradaban.

Exit mobile version