Oleh: Munawir Kamaluddin
Mengapa ada hati yang tetap tenang di tengah badai, sementara hati yang lain gelisah meski hidupnya dipenuhi kemewahan?. Mengapa ada orang yang wajahnya selalu teduh, lisannya lembut, dan jiwanya damai, padahal ujian hidupnya tidak lebih ringan daripada kita?. Mungkin jawabannya bukan karena mereka memiliki dunia lebih banyak, melainkan karena mereka lebih dekat dan mengenal Allah.
Salah satu jalan paling indah untuk dekat dan mengenal Allah adalah melalui tiga ayat terakhir Surah Al-Hasyr (ayat 22–24). Ayat-ayat ini bukan sekadar penutup sebuah surah, tetapi merupakan mahkota Al-Qur’an yang dipenuhi Asmaul Husna. Di dalamnya Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan nama-nama-Nya yang agung agar manusia mengenal kepada siapa ia bersandar, kepada siapa ia berharap, dan kepada siapa ia akan kembali.
Allah SWT. berfirman:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ ٢٢ هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ٢٣ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ٢٤
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Maha Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa. Milik-Nyalah segala nama yang indah (Asmaul Husna). Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 22–24)
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa siapa yang membacanya pada waktu pagi atau petang, setelah membaca ta’awudz sebanyak tiga kali, akan didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore atau pagi, dan apabila ia wafat pada hari itu, ia memperoleh pahala seperti orang yang mati syahid. Para ulama bersepakat bahwa tidak ada keraguan bahwa membaca Al-Qur’an, mentadabburi maknanya, dan menghidupkan Asmaul Husna merupakan ibadah yang sangat agung.
Keutamaan terbesar dari tiga ayat ini bukan hanya pahala yang diharapkan, tetapi perubahan yang dihadirkannya dalam jiwa. Ia menguatkan tauhid, mempertebal keyakinan, menumbuhkan tawakal, menenangkan hati yang gelisah, menghidupkan zikir, mengikis kesombongan, melembutkan akhlak, serta menghadirkan rasa aman karena hati selalu bersama Allah. Semakin kita mengenal Allah sebagai Al-Malik, kita sadar bahwa seluruh kekuasaan hanyalah milik-Nya, semakin kita mengenal-Nya sebagai As-Salaam, kita memahami bahwa ketenangan sejati hanya berasal dari-Nya; dan semakin kita mengenal-Nya sebagai Al-Muhaimin, kita yakin bahwa tidak ada satu pun urusan hidup yang luput dari penjagaan-Nya.
Karena itu, sungguh merugi jika setiap hari kita mampu menghabiskan berjam-jam menatap layar telepon genggam, tetapi merasa berat meluangkan dua atau tiga menit untuk membaca ayat-ayat yang mampu menghidupkan hati. Kita begitu cepat membuka pesan dari manusia, tetapi sering terlambat membuka firman Allah yang dapat mengubah cara kita memandang kehidupan.
Mulailah esok pagi. Sebelum kesibukan menyita waktu kita dan sebelum dunia memenuhi pikiran kita, bacalah tiga ayat terakhir Surah Al-Hasyr dengan penuh penghayatan. Jangan hanya melafalkannya dengan lisan, tetapi resapilah setiap Asmaul Husna yang terkandung di dalamnya. Biarkan Allah memenuhi hatimu dengan ketenangan, menguatkan langkahmu dengan keyakinan, dan menerangi hidupmu dengan cahaya iman.
Yakinkan bahwa dengan amalan yang hanya membutuhkan beberapa menit setiap pagi dan petang inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah, diampuninya dosa-dosamu, ditenangkannya hatimu, dimudahkannya urusanmu, dijaganya keluargamu, dilapangkannya rezekimu, dan diselamatkannya engkau pada hari ketika tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan selain rahmat-Nya.
Jangan menunggu hati menjadi tenang untuk membaca Al-Qur’an, tetapi bacalah Al-Qur’an agar hatimu menjadi tenang. Jangan menunggu menjadi saleh untuk mendekat kepada Allah, tetapi dekatilah Allah, niscaya Dia akan membimbingmu menjadi hamba yang saleh. Jangan menunda hingga esok, karena kita tidak pernah tahu, apakah esok masih menjadi milik kita. Bisa jadi, tiga ayat yang engkau baca dengan penuh keikhlasan hari ini adalah cahaya yang akan menerangi hidupmu di dunia, di alam kubur, hingga mengantarkanmu menuju surga-Nya.
#Wallahu A’lam Bushawab🙏

