Site icon KABARIKA

Dialog Bersama Mahasiswa, Mentan Amran Tegaskan Pertanian Butuh Aksi Generasi Muda

KABARIKA.ID, SEMARANG– Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memanfaatkan momentum Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun Akademik 2026/2027 sebagai ruang dialog terbuka bersama mahasiswa. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, Mentan Amran menjawab berbagai isu strategis mulai dari regenerasi petani, ketahanan pangan, reformasi pupuk, hingga keterlibatan TNI dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Diskusi tersebut dilakukan Mentan Amran saat kuliah umum di hadapan 5.155 mahasiswa baru Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (6/8).

Menurut Mentan Amran, mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi penerus yang akan menentukan masa depan pertanian Indonesia. Karena itu, pemerintah terus melakukan pembenahan menyeluruh agar sektor pertanian menjadi semakin modern, menguntungkan, dan menarik bagi generasi muda.

Salah satu pertanyaan yang mengemuka datang dari mahasiswa Fakultas Teknik mengenai keterlibatan TNI dalam program cetak sawah dan pengelolaan lahan pertanian baru. Menjawab hal tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa kehadiran TNI merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan krisis pangan akibat perubahan iklim ekstrem.

“Kita hanya memiliki sekitar 37 ribu penyuluh pertanian lapangan (PPL), sementara kebutuhan mencapai sekitar 50 ribu orang. Karena itu TNI membantu, khususnya Babinsa, bukan pasukan tempur. Mereka membantu percepatan di lapangan agar petani tetap bisa berproduksi menghadapi ancaman El Nino,” jelas Mentan Amran.

Mentan Amran menjelaskan bahwa pemerintah telah mengerahkan sekitar 80 ribu unit pompa air ke berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman kekeringan.

“Kalau krisis ekonomi kita masih bisa bertahan. Tetapi kalau terjadi krisis pangan, dampaknya bisa meluas menjadi krisis sosial dan politik. Karena itu negara harus hadir lebih cepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai tingginya usia petani Indonesia. Mentan menilai regenerasi petani hanya akan berhasil apabila sektor pertanian mampu memberikan keuntungan yang layak.

Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penyederhanaan regulasi, peningkatan produktivitas, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta perlindungan terhadap petani dari praktik mafia pangan dan mafia pupuk.

Menanggapi pertanyaan mengenai harga pupuk, Mentan Amran mengungkapkan bahwa pemerintah berhasil melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk bersubsidi.

“Harga pupuk turun sekitar 20 persen. Ini pertama kali terjadi sejak Republik Indonesia berdiri. Regulasi yang sebelumnya berlapis-lapis kami sederhanakan sehingga distribusi menjadi lebih cepat langsung ke petani,” katanya.

Selain melakukan deregulasi, pemerintah juga menindak tegas praktik penyimpangan distribusi pupuk yang selama ini merugikan petani.

“Kami diperintahkan Bapak Presiden untuk memberantas mafia pupuk dan korupsi. Kasus-kasus yang ditemukan langsung kami serahkan kepada aparat penegak hukum. Petani harus dilindungi,” tegasnya.

Tidak hanya menjawab berbagai pertanyaan, Mentan Amran juga menunjukkan respons cepat terhadap persoalan yang disampaikan mahasiswa. Saat seorang mahasiswa asal Rembang mengeluhkan keterbatasan sumber air untuk sawah, Mentan Amran langsung memerintahkan jajarannya menyiapkan bantuan pompa air dan melakukan pengecekan lapangan. Sementara kepada mahasiswa asal Lombok yang menceritakan perjuangan orang tuanya sebagai petani dengan lahan terbatas, Mentan Amran langsung memerintahkan pemberian bantuan traktor agar produktivitas usaha tani meningkat.

Suasana dialog juga diwarnai pertanyaan mengenai peluang bisnis bagi generasi muda. Mentan Amran mendorong mahasiswa untuk berani memanfaatkan perkembangan teknologi dan transformasi industri.

“Kalau saya kembali menjadi mahasiswa hari ini, saya akan memilih bisnis berbasis teknologi digital, termasuk kendaraan listrik. Masa depan dunia akan bergerak ke sana dan Indonesia memiliki sumber daya yang besar untuk mendukungnya,” ungkapnya.

Mentan Amran menegaskan bahwa kemajuan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan kontribusi perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, serta seluruh elemen masyarakat.

Menutup pertemuannya dengan mahasiswa baru UNDIP, Mentan Amran berharap mahasiswa dapat menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi pembangunan pertanian Indonesia menuju swasembada pangan yang berkelanjutan. (*)

Exit mobile version