KABARIKA.ID, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan investasi jumbo hingga Rp118 triliun dalam lima tahun ke depan untuk meremajakan fasilitas produksi yang sebagian besar telah berusia tua.
Investasi ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat kapasitas industri pupuk nasional.
Rencana tersebut menjadi langkah strategis Pupuk Indonesia setelah adanya perubahan mendasar dalam mekanisme pengelolaan subsidi pupuk nasional.
Dengan skema baru, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk melakukan investasi secara mandiri melalui peningkatan efisiensi dan kinerja bisnis.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengungkapkan kondisi fasilitas produksi perusahaan dalam diskusi Suar Forum 2026 di Tangerang.
Menurutnya, mayoritas pabrik berbasis nitrogen yang dimiliki perseroan sudah memasuki usia tua. Dari sekitar 30 pabrik, sebanyak 24 fasilitas atau lebih dari 70 persen telah berusia di atas 20 tahun.
“Lebih dari 70% pabrik berbasis nitrogen sudah berusia tua. Dari sekitar 30 pabrik yang kami miliki, 24 pabrik umurnya sudah di atas 20 tahun,” ujar Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia kepada wartawan Minggu (23/8/2026).
Masa Optimal Pabrik 20 Tahun
Rahmad menjelaskan, usia sekitar 20 tahun menjadi salah satu batas penting dalam menjaga performa keekonomian fasilitas produksi.
Setelah melewati masa tersebut, biaya pemeliharaan cenderung meningkat. Kondisi fasilitas yang semakin tua juga dapat memunculkan kendala operasional sehingga tingkat efisiensi produksi menjadi lebih sulit dipertahankan.
“Dua puluh tahun itu boleh dibilang merupakan the best performance years. Mungkin economic life sebuah pabrik sekitar 20 tahun,” kata Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia.
Sebagian fasilitas produksi Pupuk Indonesia dibangun sejak dekade 1980-an dengan menggunakan dana APBN melalui skema cost plus fee atau biaya ditambah imbalan.
Namun, pembangunan fasilitas baru menjadi lebih lambat setelah era Reformasi 1998 seiring adanya pemisahan keuangan negara. Di sisi lain, kebutuhan investasi untuk membangun satu pabrik baru dapat mencapai sekitar Rp10 triliun.
Skema Subsidi Berubah
Kondisi tersebut kemudian mendapat momentum dari perubahan mekanisme subsidi pupuk.
Skema yang sebelumnya menggunakan pendekatan berbasis biaya kini diarahkan menggunakan harga pasar.
Perubahan ini membuat efisiensi menjadi semakin penting bagi perusahaan. Ketika biaya produksi dapat ditekan melalui investasi dan pembaruan teknologi, perusahaan berpeluang memperoleh keuntungan lebih besar.
“Kami dibayar berdasarkan harga pasar. Dengan skema tersebut, ketika kami melakukan investasi dan mendapatkan efisiensi, perusahaan juga mendapatkan tambahan keuntungan,” jelas Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia.
Menurut Rahmad, perubahan skema tersebut sekaligus membuka peluang bagi industri pupuk untuk membangun kemampuan investasi secara mandiri.
Langkah itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kesehatan bisnis perusahaan, tetapi juga dapat mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Bagaimana industri pupuk bisa berinvestasi secara mandiri, menghasilkan keuntungan, makin efisien, dan pada saat yang sama APBN semakin hemat?” ujar Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia.
Target 70 Persen Pabrik Berusia di Bawah 20 Tahun
Pupuk Indonesia kemudian menyiapkan investasi sekitar Rp118 triliun selama lima tahun.
Dana tersebut akan digunakan untuk melakukan peremajaan fasilitas produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional pabrik.
“Dengan perubahan tersebut, dalam lima tahun ke depan kami akan melakukan investasi sekitar Rp118 triliun. Karena melalui investasi tersebut, pabrik-pabrik dapat diremajakan dan menjadi lebih efisien,” tegas Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia.
Melalui investasi tersebut, perusahaan menargetkan terjadi perubahan signifikan pada struktur usia fasilitas produksinya.
Saat ini sekitar 70 persen pabrik Pupuk Indonesia berusia lebih dari 20 tahun.
Dalam lima tahun mendatang, komposisi tersebut ditargetkan berbalik sehingga sekitar 70 persen fasilitas produksi berusia di bawah 20 tahun.
Peremajaan tersebut diharapkan membuat biaya produksi lebih efisien, meningkatkan keandalan operasional, sekaligus memperkuat kemampuan Pupuk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional.
“Investasi sekarang bisa dilakukan secara mandiri dan keuntungan perusahaan juga meningkat karena kita menggunakan kebijakan yang lebih masuk akal,” pungkas Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia. (*)

