Site icon KABARIKA

Mentan Amran Tepati Janji, Dalam Hitungan Jam Bantuan Alsintan Tiba di Tangan Petani Karawang

Oplus_16908288

KABARIKA.ID, KARAWANG — Janji Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kepada petani Karawang langsung terealisasi. Dalam hitungan jam setelah Mentan Amran menjanjikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), bantuan tersebut tiba dan diterima petani di Desa Tegal Sawah, Kecamatan Karawang Timur, Jawa Barat, Senin (31/8)2026).

Bantuan berupa combine harvester langsung diberikan untuk mendukung kegiatan panen kelompok buruh tani. Selain itu, Mentan Amran memastikan traktor milik kelompok yang hilang dicuri pada malam 17 Agustus akan segera diganti.

Kecepatan tersebut menunjukkan pola kerja yang ditekankan Mentan Amran: persoalan yang ditemukan langsung di lapangan harus segera ditindaklanjuti. Aspirasi petani tidak berhenti sebagai laporan, tetapi langsung diterjemahkan menjadi bantuan yang dapat dimanfaatkan.

Sebelumnya, dalam kunjungan kerja di Karawang, Mentan Amran berhenti setelah melihat sejumlah buruh tani sedang bekerja di sawah. Ia turun dari kendaraan dan berbincang langsung dengan mereka.

Dari pertemuan tersebut, Mentan Amran mengetahui kondisi buruh tani yang sebagian tidak memiliki sawah sendiri dan hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh ngarit atau tenaga panen. Kesempatan kerja yang terbatas membuat pendapatan mereka sangat rendah.

“Nah, ada juga tadi kami di tengah jalan temukan buruh ngarit. Itu dapat berapa? Hanya Rp30 ribu per hari, dan itu dua kali seminggu, maksimal tiga kali seminggu. Saudara-saudara kita itu tidak mendapatkan bantuan alat mesin pertanian karena tidak punya akses,” ujar Mentan Amran.

Kondisi tersebut mendorong Mentan Amran mengubah regulasi bantuan alsintan. Buruh tani yang tidak memiliki sawah kini diberi akses untuk memperoleh bantuan alat dan mesin pertanian sehingga dapat meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan.

“Regulasi kami ubah. Sudah kami ubah, sudah kami tanda tangani. Prioritaskan alat mesin pertanian, pompa dan seterusnya kepada buruh tani yang tidak punya sawah supaya kesejahteraannya meningkat,” tegasnya.

Mentan Amran menyoroti rendahnya pendapatan buruh tani yang hanya mengandalkan pekerjaan harian. Dengan upah sekitar Rp30 ribu per hari dan kesempatan kerja dua kali dalam sepekan, pendapatan mereka hanya sekitar Rp240 ribu per bulan.

“Bisa bayangkan pendapatannya Rp30 ribu, Rp60 ribu per minggu karena dua kali seminggu. Kalau Rp60 ribu per minggu, kalau satu bulan berarti Rp240 ribu. Bayangkan itu satu keluarga,” katanya.

Karena itu, Mentan Amran ingin alsintan tidak berhenti sebagai bantuan alat produksi, tetapi dapat menjadi sarana usaha yang membuka sumber pendapatan baru bagi buruh tani.

Mendengar kondisi tersebut, Mentan Amran langsung mengambil keputusan untuk memberikan combine harvester sekaligus mengganti traktor kelompok yang hilang.

“Kalau tidak dapat, digantikan. Hilang, sudah. Nanti kita ganti,” tegas Mentan Amran.

Keputusan tersebut langsung ditindaklanjuti jajaran Kementerian Pertanian. Dalam hitungan jam, bantuan alsintan telah tiba di lokasi dan diterima kelompok buruh tani.

Kedatangan bantuan disambut gembira petani dan buruh tani. Julaiha, salah satu buruh tani Desa Tegal Sawah, mengaku bersyukur karena persoalan alat yang hilang langsung mendapat perhatian dan kepastian solusi.

“Bapak tadi langsung datang combine, kemudian langsung juga mau mengganti alat tani saya yang hilang pas 17 Agustus malamnya. Insyaallah mau diganti,” ujar Julaiha.

Menurut Julaiha, bantuan tersebut akan membuat pekerjaan buruh tani lebih mudah dan meningkatkan semangat mereka untuk bekerja.

“Mudah-mudahan dengan adanya alat jadi lebih produktif. Lebih semangat lagi buat kami di sini,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Mentan Amran dan Presiden Prabowo Subianto atas perhatian yang diberikan kepada petani dan buruh tani.

“Terima kasih buat Pak Menteri Amran atas bantuannya kepada para petani. Semoga sejahtera Pak Amran dan Pak Presiden juga. Pak Amran, Menteri Pertanian, luar biasa,” ujarnya.

Mentan Amran mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian modern benar-benar dirasakan rakyat kecil hingga pelosok.

“Atas arahan Bapak Presiden, bagaimana transformasi pertanian tradisional menuju modern dirasakan oleh rakyat kecil dan sampai ke pelosok. Kami turun tangan langsung. Tadi adalah simbolis. Kami mengecek langsung,” tegas Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, combine harvester tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan kelompok, tetapi dapat dikelola sebagai usaha bersama dengan memberikan jasa panen kepada petani di sekitar.

“Ini nanti dipakai dan disewakan ke masyarakat. Bisa lima hektare, sepuluh hektare satu hari,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran menegaskan pemerintah kini memberikan ruang lebih luas bagi buruh tani yang sebelumnya tidak memiliki akses bantuan karena tidak mempunyai lahan maupun kelompok.

“Yang diprioritaskan yang tidak punya alat. Buruh tani boleh dapat traktor, boleh dapat combine,” tegasnya.

Ia meminta alsintan dikelola secara bersama agar manfaat ekonominya dapat dirasakan seluruh anggota kelompok.

“Bagi hasil, bagi rata. Semua ikut. Jangan ada yang ditinggal,” pesannya.

Mentan Amran menilai kebijakan tersebut merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil di sektor pertanian. Modernisasi pertanian, menurutnya, tidak boleh hanya dirasakan petani pemilik lahan, tetapi juga masyarakat yang bekerja langsung di sawah.

“Kita mau ini pemerataan. Kita mau semua anak bangsa, khususnya sektor petani, merasakan kehadiran pemerintah,” ujarnya.

Bagi petani Karawang, bantuan yang datang dalam hitungan jam setelah dijanjikan Mentan Amran menjadi bukti bahwa persoalan yang disampaikan langsung di lapangan mendapat respons nyata. Combine harvester kini dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung panen, sementara kepastian penggantian traktor memberikan harapan baru bagi kelompok untuk kembali bekerja lebih produktif.

“Ini yang dibutuhkan rakyat. Aksi nyata,” pungkas Mentan Amran.

Exit mobile version