Site icon KABARIKA

Tradisi Maulid, Emmak-emmak Bone Borong Baskom

KABARIKA.ID, BONE — Suasana bulan Maulid Nabi Muhammad SAW kian terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Bukan hanya masjid yang mulai dipersiapkan. Tradisi turun-temurun yang melekat di tengah masyarakat Bone juga membuat emak-emak mulai sibuk berburu berbagai perlengkapan rumah tangga.

Baskom, panci hingga bunga plastik menjadi barang yang ramai dicari.

Salah satu lokasi yang ramai didatangi warga adalah Pasar Sentral Modern Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat.

Mereka tampak teliti memilih baskom dan panci dengan berbagai ukuran.

Harga perlengkapan tersebut beragam, mulai sekitar Rp10 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran dan jenis barang.

Bunga plastik juga tak luput dari perhatian. Perlengkapan tersebut biasanya digunakan untuk mempercantik wadah makanan yang akan dibawa ke masjid.

Salah seorang pembeli, Sumarny mengaku sengaja datang untuk membeli perlengkapan Maulid yang akan digunakan keluarganya di Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe.

Setiap tahun, warga menyiapkan berbagai hidangan untuk dibawa ke masjid. Hidangan tersebut menjadi bagian dari tradisi berbagi dan mempererat silaturahmi antarwarga.

“Kalau dibawa ke masjid itu biasa lima panci kecil dan baskom kecil. Yang diisi sokko, telur, sama bunga plastik,” katanya, Senin, 31 Agustus 2026.

Namun, persiapan ternyata tak berhenti pada hidangan yang dibawa ke masjid.

Di rumah, keluarganya juga harus menyiapkan puluhan baskom dan panci berisi makanan.

Sebab, selama bulan Maulid, rumah mereka bisa didatangi keluarga maupun kerabat.

“Haruski juga simpan di rumah puluhan baskom dan panci berisi hal serupa. Jangan sampai ada keluarga yang datang, itu dikasiki,” ujarnya.

Senada diungkapkan warga lainnya, Nurlinda. Selain panci atau baskom yang berisi sokko dan telur, .enyediakan makanan untuk keluarga dan kerabat yang datang sudah menjadi kebiasaan yang terus dilakukan setiap tahun.

Tradisi itu menjadi cara masyarakat menjaga silaturahmi sekaligus berbagi rezeki.

“Tradisi setiap tahun supaya berkah,” katanya.

Tradisi yang Terus Hidup

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW sekaligus memperkuat kecintaan dan keteladanan terhadap akhlak beliau.

Di Bone, momentum tersebut juga hadir melalui tradisi masyarakat yang khas.

Sokko, telur yang dihias, hingga berbagai makanan lainnya disiapkan dengan penuh perhatian sebelum dibawa ke masjid.

Tak heran, memasuki bulan Maulid, aktivitas belanja perlengkapan rumah tangga ikut meningkat.

Bagi masyarakat Bone, baskom dan panci yang dibeli bukan sekadar peralatan dapur.

Di baliknya ada cerita tentang keluarga, berbagi makanan, menerima tamu, mempererat silaturahmi dan menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi itulah yang membuat suasana Maulid di Bone selalu memiliki cerita tersendiri. (*)

Exit mobile version