KABARIKA.ID, BONE — Asap mungkin telah menghilang dari langit Sanrangeng.
Api yang sehari sebelumnya mengamuk di permukiman warga telah padam. Namun, suasana di perbatasan Desa Sanrangeng dan Desa Sailong, Kecamatan Dua Boccoe, belum benar-benar kembali seperti semula.
Yang tersisa adalah puing-puing.
Dinding rumah yang menghitam. Atap yang runtuh. Barang-barang milik warga yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kini tinggal sisa-sisa yang sulit dikenali.
Di tempat itu, Sabtu (12/9/2026), api bergerak begitu cepat melalap permukiman warga.
Tangis pecah
Warga berhamburan menyelamatkan diri dan sebisanya mengeluarkan barang dari dalam rumah. Dalam hitungan waktu, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarga berubah menjadi kobaran api.
Sebanyak 13 rumah terdampak.
Dari jumlah tersebut, 10 rumah ludes terbakar, sementara tiga rumah lainnya turut terdampak.
Namun, musibah itu tidak hanya meninggalkan kerugian material.
Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia.
Hari berikutnya, Minggu (13/9/2026), duka masih menyelimuti kawasan tersebut.
Di tengah kondisi itulah pesan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., menggema: korban tidak boleh menghadapi musibah seorang diri.
Bupati menginstruksikan jajaran Pemerintah Kabupaten Bone untuk bergerak membantu para korban.
Ia juga mengajak masyarakat ikut mengambil bagian, sesuai kemampuan masing-masing.
Bagi Andi Asman, membantu warga yang sedang tertimpa musibah bukan semata-mata soal besar kecilnya bantuan.
Lebih dari itu, bantuan adalah tanda bahwa mereka tidak sendirian.
“Satu keluarga yang sakit, tertimpa musibah, maka keluarga lainnya membantu,” kata Bupati Bone, Minggu (13/9/2026).
Kalimat itu terasa sederhana.
Tetapi bagi keluarga yang baru saja kehilangan rumah dan harta benda, perhatian sekecil apa pun dapat menjadi penguat untuk kembali berdiri.
Sebab, ketika rumah sudah tidak lagi berdiri, ketika barang-barang berharga berubah menjadi puing, yang tersisa adalah kekuatan untuk memulai kembali.
Dan kekuatan itu bisa datang dari banyak tangan. Pemerintah. Tetangga.
Kerabat. Relawan.
Hingga masyarakat Bone yang bahkan mungkin tidak mengenal langsung para korban.
Bupati pun meminta warga yang menjadi korban agar tetap bersabar menghadapi cobaan tersebut.
“Semoga korban diberikan kesabaran dan apa yang hilang dapat digantikan dengan yang lebih baik,” harapnya.
Pesan itu sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat Bone.
Bahwa musibah di Sanrangeng bukan hanya cerita tentang sebuah kebakaran.
Dari puing-puing Sanrangeng, semangat gotong royong itu kini diuji.
Api telah padam. Tetapi kepedulian diharapkan terus menyala. (*)

