Site icon KABARIKA

Mentan Amran ke 3.738 Mahasiswa UMRI: Jangan Ambil Hak Orang, Apalagi Korupsi

KABARIKA.ID, PEKANBARU— Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan pesan keras kepada 3.738 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI): jangan pernah mengambil hak orang lain, apalagi melakukan korupsi. Menurutnya, integritas bukan sesuatu yang baru dibentuk ketika seseorang sudah memegang jabatan, tetapi harus ditanamkan sejak bangku kuliah.

“Jangan pernah mengambil haknya orang. Apalagi korupsi. Jangan. Karena itu akan merusak Anda nanti ke depan. Karakter Anda rusak ke depan,” tegas Mentan Amran saat memberikan kuliah umum dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru dan Masa Ta’aruf (PKKMB & MASTA) UMRI di Pekanbaru, Kamis (17/9).

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan utama Amran dalam kuliah umum bertema “Membangun Kewirausahaan dan Agribisnis dalam Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional”. Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Amran menegaskan bahwa masa kuliah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga momentum membentuk karakter yang akan menentukan perjalanan seseorang setelah memasuki dunia kerja dan kehidupan profesional.

Menurut Amran, kemampuan akademik dan kesuksesan ekonomi tidak akan berarti jika dibangun tanpa kejujuran. Karena itu, ia meminta mahasiswa membiasakan diri bekerja keras, disiplin, bertanggung jawab, dan berani memulai sesuatu secara mandiri.

“Tidak ada orang besar mimpi kecil. Make big dream. Kemudian bertindak. Take action. Anda bertindak, Anda memulai, jangan ragu-ragu. Kemudian persisten, sabar menghadapi semua cobaan. Ujungnya adalah sukses,” ujar Amran.

Amran juga mendorong mahasiswa tidak menjadikan kelulusan sebagai batas untuk mulai bekerja. Ia justru meminta generasi muda belajar mandiri sedini mungkin, termasuk melalui usaha sederhana. Baginya, pengalaman mencari penghasilan secara halal dapat menjadi latihan penting untuk memahami kerja keras, tanggung jawab, dan nilai sebuah proses.

“Mulai belajar cari uang. Bukan nilai uangnya. Kalau perlu jadi tukang batu, kalau perlu berkebun, macam-macam. Jual bakso, jual apa saja. Yang penting halal,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari dorongan Amran agar mahasiswa melihat pertanian dari perspektif yang lebih luas. Sektor pertanian, menurutnya, tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen, tetapi membuka ruang besar bagi kewirausahaan, perdagangan, teknologi, hingga pengembangan produk bernilai tambah.

Amran bahkan menantang mahasiswa untuk melihat sektor pertanian sebagai salah satu sumber lahirnya kekuatan ekonomi. Dalam dialog bersama mahasiswa dan petani yang hadir, ia menyampaikan bahwa banyak pelaku usaha besar Indonesia tumbuh dari sektor tersebut.

“Sepuluh konglomerat Indonesia, delapan dari sektor pertanian,” ujar Amran.

Ia juga mencontohkan mahasiswa yang sejak semester pertama sudah mulai menjalankan usaha penjualan telur dan ayam. Bagi Amran, keberanian memulai usaha sejak muda merupakan pengalaman yang dapat membentuk mental mandiri.

“Anak saya sementara kuliah juga. Dia pengusaha. Dia semester satu. Dia menjual telur, menjual ayam,” ujar Amran.

Namun, Amran menekankan bahwa keberanian berusaha harus berjalan bersama integritas. Apa pun pekerjaannya, kata dia, harus dilakukan secara halal dan tidak mengambil hak orang lain.

“Jangan takut memulai dari bawah. Yang penting halal, jujur, dan mau bekerja keras,” pesannya.

Amran juga mengingatkan mahasiswa untuk menghormati orang tua dan dosen serta menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang lahir secara instan. Setiap pencapaian membutuhkan proses, tekanan, kegagalan, dan ketekunan.

Ia mengibaratkan proses tersebut seperti berlian yang terbentuk melalui tekanan sangat tinggi.

“Berlian lahir dari tekanan 3.500 derajat. Itulah diperebutkan orang. Tapi tidak mau PR, bagaimana? Mau sukses, harus mau berproses,” ujarnya.

Menutup kuliah umumnya, Amran meminta mahasiswa tidak menyia-nyiakan masa awal perkuliahan. Ia mengajak generasi muda menjadikan lima hingga sepuluh tahun ke depan sebagai tujuan yang mulai dibangun sejak sekarang: dengan mimpi besar, kerja keras, keberanian mengambil tindakan, dan yang paling penting, menjaga integritas.

“Camkan hari ini. Anda akan rebut masa depannya nanti 10 tahun atau 5 tahun ke depan. Gunakan momentum hari ini dengan baik,” pungkasnya. (*)

 

Exit mobile version