KABARIKA.ID, JAKARTA– Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat menghadapi musim kering dampak El Nino. Penguatan produksi, pembangunan irigasi, serta kebijakan pupuk yang lebih terjangkau menjadi bagian dari upaya menjaga agar pasokan beras tetap tersedia di tengah siklus produksi pertanian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan kondisi pasokan beras nasional saat ini memberikan ruang yang cukup kuat bagi pemerintah untuk menjaga kebutuhan masyarakat hingga memasuki musim panen berikutnya.
“Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap,” ujar Mentan Amran saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9).
Mentan Amran menjelaskan, gambaran kekuatan pasokan tersebut dapat dilihat dari beberapa sumber. Standing crop diperkirakan sekitar 10 juta ton, sementara beras pada sektor hotel, restoran, dan katering (HOREKA) sekitar 10 juta ton. Selain itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog berada di kisaran 5 juta ton.
“Yang di HOREKA, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti 25–26 juta ton. Kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton,” kata Amran.
Dengan demikian, berdasarkan perhitungan kasar dari komponen tersebut, total pasokan yang disebut Mentan berada pada kisaran 25 juta ton, atau sekitar 25–26 juta ton sebagaimana disampaikan Mentan Amran. Jika dibandingkan dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, angka tersebut secara matematis memberikan gambaran bantalan pasokan yang besar untuk melewati periode antarmusim.
Namun, kekuatan ketahanan pangan tidak semata ditentukan oleh jumlah pasokan yang tersedia saat ini. Produksi harus terus berjalan agar stok dapat dipertahankan dan diperbarui ketika memasuki periode panen berikutnya.
Karena itu, pemerintah memperkuat produksi dari sisi hulu melalui pembangunan infrastruktur pertanian, khususnya irigasi. Presiden Prabowo Subianto pada sambutannya di HUT Partai Pan ke-28 menyampaikan bahwa pemerintah telah membangun lebih dari 1.000 kilometer irigasi.
“Lebih dari 1.000 kilometer irigasi terbangun,” ujar Presiden Prabowo.
Pembangunan irigasi menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kesinambungan produksi. Ketersediaan air yang lebih baik memungkinkan lahan pertanian tetap produktif dan mendukung peningkatan luas maupun intensitas tanam, sehingga pasokan pangan dapat terus mengalir ke depan.
Selain irigasi, pemerintah juga memperkuat produksi melalui kebijakan pupuk. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa harga pupuk berhasil diturunkan, sementara jumlah pupuk yang tersedia justru meningkat.
“Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah,” kata Presiden Prabowo.
Kebijakan tersebut menjadi dukungan langsung bagi keberlanjutan produksi petani. Harga pupuk yang lebih terjangkau dan ketersediaan yang meningkat membantu memastikan petani memiliki akses terhadap salah satu input utama produksi, sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlangsung.
Presiden Prabowo juga menyebut Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam satu tahun. Capaian tersebut berjalan bersama berbagai kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat produksi dan infrastruktur pangan nasional.
Bagi Kementerian Pertanian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menghasilkan pangan pada saat panen raya. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan negara menjaga pasokan di antara satu musim panen dan musim berikutnya.
Dengan produksi yang terus berjalan, irigasi yang semakin diperkuat, pupuk yang lebih terjangkau, serta cadangan dan pasokan yang tersedia, Indonesia memiliki bantalan yang lebih kuat untuk menghadapi periode paceklik.
Kekuatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk bergerak dari sekadar memastikan kebutuhan domestik terpenuhi menuju pengelolaan surplus pangan.
Mentan Amran mengatakan Indonesia kini telah mulai melakukan ekspor beras. Menurutnya, ketika kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dan produksi menghasilkan surplus, pasar ekspor menjadi peluang berikutnya.
“Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?” ujar Mentan Amran.
Pemerintah terus menjaga momentum tersebut agar swasembada tidak berhenti sebagai capaian produksi, tetapi menjadi fondasi ketahanan pangan yang mampu menjaga pasokan sepanjang tahun sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi petani. (*)

