KABARIKA.ID, MAKASSAR — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) masuk tiga besar daerah di Indonesia dengan persentase rumah tangga yang memiliki emas atau perhiasan minimal 10 gram.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat, sebanyak 49,95 persen rumah tangga di Sidrap memiliki aset emas atau perhiasan minimal 10 gram.
Angka tersebut menempatkan Sidrap di posisi ketiga nasional.
Bumi Nenek Mallomo itu berada di bawah Kabupaten Wajo yang mencapai 53,23 persen, dan Nagan Raya 51,31 persen.
Di Sulawesi Selatan, Sidrap juga berada di jajaran teratas bersama Wajo dan Soppeng.
1 tahun 7 bulan dipimpin Syahar, Kabupaten Sidrap jadi daerah sejahtera.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyambut positif data tersebut. Namun, menurut dia, ukuran keberhasilan masyarakat Sidrap tidak cukup hanya dilihat dari kepemilikan aset emas.
“Kalau kita bicara masyarakat Sidrap berhasil, ukurannya bukan hanya berapa banyak emas yang dimiliki. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat kita bisa menghasilkan, punya pendapatan, punya usaha, dan ekonominya terus bergerak,” kata Syahar.
Menurut Syaharuddin, kekuatan ekonomi Sidrap selama ini bertumpu pada sektor-sektor produktif yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga industri penggilingan beras dan industri peternakan modern menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi daerah.
“Sidrap ini daerah agraris. Kekuatan kita ada di pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kemudian bagaimana hasil pertanian kita masuk ke industri penggilingan, hasil peternakan kita masuk ke industri peternakan modern. Di situlah nilai tambahnya kita bangun,” kata Syahar.
Arah tersebut sejalan dengan kebijakan Pemkab Sidrap yang dalam setahun terakhir mendorong modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas, serta integrasi antara sektor pertanian dan peternakan.
Syaharuddin sebelumnya menegaskan pertanian merupakan kekuatan utama Sidrap dan berbagai persoalan petani harus dicarikan solusi bersama. Pemkab juga mendorong program IP300 serta peningkatan produktivitas lahan.
Dalam pengembangan pertanian modern, Pemkab Sidrap bahkan memasang target produksi pertanian mencapai 1 juta ton pada 2026. Pemerintah daerah juga mengembangkan program modernisasi pertanian dan optimalisasi lahan untuk meningkatkan produktivitas.
“Kita tidak ingin hanya menjadi daerah yang menghasilkan gabah. Kita ingin ada nilai tambah. Gabah diproduksi petani, kemudian masuk ke penggilingan, menjadi beras, dipasarkan, dan memberikan nilai ekonomi lebih besar kepada masyarakat,” kata Syahar.
Menurut Syaharuddin, pola yang sama perlu diterapkan pada sektor peternakan.
Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi telur di Sulsel. Pemerintah daerah mendorong pengembangan peternakan yang lebih modern agar produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru bagi masyarakat.
“Begitu juga peternakan. Kita ingin peternak bukan hanya memelihara ternak, tetapi membangun industri peternakan modern. Ada produksi, ada pengolahan, ada pemasaran. Semua harus memberikan nilai tambah kepada masyarakat,” katanya.
Ia menilai tingginya kepemilikan emas di Sidrap dapat menjadi salah satu gambaran mengenai kemampuan masyarakat menyimpan aset.
Namun, emas tersebut menurut dia tidak berdiri sendiri. Kemampuan masyarakat membeli dan menyimpan emas berkaitan dengan aktivitas ekonomi rumah tangga yang terus bergerak.
Data Pegadaian turut menunjukkan kuatnya kebiasaan masyarakat di sejumlah wilayah Sulsel dalam memiliki emas. Kepala Departemen Business Support PT Pegadaian Kanwil VI, Deddy Suryady, menyebut faktor adat dan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu penyebab tingginya kepemilikan emas.
“Jadi itu terkait memang adat, terkait habit masyarakat. Di cabang-cabang kami, yang omzetnya tinggi itu di daerah-daerah tersebut,” kata Deddy saat ditemui Tribun-Timur.com di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (17/9/2026).
Deddy juga menyebut wilayah Sidrap dan kawasan masyarakat Bugis menjadi salah satu daerah yang berkontribusi terhadap bisnis Pegadaian.
“Wilayah Sidrap, wilayah Bugis, sebagian besar di sana yang artinya kita punya omzet memang lumayan berkontribusi di sana,” katanya.
Menurut Deddy, emas juga telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat, termasuk dalam berbagai acara adat dan pernikahan. Kebiasaan tersebut kemudian diwariskan antargenerasi.
Di sisi lain, Syaharuddin ingin capaian ekonomi Sidrap tidak berhenti pada kepemilikan aset, tetapi terus berkembang menjadi produktivitas dan peningkatan kesejahteraan.
Dalam berbagai agenda pemerintahannya, ia menekankan pentingnya kerja nyata masyarakat. Pada akhir 2025, misalnya, Syaharuddin menyebut petani, peternak dan pelaku UMKM sebagai bagian dari penggerak pertumbuhan ekonomi Sidrap.
“Emas itu aset. Bagus kalau masyarakat punya aset. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menciptakan masyarakat yang produktif. Petani sejahtera, peternak berkembang, nelayan meningkat pendapatannya, industri tumbuh, UMKM hidup, lapangan pekerjaan terbuka. Itu ukuran keberhasilan yang ingin kita capai,” ujar Syahar.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong sektor-sektor yang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Sidrap.
“Pemerintah tugasnya membuka jalan. Kita siapkan infrastrukturnya, kita dorong produksinya, kita bantu akses pasarnya, kita datangkan teknologi dan investasi. Masyarakat yang bekerja, pemerintah hadir memberikan dukungan,’ kata Syahar.
Dengan capaian kepemilikan emas yang menempatkan Sidrap di posisi kedua nasional, Syaharuddin berharap aset masyarakat tersebut menjadi bagian dari kekuatan ekonomi rumah tangga yang terus berkembang.
“Orang Sidrap harus kuat secara ekonomi. Bukan hanya punya emas, tetapi punya sawah yang produktif, punya usaha, punya ternak, punya industri, dan punya penghasilan yang terus meningkat,” kata Syahar. (*)

