KABARIKA.ID,MAKASSAR – Sebelum sendok pertama menyentuh bibir, keharuman rempah-rempah yang membumbung bersama asap tipis dari mangkuk saji sudah lebih dulu bercerita. Ia bukan sekadar kuah gurih penghangat tenggorokan, melainkan sepotong memori kolektif masyarakat Sulawesi Selatan yang melintasi lintas batas generasi dan wilayah.
Dari warung-warung sederhana di pelosok Indonesia Timur hingga deretan meja restoran berpendingin udara di ibu kota, Sop Saudara telah menjelma menjadi ikon kuliner nusantara. Namun, jauh sebelum hidangan ini tersaji di mana-mana, ada kisah perantauan, ketekunan, dan racikan keberanian dari seorang putra daerah asal Pangkep: Haji Dollahi.
Jejak sejarah ini berkelok ke era 1950-an. Saat itu, Dollahi muda melangkahkan kaki di kerasnya Kota Makassar untuk mengadu nasib. Tak langsung menjadi pemilik, ia mengawali langkah sebagai pelayan di warung sop daging milik sesama perantau Pangkep, Haji Subair.
Selama tiga tahun, dalam riuh rendah denting mangkuk dan desis kuah mendidih, Dollahi menimba ilmu. tangannya cekatan melayani pelanggan, sementara indrawinya mencatat tiap detail racikan rempah dan memahami ritme selera para penikmat kuliner Makassar.
Pengalaman itu menjadi tempaan yang mematangkan nyawanya sebagai juru masak. Dengan keyakinan penuh, Dollahi memberanikan diri lepas layang-layang: membuka usaha sendiri dengan membawa resep rahasia yang ia sempurnakan. Keputusan nekat itu berbuah manis. Racikan tangannya yang kaya rempah dengan cepat memikat lidah warga lokal, bahkan memikat para pelancong yang singgah.
Ada filosofi mendalam di balik penamaannya. Saat memikirkan identitas untuk usahanya, Dollahi tersengat oleh frasa populer ‘Coto Paraikatte’—sebuah ungkapan dalam bahasa Makassar yang merujuk pada ikatan ‘sesama saudara’. Dari saratnya makna persaudaraan itulah, nama Sop Saudara dilahirkan. Sebuah nama yang diselipi doa bersahaja: agar siapa saja yang duduk dan menyantap hidangan ini, merasa terhubung hangat layaknya keluarga dekat.
Sabtu, 26 September 2026, sang maestro kuliner itu menutup usia dan berpulang ke Rahmatullah. Raga Haji Dollahi boleh jadi telah tiada, namun warisan rasa yang ia ciptakan abadi melintasi zaman. Tiap kali mangkuk Sop Saudara dihidangkan, di sanalah kenangan tentang Haji Dollahi terus bernapas—menyatukan banyak jiwa lewat kehangatan semangkuk kuah rempah. (*)

