KABARIKA.ID, KONSEL– Ketersediaan pupuk bersubsidi untuk petani di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), dipastikan masih mencukupi. Hal itu terungkap saat Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan berdialog langsung dengan para petani dalam kegiatan Rembuk Tani, Rabu (7/10/2026).
Dalam dialog tersebut, Zulhas mengecek kondisi distribusi pupuk sekaligus memastikan petani tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Pupuk bagaimana pupuk?” tanya Zulhas kepada para petani.
Pertanyaan itu langsung dijawab serentak oleh ratusan peserta yang hadir dengan menyatakan bahwa ketersediaan pupuk masih lancar.
Selain pasokan, Zulhas turut menyoroti harga pupuk bersubsidi yang dibeli petani. Ia menyebut pemerintah telah memberlakukan penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak akhir 2025.
“Harga pupuk bagaimana? Baru kali ini harga pupuk bersubsidi turun kan?” ujarnya.
Menurut Zulhas, kebijakan penurunan harga pupuk dan kemudahan akses bagi petani merupakan bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kondisi usaha tani. Kebijakan tersebut juga berjalan beriringan dengan peningkatan harga gabah.
Ia menyebut dampak kebijakan pemerintah turut tercermin dari meningkatnya nilai tukar petani (NTP).
“Ada kabar gembira, nilai tukar petani kita meningkat lagi 131, artinya petani padi, petani jagung alhamdulillah sepanjang sejarah nilai tukarnya paling tinggi sekarang ini, jadi termasuk makmur, berhasil,” kata Zulhas.
Ia menilai perbaikan sejumlah kebijakan di sektor pertanian mulai memberikan hasil terhadap produktivitas dan ketahanan pangan nasional.
“Kebijakan-kebijakan yang tepat terbukti bisa meningkatkan produktivitas, kita swasembada, tidak impor beras lagi,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Pupuk Indonesia, Ninis K. Adriani, mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap penyaluran pupuk bersubsidi.
Menurutnya, berbagai kemudahan yang diberikan kepada petani turut membantu meningkatkan penyerapan pupuk bersubsidi di berbagai daerah.
Secara nasional, hingga 5 Oktober 2026, penyerapan pupuk bersubsidi telah mencapai 70 persen. Jumlah tersebut setara 6.934.553 ton dari total alokasi nasional sebanyak 9.845.686 ton.
Untuk Sultra, realisasi penebusan tercatat 58 persen atau mencapai 77.054 ton dari total alokasi 133.541 ton.
Rinciannya terdiri atas Urea 26.541 ton, NPK Phonska 6.899 ton, NPK Khusus Kakao 6.997 ton, pupuk organik 1.766 ton, dan SP-36 sebanyak 1.225 ton.
Pupuk Indonesia juga masih menyiapkan cadangan pupuk bersubsidi sebanyak 18.208 ton di Sultra per 6 Oktober 2026.
Stok tersebut terdiri dari Urea 4.969 ton, NPK Phonska 11.951 ton, NPK Kakao 882 ton, pupuk organik 44 ton, ZA 156 ton, serta SP-36 sebanyak 206 ton.
Sementara khusus untuk Konawe Selatan, stok yang tersedia mencapai 985 ton. Persediaan itu meliputi Urea 403 ton, NPK Phonska 466 ton, NPK Kakao 109 ton, ZA 6 ton, dan SP-36 sebanyak 1 ton. (*)

