Site icon KABARIKA

Setaria Italica: Bulir Kecil, Warisan Besar, Pangan Leluhur

Penulis Muliadi Saleh : Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

“Menemukan kembali kearifan leluhur Mandar di antara bulir-bulir kecil yang menyimpan harapan masa depan.”

Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, ada sejenis tanaman yang tumbuh bersahaja, seolah tak ingin menarik perhatian siapa-siapa. Batangnya ramping, daunnya menyerupai jagung. Bulir-bulir kecilnya bergelayut di pucuk tangkai, menunduk mengikuti irama angin. Sekilas, ia tampak seperti rerumputan biasa yang tumbuh di antara tanah dan musim. Namun, bagi masyarakat Mandar, tanaman ini bukan sekadar tumbuhan. Ia adalah jejak kehidupan, ingatan tentang perjuangan leluhur, dan warisan pangan yang diam-diam menyimpan kebijaksanaan sebuah peradaban. Mereka menyebutnya “TARREANG”.

Tarreang adalah nama lokal untuk jewawut (Setaria italica), salah satu serealia yang telah lama dikenal masyarakat Mandar sebagai sumber pangan. Jauh sebelum beras mendominasi meja makan, bulir kecil ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pedalaman yang mengandalkan kearifan lokal untuk membaca alam dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Galung Lego, Polewali Mandar, tarreang tumbuh bukan hanya di ladang, tetapi juga dalam tradisi, cerita keluarga, dan keterampilan mengolah makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagaimana dicatat Mongabay  Indonesia (2020) dalam laporan tentang tarreang, pangan ini memiliki tempat penting dalam sejarah kuliner masyarakat Mandar.

Ada sesuatu yang menarik dari cara leluhur memilih makanan. Mereka tidak selalu memiliki teknologi modern, laboratorium canggih, atau buku tentang ketahanan pangan, tetapi mereka belajar langsung dari tanah, hujan, matahari, dan pengalaman hidup. Mereka mengenali tanaman yang sesuai dengan lingkungan, memahami musim tanam, dan mengolah hasil bumi menjadi makanan yang menghidupi keluarga. Dalam kesederhanaan itu, sesungguhnya tersimpan ilmu pengetahuan yang lahir dari kedekatan manusia dengan alam.

Era kini, hampir segala sesuatu bergerak cepat. Pangan datang dari pasar, beras memenuhi gudang, dan makanan modern hadir dalam kemasan yang semakin menarik, sementara sebagian pengetahuan tentang pangan lokal perlahan menjauh dari ingatan generasi muda. Kita sering menyebut keadaan itu sebagai kemajuan, seolah masa depan hanya dapat dibangun dengan meninggalkan masa lalu. Padahal, ada perbedaan antara meninggalkan sesuatu karena tidak lagi bermanfaat dan melupakannya karena kita tidak sempat memahami nilainya.

Tarreang mengajak kita berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan pangan kita. Kitab lalu bertanya berapa banyak kekayaan alam yang telah kita abaikan hanya karena tampilannya sederhana? Berapa banyak pengetahuan leluhur yang kehilangan tempat bukan karena terbukti keliru, melainkan karena kalah bersaing dengan kebiasaan baru? Dan berapa banyak peluang masa depan yang sebenarnya telah lama tumbuh di halaman rumah kita sendiri?

Salah satu keistimewaan tarreang terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan lahan kering dan kebutuhan air yang relatif rendah dibandingkan padi sawah. Sifat ini membuat jewawut berpotensi dikembangkan di wilayah tertentu yang menghadapi keterbatasan air, sepanjang kondisi tanah, varietas, dan teknik budidayanya sesuai. Tanaman ini bukan berarti tidak membutuhkan air, tetapi memberikan pilihan bagi petani untuk mengembangkan sumber pangan yang lebih beragam sesuai karakter lingkungan.

Di tengah perubahan iklim yang membuat pola hujan semakin sulit dipastikan, keberagaman tanaman pangan menjadi semakin penting. Kita tidak bisa menggantungkan seluruh harapan pada satu komoditas, satu jenis lahan, atau satu pola produksi. Ketika suatu wilayah menghadapi kekeringan, pilihan tanaman yang sesuai dengan kondisi setempat dapat membantu mengurangi risiko dan menjaga ketersediaan pangan keluarga. Tarreang, dalam konteks ini, bukan pengganti mutlak beras, melainkan salah satu bagian dari ikhtiar membangun sistem pangan yang lebih tangguh.

Ketahanan pangan sejatinya bukan hanya persoalan berapa banyak beras yang tersimpan di gudang atau berapa ton hasil panen yang tercatat dalam statistik. Ketahanan pangan juga menyangkut kemampuan masyarakat mengenali potensi wilayahnya, mengolah sumber daya yang tersedia, dan memastikan setiap keluarga memiliki akses terhadap makanan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Semakin beragam sumber pangan yang kita miliki, semakin terbuka pula pilihan untuk menghadapi perubahan zaman.

Dalam analisis Laboratorium Biokimia Institut Pertanian Bogor pada 2017 yang diberitakan Mongabay Indonesia pada 2020, sampel tarreang tercatat mengandung protein sebesar 6,78 persen, sedangkan beras putih varietas Ciherang yang dijadikan pembanding memiliki kadar protein 5,54 persen. Data tersebut memberikan gambaran awal tentang potensi gizi jewawut, meskipun kandungan sebenarnya dapat berbeda menurut varietas, kondisi budidaya, dan proses pengolahan. Potensi ini layak diteliti lebih lanjut agar pengembangan tarreang tidak hanya bertumpu pada kebanggaan terhadap warisan leluhur, tetapi juga diperkuat oleh ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan keunggulan pangan lokal sebagai klaim yang berlebihan. Tarreang dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam, tetapi manfaat kesehatannya harus dipahami berdasarkan kandungan gizi, cara pengolahan, dan kebutuhan masing-masing orang. Pangan yang baik bukan sekadar pangan yang diwariskan masa lalu, melainkan pangan yang diproduksi secara aman, dikonsumsi secara bijaksana, dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.

Di dapur-dapur masyarakat Mandar, tarreang menemukan kehidupan keduanya. Bulir kecil itu dapat diolah menjadi makanan tradisional khas : jepa tarreang, sokkol, buras, bubur gula merah, hingga dodol. Ada tangan yang menumbuknya, ada api yang mematangkan adonannya, ada aroma yang memenuhi dapur, dan ada keluarga yang berkumpul untuk menikmati hasil olahan sederhana tersebut. Dalam setiap sajian, pangan tidak hanya menghadirkan rasa kenyang, tetapi juga menyimpan kenangan tentang rumah, orang tua, dan kebersamaan.

Makanan tradisional sering kali menyimpan sesuatu yang tidak tercantum dalam daftar kandungan gizi. Ia membawa cerita tentang siapa yang menanam, siapa yang memasak, bagaimana sebuah keluarga bertahan, dan nilai apa yang diwariskan kepada anak-anaknya. Karena itu, ketika suatu makanan mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari, yang berkurang bukan hanya pilihan menu, melainkan juga kesempatan untuk mengenali kembali akar kebudayaan sendiri. Hilangnya pangan lokal dapat menjadi kehilangan pengetahuan yang jauh lebih luas daripada sekadar hilangnya satu jenis makanan.

Kita tidak harus mengembalikan seluruh pola makan masa lalu untuk menghargai warisan ini. Beras tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia, dan pangan lokal lainnya juga memiliki tempat masing-masing. Yang perlu kita lakukan ialah membuka ruang agar tarreang kembali hadir secara wajar di meja makan, di pasar, di sekolah, dan dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Tradisi akan bertahan bukan karena terus-menerus dipuji, melainkan karena masih digunakan, dinikmati, dan memberi manfaat.

Bayangkan seorang anak Mandar yang mengenal tarreang bukan hanya dari cerita kakek-neneknya, tetapi juga dari kebun sekolah, makanan yang tersaji di rumah, dan produk yang dibelinya di toko. Ia mengetahui bagaimana tanaman itu tumbuh, bagaimana petani merawatnya, dan mengapa leluhurnya menjadikannya bagian dari kehidupan. Dari sana, kebudayaan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dan kuno, melainkan sebagai pengetahuan yang hidup dan dapat dikembangkan.

Menghidupkan Tarreang, Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Melestarikan tarreang tentu tidak cukup dengan menanam beberapa rumpun untuk kepentingan dokumentasi atau perayaan budaya. Petani membutuhkan alasan ekonomi yang masuk akal untuk kembali menanamnya. Mereka perlu mengetahui berapa biaya produksi, berapa hasil panen yang mungkin diperoleh, siapa yang akan membeli, dan berapa keuntungan bersih yang dapat dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tanpa kepastian itu, seruan untuk kembali kepada pangan leluhur berisiko berhenti sebagai slogan yang indah, tetapi tidak menyentuh kehidupan petani.

Langkah awal dapat dimulai melalui kebun percontohan di desa-desa yang masih mengenal tradisi tarreang, termasuk Galung Lego dan wilayah lain yang sesuai di Polewali Mandar. Pemerintah daerah, penyuluh pertanian, perguruan tinggi, kelompok tani, serta komunitas budaya dapat bekerja bersama untuk mendata varietas lokal, menguji produktivitas, memperbaiki teknik budidaya, dan menghitung kelayakan usaha. Pengembangan sebaiknya dilakukan bertahap, dimulai dari skala kecil dengan pasar yang jelas sebelum diperluas ke wilayah lain.

Hasil panen kemudian dapat dihubungkan dengan usaha pengolahan yang dikelola kelompok tani, koperasi, perempuan, dan generasi muda. Tarreang dapat dikembangkan menjadi tepung, makanan ringan, bubur siap olah, atau aneka kue tradisional dengan kemasan yang lebih menarik dan memenuhi standar keamanan pangan. Produk-produk tersebut perlu diuji kepada konsumen, diperbaiki berdasarkan masukan, dan dipasarkan melalui toko oleh-oleh, pasar lokal, restoran, serta saluran penjualan digital. Dengan begitu, nilai ekonomi tidak berhenti pada penjualan bulir mentah, tetapi berkembang melalui proses pengolahan yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan tambahan.

Pemerintah daerah juga dapat memasukkan tarreang dalam program edukasi pangan lokal, promosi kuliner, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Namun, keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari ramainya festival atau banyaknya pengunjung yang datang mencicipi makanan tradisional. Ukuran yang lebih bermakna ialah bertambahnya petani yang memperoleh keuntungan, tumbuhnya usaha pengolahan yang berkelanjutan, meningkatnya pembelian produk, serta munculnya generasi muda yang bersedia meneruskan pengetahuan tersebut.

Di sinilah kolaborasi menjadi penting. Petani memahami tanah dan tanaman, peneliti membantu mengembangkan teknologi, pemerintah membangun dukungan kebijakan, pelaku usaha membuka pasar, sedangkan masyarakat menjaga kesinambungan budaya konsumsi. Tidak semua hal harus dimulai dengan industri besar atau investasi mahal. Kadang-kadang, perubahan yang berarti justru berawal dari satu kebun percontohan, satu kelompok tani yang kuat, satu produk yang disukai konsumen, dan satu pasar yang bersedia membeli secara berulang.

Tarreang mengingatkan kita bahwa kekayaan sebuah daerah tidak selalu tersimpan dalam tambang, gedung tinggi, atau angka pertumbuhan ekonomi. Ada kekayaan yang tumbuh di ladang, tersimpan dalam benih, dan diwariskan melalui tangan-tangan yang tekun bekerja. Kekayaan semacam ini sering kali tidak bersuara keras, tetapi menopang kehidupan dengan caranya sendiri. Ia baru terasa nilainya ketika kita menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan peluang besar bagi masa depan.

Bagi masyarakat Mandar, tarreang adalah bagian dari perjalanan panjang hubungan manusia dengan alam. Bagi Sulawesi Barat, ia dapat menjadi pintu untuk memperkuat identitas kuliner sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Bagi Indonesia, ia mengingatkan bahwa kedaulatan pangan tidak cukup dibangun dengan meningkatkan produksi komoditas utama, tetapi juga dengan merawat keberagaman sumber pangan, pengetahuan lokal, dan kemampuan masyarakat mengolah potensi wilayahnya sendiri.

Maka, menghidupkan tarreang bukanlah ajakan untuk kembali ke masa lalu, melainkan perjalanan untuk mengambil hikmah dari masa lalu dan membawanya menuju masa depan. Kita perlu menanamnya dengan ilmu, mengolahnya dengan kreativitas, memasarkannya dengan strategi, dan menjaganya dengan kesadaran bahwa warisan budaya hanya akan hidup jika memberikan manfaat bagi manusia. Di situlah tradisi bertemu inovasi, kebudayaan bertemu ekonomi, dan kenangan bertemu harapan.

Benih mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Ia ditanam di dalam tanah yang gelap, menerima air tanpa meminta pujian, tumbuh perlahan tanpa mengumumkan jasanya, lalu memberikan buah bagi kehidupan lain. Begitulah seharusnya manusia memperlakukan warisan leluhur: bukan sekadar membanggakannya dalam kata-kata, melainkan merawatnya dengan kerja, mengembangkannya dengan ilmu, dan membagikan manfaatnya dengan ketulusan.

Tarreang mengajarkan bahwa masa depan tidak selalu harus dicari jauh-jauh; kadang-kadang, ia sedang menunggu untuk kita hidupkan kembali dari akar yang hampir terlupakan.

Kita tidak benar-benar mewarisi kekayaan leluhur ketika hanya menyimpan ceritanya; kita mewarisinya ketika mampu menghidupkan manfaatnya bagi generasi yang akan datang.
__________
Muliadi Saleh: ” Menulis Makna, Membangun Peradaban “.

Exit mobile version