KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pemberangkatan dan kepulangan sejumlah jemaah umrah dari Makassar, Sulawesi Selatan, tertunda akibat eskalasi politik di Arab Saudi. Penundaan dipicu serangan terhadap Bandara Riyadh yang membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan demi keselamatan.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan H. Ikbal Ismail mengatakan pihaknya menerima laporan penundaan pemberangkatan jemaah umrah dan langsung menurunkan tim ke bandara untuk mendata jemaah serta travel yang terdampak.
“Kami menerima laporan adanya penundaan pemberangkatan jemaah umrah. Setelah kami bertanya, ternyata penundaan ini dampak dari eskalasi politik yang terjadi di Saudi. Kita ketahui bersama bahwa kemarin ada serangan ke Bandara Riyadh. Akhirnya berdampak kepada pemberangkatan jemaah umrah kita, baik pemberangkatan pulang maupun keberangkatan ke Saudi,” kata Ikbal.
Ia menyebut Kementerian Haji dan Umrah RI tiga hari lalu telah meminta daerah melihat kondisi eskalasi politik di Saudi sebelum memberangkatkan jemaah. Kanwil, lanjutnya, mengimbau pimpinan travel untuk terus memantau perkembangan dan tidak membuka perjalanan umrah jika situasi belum kondusif.
“Kami harap pimpinan travel untuk tidak merugikan jemaah dan tidak merugikan travel itu sendiri, untuk pandai-pandai melihat eskalasi politik di Saudi,” ujarnya, Senin (12/10)
Kanwil juga meminta travel menenangkan jemaah dan segera berkoordinasi dengan maskapai untuk penjadwalan ulang. Jika eskalasi politik di Saudi menurun, travel diminta meminta penerbangan memberangkatkan kembali jemaah.
Untuk jemaah yang masih tertahan di Arab Saudi dan ingin pulang, Ikbal menyatakan belum ada laporan. Pihaknya sedang berkoordinasi dengan pemerintah di sana untuk mendata jemaah yang ingin kembali ke tanah air, terutama ke Sulawesi Selatan.
Ketua DPD AMPHURI Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) M. Azhar Gazali menilai pembatalan penerbangan seperti ini bukan pertama kali. Menurut dia, maskapai tidak mau mengambil risiko besar dan memilih membatalkan penerbangan demi keamanan.
Namun ia menekankan maskapai yang masih terbang tetap bertanggung jawab memulangkan jemaah yang berada di Saudi.
“Jangan hanya memikirkan bahwa kondisi tidak terbang dari sini ke sana tidak aman, tapi tidak memikirkan kondisi jemaah yang berada di sana untuk dipulangkan,” kata Azhar. Ia berharap persoalan ini dipercakapkan dengan pihak terkait, terutama pemerintah.
Azhar menyatakan data jemaah yang tertunda belum final. Laporan baru masuk beberapa jam terakhir dan sekretariat masih mendata jumlah anggota yang menggunakan penerbangan terdampak. Menurut informasi dari maskapai, jemaah yang dibatalkan hari ini insyaallah akan diberangkatkan dalam 1–2 hari. Sementara jemaah yang dijadwalkan dalam sepekan ke depan belum mengalami perubahan skenario.
“Keputusan yang diambil harus keselamatan di atas segala-galanya,” tegasnya.
Ia juga memastikan belum ada pembicaraan mengenai biaya tambahan bagi jemaah. “Kita belum bicara sampai ke sana. Masih melihat situasi kondisi terakhir,” ujarnya. Azhar meminta jemaah tetap tenang dan sabar menunggu informasi terkini dari maskapai dan Tanah Suci. (*)

