Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
Jika Anda menyusuri jalan-jalan di Pulau Jawa, atau mungkin jalan utama di kota tempat Anda tinggal hari ini, cobalah sesekali menengadah ke arah pepohonan di tepi jalan. Barangkali, Anda masih akan menemukan pohon-pohon asam Jawa yang telah tumbuh puluhan tahun, bahkan mungkin lebih dari satu abad. Batangnya kokoh, dahannya merentang, dan tajuknya menaungi jalan yang setiap hari dilalui manusia. Di balik keteduhannya, tersimpan jejak sejarah yang tidak selalu kita kenali.
Pada masa kolonial Belanda, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) banyak dijumpai di sepanjang sejumlah jalur jalan utama. Keberadaannya bukan semata-mata untuk memperindah lanskap, melainkan juga berkaitan dengan kebutuhan praktis perjalanan pada masa itu, termasuk menyediakan keteduhan bagi pejalan kaki, penunggang kuda, kurir, dan serdadu yang melintasi jalan-jalan panjang di bawah terik matahari tropis. Salah satu jalur yang membawa kita pada kisah ini adalah Jalan Raya Pos (De Groote Postweg), proyek pembangunan jalan dari Anyer hingga Panarukan yang berlangsung pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, pada awal abad ke-19. Namun, di balik pohon-pohon yang memberi teduh dan jalan yang menghubungkan banyak wilayah itu, tersimpan kisah tentang strategi kekuasaan, kecerdasan manusia dalam memanfaatkan alam, sekaligus penderitaan rakyat yang ikut menanggung beban pembangunannya. Sebab, terkadang, pohon bukan hanya peneduh perjalanan, melainkan juga saksi bisu sejarah yang belum selesai kita baca.
Pada awal abad ke-19, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos yang membentang sekitar 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan. Jalan ini dirancang untuk mempercepat komunikasi, memperkuat mobilitas militer, dan mengonsolidasikan kekuasaan kolonial di Jawa ketika persaingan kekuatan Eropa, termasuk Inggris, mengancam wilayah kekuasaan Belanda. Dalam narasi sejarah, jalan ini kerap dikenang sebagai pencapaian infrastruktur yang mengubah konektivitas Pulau Jawa. Namun, di balik panjang jalan dan kecanggihan strategi pembangunannya, terdapat kenyataan pahit berupa kerja paksa, penderitaan, dan banyaknya korban dari kalangan penduduk pribumi.
Menariknya, kisah Jalan Raya Pos tidak hanya berbicara tentang batu, tanah, dan kekuasaan. Ia juga menyimpan pelajaran tentang kecerdasan ekologis melalui pemilihan pohon asam yang ditanam di sepanjang jalur tersebut. Pohon ini bukan sekadar penghias jalan, melainkan bagian dari lanskap yang memiliki fungsi praktis dalam mendukung perjalanan pada masa itu. Di sinilah sejarah mempertemukan pengetahuan tentang alam dengan kepentingan manusia, meskipun kepentingan tersebut pada zamannya terutama diarahkan untuk menopang kekuasaan kolonial.
Pohon asam dikenal memiliki akar yang kuat, tajuk yang rindang, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tropis. Dalam pengelolaan jalan, vegetasi perlu dipilih dengan mempertimbangkan stabilitas tanah, ketahanan pohon, keselamatan pengguna, dan pemeliharaan lingkungan. Tajuk yang memberikan keteduhan dapat mengurangi paparan panas bagi pelintas, sedangkan sistem perakaran dan karakter pertumbuhan pohon harus diperhitungkan agar tidak mengganggu badan jalan maupun saluran drainase. Pemilihan vegetasi yang tepat menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur seharusnya tidak memisahkan pertimbangan teknis dari pemahaman terhadap ekosistem.
Buah asam pun memiliki nilai guna. Daging buahnya mengandung asam organik dan vitamin, serta dapat menjadi bahan pangan yang berguna bagi manusia dalam perjalanan panjang. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak mengubah penjelasan yang masuk akal menjadi kepastian sejarah tanpa bukti yang cukup. Fungsi buah asam sebagai sumber pangan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penanamannya secara khusus dirancang untuk mencegah penyakit tertentu pada pasukan dan kuda. Demikian pula, manfaat ekologis pohon asam perlu dipahami berdasarkan karakter biologisnya, bukan semata-mata melalui cerita yang diwariskan tentang masa kolonial.
Di balik kecerdasan teknis tersebut, pertanyaan moral yang lebih besar justru menunggu untuk dijawab: untuk siapa pembangunan itu sesungguhnya dilakukan? Jalan Raya Pos memperlihatkan paradoks pembangunan kolonial, ketika kemampuan organisasi, pengetahuan teknis, dan penguasaan ruang dapat digunakan untuk mencapai efisiensi, tetapi pada saat yang sama mengabaikan martabat manusia. Infrastruktur dapat memperpendek jarak antarkota, tetapi tidak selalu memperpendek jarak antara kekuasaan dan keadilan. Sebuah jalan mungkin berhasil menghubungkan wilayah, sementara masyarakat yang membangunnya justru dipisahkan dari hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Karena itu, pohon-pohon asam tua yang bertahan di sepanjang jalur bersejarah tersebut dapat dibaca sebagai saksi bisu perjalanan zaman. Sebagian masyarakat menghubungkan pohon-pohon tua dengan kisah mistis atau suasana angker. Penjelasan mengenai hubungan langsung antara mitos tersebut dan trauma kolektif akibat kerja paksa tentu memerlukan penelitian sejarah dan antropologi yang lebih mendalam. Namun, secara reflektif, cerita rakyat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat memberi makna pada ruang, benda, dan lanskap yang menyimpan ingatan masa lalu.
Kini, tantangan lain hadir melalui pelebaran jalan, pembangunan kawasan, dan perubahan tata ruang. Pohon-pohon tua berpotensi hilang ketika modernisasi hanya diukur melalui kelancaran kendaraan dan pertambahan kapasitas jalan. Padahal, pohon bersejarah bukan sekadar tumbuhan yang mengisi ruang kosong. Ia merupakan bagian dari warisan lanskap, penyangga lingkungan, sumber keteduhan, dan penghubung antara generasi sekarang dengan ingatan sejarah yang tidak boleh dihapus begitu saja.
Karena itu, pelestarian pohon asam bersejarah mungkin perlu ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan pembangunan. Pemerintah daerah bersama ahli sejarah, arsitek lanskap, ahli lingkungan, dan masyarakat dapat melakukan inventarisasi pohon, memetakan kondisi kesehatannya, mendokumentasikan kisah yang berkaitan dengannya, serta menetapkan perlindungan bagi pohon yang memiliki nilai sejarah. Jika pelebaran jalan tidak dapat dihindari, kajian alternatif desain perlu dilakukan agar pohon yang masih sehat dapat dipertahankan sebanyak mungkin. Modernisasi seharusnya tidak selalu berarti menyingkirkan yang lama, melainkan menemukan cara agar kemajuan dan warisan sejarah dapat hidup berdampingan.
Pada akhirnya, kisah Jalan Raya Pos mengajarkan bahwa kita perlu membaca sejarah secara utuh. Kita boleh mengakui kecerdasan teknik pembangunan masa lalu tanpa membenarkan kekerasan yang menyertainya. Kita dapat mengagumi pohon yang memberi manfaat tanpa melupakan manusia yang pernah menderita di bawah sistem yang melahirkannya. Menghargai warisan bukan berarti memuja masa lalu, melainkan mengambil pelajaran darinya agar kesalahan yang sama tidak diulang dalam bentuk yang berbeda.
Pembangunan sejati bukan hanya tentang seberapa panjang jalan yang berhasil kita bentangkan, melainkan seberapa jauh martabat manusia kita tempatkan di sepanjang perjalanan. Pohon mengajarkan kita tentang keteguhan, akar mengingatkan kita tentang asal-usul, dan bayangan mengajak kita berhenti sejenak untuk bercermin. Di situlah kita menemukan bahwa kemajuan yang kehilangan kemanusiaan hanya akan meninggalkan jejak, sedangkan kemajuan yang berakar pada keadilan akan mewariskan peradaban.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
(Tulisan ini terinspirasi dari video : https://youtu.be/W6_ZUanqW9w?si=UcLMPfPoG8mcAhob)

