Site icon KABARIKA

Kontrak Gas ke Singapura Berakhir 2028, Pupuk Indonesia Bidik Pembangunan Ammonia Hub di Batam

KABARIKA.ID, BATAM – PT Pupuk Indonesia (Persero) membidik peluang pemanfaatan gas alam dari Natuna dan Grissik untuk pengembangan industri petrokimia dalam negeri, seiring rencana berakhirnya kontrak ekspor gas Indonesia ke Singapura pada 2028.
Perusahaan pelat merah tersebut menjajaki pembangunan Ammonia Hub atau pusat industri dan distribusi amonia di Batam, Kepulauan Riau, agar gas alam dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum dipasarkan ke sektor industri dan maritim.

Rencana tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan layanan bahan bakar kapal berbasis amonia di tengah meningkatnya perhatian industri pelayaran global terhadap penggunaan energi rendah karbon.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mulai membahas rencana investasi tersebut bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam dalam pertemuan di Kantor BP Batam, Senin (2/11/2026).

Pertemuan itu dihadiri Kepala BP Batam Amsakar Achmad bersama jajarannya serta manajemen Pupuk Indonesia.
Rahmad mengatakan, pemanfaatan gas alam untuk industri domestik menjadi bagian dari strategi memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang mengembangkan kegiatan industri berbasis gas alam, termasuk produksi amonia yang selama ini menjadi salah satu produk utama Pupuk Indonesia.

“Presiden Prabowo juga menegaskan, sumber daya alam adalah darah kita, yang tentunya harusnya digunakan untuk mengembangkan perekonomian nasional. Pak Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM juga menyampaikan untuk sumber daya gas alam dan yang lainnya itu diutamakan untuk domestik dulu. Nah, Pupuk Indonesia ini adalah perusahaan yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya untuk memproduksi salah satunya ammonia yang sangat-sangat besar,” terang Rahmad, Selasa (3/11/2026).

Pupuk Indonesia Bidik Gas Natuna dan Grissik

Rencana pembangunan Ammonia Hub di Batam berkaitan dengan peluang pemanfaatan gas alam dari wilayah Natuna dan Grissik.

Kedua sumber gas tersebut masuk dalam pertimbangan perusahaan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan amonia.

Peluang ini terutama diperhitungkan apabila pasokan gas yang berkaitan dengan kontrak ekspor Indonesia ke Singapura dapat dialihkan untuk kebutuhan industri dalam negeri setelah 2028.

Namun, pemanfaatan gas tersebut masih membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan pasokan, alokasi pemerintah, serta kesepakatan komersial.

Melalui proyek yang sedang dijajaki, Pupuk Indonesia ingin memperkuat rantai industri amonia mulai dari pengolahan bahan baku hingga kegiatan penyimpanan, distribusi, dan perdagangan.

Keberadaan pusat amonia di Batam juga diharapkan dapat membuka peluang hilirisasi gas alam menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Bidik Peluang Bisnis Bahan Bakar Kapal

Selain mendukung pengembangan industri petrokimia, Pupuk Indonesia melihat peluang penggunaan amonia dalam sektor pelayaran internasional.
Selama beberapa dekade, Singapura telah mengembangkan industri pengolahan minyak dan layanan pengisian bahan bakar kapal atau bunkering sebagai salah satu kegiatan ekonomi strategisnya.

Posisi Singapura pada jalur pelayaran internasional menjadikan kegiatan tersebut bagian penting dari industri maritim negara itu.

Rahmad menilai perubahan kebutuhan bahan bakar kapal dapat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan layanan serupa dengan memanfaatkan potensi gas alam domestik.

Salah satu alternatif yang mulai mendapat perhatian industri maritim adalah amonia sebagai kandidat bahan bakar rendah karbon.

Penggunaan amonia untuk kapal masih membutuhkan pengembangan teknologi, standar keselamatan, dan infrastruktur pendukung.

Namun, sejumlah negara telah mulai mempersiapkan fasilitas untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan energi sektor pelayaran.

Bagi Batam, lokasi yang berdekatan dengan jalur pelayaran internasional menjadi salah satu pertimbangan strategis dalam penjajakan pembangunan pusat amonia.

Kapasitas Produksi Amonia Pupuk Indonesia Capai 7,1 Juta Ton

Pupuk Indonesia memiliki pengalaman dan kapasitas produksi yang menjadi salah satu modal dalam pengembangan industri amonia.

Saat ini, perusahaan mencatat kapasitas produksi amonia sekitar 7,1 juta ton per tahun.

Kapasitas tersebut menempatkan Pupuk Indonesia sebagai salah satu produsen amonia berskala besar di kawasan Asia Pasifik serta dalam perbandingan dengan kelompok produsen di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Amonia selama ini merupakan salah satu bahan penting dalam kegiatan produksi pupuk.

Melalui pengembangan industri hilir, pemanfaatannya juga dapat diperluas untuk kebutuhan petrokimia maupun sektor energi.

Rencana Ammonia Hub Batam diarahkan untuk mengintegrasikan sejumlah kegiatan industri, mulai dari produksi, penyimpanan, hingga penyediaan infrastruktur distribusi.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mengembangkan kapasitas pengolahan gas, tetapi juga menjajaki peluang membangun rantai pasok amonia untuk kebutuhan domestik dan internasional.

Rahmad Pribadi: Nilai Tambah Harus Ada di Dalam Negeri

Rahmad menegaskan bahwa rencana pengembangan Ammonia Hub tidak dimaksudkan untuk menutup peluang kerja sama dengan perusahaan asing.

Sebaliknya, Pupuk Indonesia membuka kesempatan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kemampuan teknologi, investasi, maupun pengembangan pasar.

Menurutnya, tujuan utama proyek tersebut adalah memastikan kegiatan pengolahan sumber daya alam dapat memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar di Indonesia.

Ia menyebut pendekatan itu sebagai industrialisasi sumber daya, bukan sekadar pembatasan pemanfaatannya.

“Sekali lagi, apa yang kami lakukan ini adalah bentuk dari kontribusi kita untuk Indonesia, ini bukan resource nationalism, tapi resource industrialization, artinya hilirisasi. Kenapa ini bukan nasionalisme dari sumber daya alam? Karena kami juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan siapa saja. Yang kita inginkan nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi itu sekali lagi, this is not resource nationalism, this is resource industrialization,” pungkas Rahmad.

Melalui pendekatan tersebut, pengembangan industri tidak hanya diarahkan pada penguasaan bahan baku, tetapi juga kemampuan menghasilkan produk serta layanan yang dapat dipasarkan.

BP Batam Siap Fasilitasi Perizinan dan Lahan

Rencana investasi Pupuk Indonesia mendapat tanggapan positif dari Badan Pengusahaan Batam.

Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan kesiapan pihaknya membantu proses perizinan dan kebutuhan lahan apabila pembahasan proyek berlanjut ke tahap investasi.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya BP Batam mendorong pengembangan industri baru di wilayahnya.

Fary mengatakan fasilitas dan percepatan administrasi dapat disiapkan setelah terdapat kesepakatan serta kejelasan kebutuhan proyek.

“Kami juga akan memberikan percepatan dalam rangka proses-proses selanjutnya, perizinan apabila ada kesepakatan, dan ruang pengelokasian lahan kalau sudah kita adakan. Selain itu, yang paling penting adalah tadi kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia,” ujar Djemy.

Dukungan BP Batam tersebut diharapkan dapat memperlancar proses penjajakan menuju tahap pengembangan investasi.

Meski demikian, rencana pembangunan masih memerlukan pembahasan lanjutan mengenai aspek teknis, pembiayaan, kebutuhan lahan, serta kepastian pasokan gas.

Australia hingga Korea Selatan Kembangkan Ekosistem Amonia

Perubahan arah industri pelayaran global turut menjadi perhatian dalam rencana pengembangan Ammonia Hub di Batam.

Sejumlah negara, termasuk Australia, Singapura, dan Korea Selatan, mulai mengembangkan teknologi maupun fasilitas pendukung penggunaan amonia sebagai bahan bakar kapal. (*)

Exit mobile version